Jumat, 13 Januari 2017

BERSATU DALAM PERBEDAAN

BERSATU DALAM PERBEDAAN
Karya : Abraham S

Kita telah diciptakan dan ditakdirkan bagaikan pasangan,
Dan selamanya pula kita harus berpasangan.

Kita akan tetap bersama ketika menghadapi ancaman maut
Yang bisa merenggut hidup
Kelak bersama pula kita tinggal
Ditempat bermukimnya Sang Khalik yang penuh kedamaian

Tidak perlu menutup rapat ruang-ruang yang memisahkan diantara kita,
Biarkanlah angin surgawi selalu melintas,
Dan memberikan pelajaran menari kepada kita di tempat itu.

Hiduplah saling melengkapi, tapi jangan jadikan itu sebagai belenggu
Biarkan kebersamaan itu terayun bebas
Bagaikan gelombang lincah yang mengalun di semua pantai yang berbeda


Kita memang dapat saling mengisi gelas minuman,
Tapi tidak harus berasal dari satu botol yang sama.
Kitapun bisa salin berbagi nasi,
Tapi jangan selalu dari satu periuk yang sama pula

Marilah bernyanyi dan menari bersama-sama dalam segala suka dan duka
Dan sisakan ruang untuk menghayati dan menghargai
Nilai-nilai pribadi yang luhur

Dengarlah, senar-senar kecapipun mempunyai nadanya sendiri-sendiri,
Meskipun digetarkan oleh petikan tangan yang sama

Marilah kita saling memberi hati, namun jangan saling menguasai
Sebab hanya Tangan kehidupanlah yang bisa membuat semuanya sempurna

Bangunlah, bangkitlah, berdirilah yang tegak dan sejajar,
Namun tidak harus terlampau rapat berdesakan
Lihatlah, pilar-pilar kuil pemujaan,
Juga tidak pernah dibangun terlalu dekat

Lihatlah pohon nyiur dan pohon beringin
Mereka tumbuh bersama, subur, menjulang tinggi, kokoh dan sempurna

Namun masing-masing dari mereka
Tidak pernah merasa tumbuh
Di bawah bayangan dari yang satu dengan yang lainnya.

INDONESIA BERSATULAH Karya : Jeffri Rahmanda Putra Ketika kincir-kincir garam Mulai mengayuh pedalnya Pertanda malam segera tiba Riuh camar laut Geleparan ikan segar tangkapan Menambah ramai Suasana laut sore itu Lelaki tua menyeka peluhnya Dia tersenyum….. Sambil berbisik dia mengucap “ini hasil lautku hari ini” Dia senang, Meskipun rembulan tak lagi mempertontonkan keindahan tubuhnya Mungkin dia malu pada laut Atau terlelap dibalik gugusan bintang Itulah wajah dibalik Negara kita Semampu apa Kita bisa menyatukannya


Karya : Jeffri Rahmanda Putra
Karya : Jeffri Rahmanda Putra

Ketika kincir-kincir garam
Mulai mengayuh pedalnya
Pertanda malam segera tiba

Riuh camar laut
Geleparan ikan segar tangkapan
Menambah ramai
Suasana laut sore itu

Lelaki tua menyeka peluhnya
Dia tersenyum…..
Sambil berbisik dia mengucap
“ini hasil lautku hari ini”

Dia senang,
Meskipun rembulan tak lagi mempertontonkan keindahan tubuhnya
Mungkin dia malu pada laut
Atau terlelap dibalik gugusan bintang

Itulah wajah dibalik Negara kita
Semampu apa
Kita bisa menyatukannya
Ketika kincir-kincir garam
Mulai mengayuh pedalnya
Pertanda malam segera tiba

Riuh camar laut
Geleparan ikan segar tangkapan
Menambah ramai
Suasana laut sore itu

Lelaki tua menyeka peluhnya
Dia tersenyum…..
Sambil berbisik dia mengucap
“ini hasil lautku hari ini”

Dia senang,
Meskipun rembulan tak lagi mempertontonkan keindahan tubuhnya
Mungkin dia malu pada laut
Atau terlelap dibalik gugusan bintang

Itulah wajah dibalik Negara kita
Semampu apa
Kita bisa menyatukannya

KERETA RAKYAT

KERETA RAKYAT
Karya : Ria Amelia

Ular besi ini meliuk tak segagah kemarin
Rutenya kini kerontang yang dulunya ranum dan hijau segar
Penumpangnya makin sesak
Ada pak tani, bu lurah, om pengusaha, masih banyak lagi
Mereka akur?

Kadang akur kalau menyangkut duit
Saling sungkur juga karena duit
Sadarlah kaum penumpang
Kita sama-sama ingin selamat, ingin cepat sampai, ingin tak berhutang
Kita sama-sama menumpang

Apalah salah bila sedari sekarang saling kenal berjabat tangan
Dan bila suatu hari esok
Kereta itu mogok dan merajuk tak mau jalan

Kita semua wahai kaum penumpang
Bersama-sama berani turun menginjak becek dan
Bahu membahu mendorong kereta rakyat itu

AKU, KAU

AKU, KAU
Karya : Jaelani

Apa beda aku, kau?
Aku miskin lagi sengsara
Kau kaya lagi bahagia

Beda apa aku, kau ?
Tubuhku sakit, hatiku sakit
Tubuhmu sakit, hatimu bahagia

Aku, kau apa beda ?
Aku sekolah tak ada biaya
Kau sekolah dengan mobil mewah

Aku, kau beda apa ?
Aku makan dengan keringat
Kau makan dengan nikmat

Aku, kau apa beda ?

PUISI TAK TERBACA

PUISI TAK TERBACA
Karya : Hendri Kurnia

Aku menangis karena kalian tak ingin melihat
Aku tersiksa karena kalian selalu menghina
Aku bersedih karena diriku tak pernah terbaca

Aku terkoyak di antara tumpukan sampah-sampah
berserakan “pernahkan kalian peduli!!!!!!
Aku terinjak-injak dikeramaian dan kegaduhan
Yang selalu kalian ciptakan “Pernahkah kalian peduli!!!!!
Tidak!!!! Aku tau tidak!!!! Kalian tak pernah peduli!!!!!

Bahkan kalian tertawakan aku
Disaat aku meraung, menjerit kesakitan
Diinjak-injak kaki kalian yang begitu kejam
Bahkan dengan kasarnya kalian merobek
Mengkoyak, menyeret tubuhku, hanya demi
Ambisi tak berhati yang slalu kalian inginkan

Lihatlah aku sejenak ! begitu banyak
Keindahan yang ingin kutunjukan
Bacakan aku sebait saja ! karena berjuta
makna akan kusiratkan !

Begitu kotornya aku hingga kalian
Tak ingin menyentuhku walau sesaat
Sangat hinakah aku hingga aku
Tak pantas tuk terbacakan!
Apa karena aku buka tercipta dari tinta-tinta
seorang pujangga
Ataukah karena aku bukan terlahir dari jiwa-jiwa sang penyair
Kenapa !!!! kenapa !!!! kenapa !!!! aku tak terbaca!!!!!

Aku mohon !!! bacakan aku walau sebaik saja
Aku minta !!! lihatlah aku biar sesaat saja
Agar ragaku bisa bahagia di surga

Bila memang aku tak pantas tuk terbaca
Bila aku memang tak menarik walau sekedar tuk dilirik
Ingatlah slalu sedikit pesan dari baitku

Jika kotor dan bersih tak mampu bersatu
Jika hina dan mulia tak dapat bersama
Aku bicara atas nama jiwa
Esok hari takkan pernah ada bahagia

Aku ada dari untaian kata-kata
Jiwa yang terhina
Aku ada tapi tak pernah terbaca

AKU ADALAH MANUSIA PEKERJA

AKU ADALAH MANUSIA PEKERJA
Karya : Bayu Gautama

Aku adalah manusia pekerja
Tanpa alat produksi
Tanpa basis ekonomi

Aku adalah manusia pekerja
Yang bertahan hidup
Dengan perasaan tenaga
Yang ku jual pada pemilik modal

Lalu bagaimana bisa,
Aku bicara soal masa depan
Jika nanti…..
Ketika tenaga ku habis,
Dan keringat kering dari badan
Aku di buang,
Dari rantai produksi yang menghisapku

Aku adalah manusia pekerja
Yang tak mau terus jadi orang kalah
Sehingga kalah
Menjadi keharusan sejarah
Semua harus dirubah !!!

Aku adalah manusia pekerja
Yang punya mimpi untuk hari esokku
Untuk hidup dalam kepastian
Dengan rantai produksi yang bersahabat

Aku,
Kamu,
Kalian,
Kita semua,
Adalah manusia-manusia pekerja
Yang harus turun ke jalan
Dan butuh alat juang
Untuk memerangi pemilik modal
Dalam persembunyiannya,
Di balik represi Negara kelas

AKU MELIHAT SEBUAH BANGUNAN

AKU MELIHAT SEBUAH BANGUNAN
Karya : Bayu Gautama

Aku melihat sebuah bangunan
Lantainya dari tanah
Atapnya bolong-bolong
Karna gentingnya banyak yang pecah

Aku melihat sebuah bangunan
Temboknya retak-retak
Kulit catnya terkelupas
Daun pintunya hilang entah kemana
Meja dan bangkunya keropos
Di telan semangat keingintahuan

Aku melihat sebuah bangunan
Yang pada salah satu ruangnya
Ada segerombolan anak-anak
Bertebaran mengisi bangku-bangku keropos
Bajunya kuning kumal
Dan semuanya ada di balik seragam lusuh

Aku melihat sebuah bangunan
Gedungnya megah dan kokoh
Lantainya dari batu pualam
Daun pintunya besar dari kayu jati
Di dalamnya,
Di atas empuknya kasur busa
Ada seonggok jasad di balik selimut
Pulas
Dibelai lembutnya udara AC

Aku melihat sebuah bangunan
Tapi aku lupa di mana tempatnya