Jumat, 18 November 2016
Jojo dan Juju
Hujan kelihatannya mulai bersahabat, memberi kesempatan pada Jojo dan Juju untuk berkeliling menikmati indahnya pemandangan taman bunga. Sebagai saudara kembar yang akrab, mereka sama-sama mengenakan kaos oblong berwarna biru tua, jeans hitam, topi hitam dan mengenakan sepatu hitam blasteran putih. Nyaris tak dapat dibedakan. Namun hanya 1 hal yang dapat membedakan kedua saudara kembar tersebut, yaitu sifat mereka. Jika Jojo bersifat ramah tamah dan banyak bicara, maka berbeda dengan Juju yang sangat pendiam dan jarang sekali berbicara.
Asyik menikmati pemandangan di tengah taman, Jojo melihat seorang gadis yang sedang duduk santai di bangku-bangku taman sambil bersandar di sebuah pohon yang besar.
“Ju ada gadis tu ju, mangsa baru. Yuk deketin” kata Jojo mengajak Juju untuk mendekati gadis yang duduk di tengah taman itu. Gadis yang memakai selendang merah muda, bergaun coklat dan berambut diikat satu rapi sekali.
“Aduhai, dilihat dari belakang saja anggun banget, apa lagi dari depan” Jojo mengkhayal. Jojo pun memaksa saudara kembarnya untuk langsung menemui gadis itu. Jojo menyuruh Juju untuk membuat puisi romantis untuk dipersembahkan pada gadis itu.
“Emoh lah Jo, aku males. Uwes lah ora usa ngegombal. Engko kuwe seng nyesel (enggak lah jo, aku malas. Sudahlah enggak usah ngegombal. Nanti kau yang nyesel)” kata Juju dengan logat jawanya. Namun Jojo tetap memaksa. Akhirnya Juju pun membuat puisi alakadarnya untuk gadis itu.
“Oh gadis yang menyandarkan tubuhmu di sebelah pohon. Engkah sangat Anggun sekai. Tubuhmu yang wangi, rambutmu yang indah. Ingin ku bisa memiliku, oh gadis berselendang merah muda. Maukah kau berkenalan denganku?” Jojo membacakan puisi untuk gadis itu. Gadis itu pun langsung membalikkan tubuhnya. Dan apa yang terjadi? Alangkah kagetnya Jojo ketika melihat gadis itu berbalik ternyata yang didapati adalah seorang banci tua yang giginya tinggal dua. Dan tersenyum-senyum pada Jojo.
“Ichh aa romantis banget eeke jadi terharu” kata banci itu.
“BUSYETT… kemana bidadari gue tadi kok berubah jadi siluman gini. Ampun Dj” kaget Jojo setengah pingsan.
“Rasain lu Jo, akibat kebanyakan gombal” ejek Juju.
Gara Gara Amplop
“hei, hei, anak baru, siapa nama lo?”
“nathan”
“setan? Buset dahh, yang gue tanya nama bukan wujud lo.”
“nathan woi, nathan”
“oh, santan, lo blasteran, ya?”
“iya, ayah gue dari inggris, ibu gue dari madura, takye”
“pantesan muka lo mirip mr.b ean gitu”
“lucu, ya?”
“idiotic”
“jangan mengobrol di jam pelajaran saya”. Seketika itu gue pun terdiam, tertunduk malu, membisu. Terdengar kikikan kecil menahan tawa.
“kikikikik” tawa kecil yang seakan sedang mengamatiku, menunggu gue lengah dan menerkam.
“eh santan, nama gue nico, salam kenal, ya”
Gue masih terdiam, tak mau menatap, gue seakan lagi bermain pura-pura mati yang sedang berhadapan dengan seekor harimau buas yang sedang lapar, gue harus fokus dan mendalami karakter gue sebagai.. Orang mati agar gue tak dimangsa olehnya, tak percuma gue pernah main film layar lebar, walau Cuma jadi maling ketangkep. Gue angkat tangan gue menandakan oke ke nico. Tak ingin gue abaikan senyuman manis di bibirnya.
Belum genap satu jam gue berada di ruangan ini, gue sudah mengalami dua nasib yang berbeda. Gue Tak menyangka akan berhadapan langsung dengan guru terkiller dalam sejarah ketamandunan sekolah ini. Sekolah negeri acak adul. Takdir memaksa gue untuk selama 3 tahun kedepan harus mendiami sekolah busuk ini, busuk? Kenapa busuk? Gue gak tahu, mungkin karena gue sudah muak dengan namanya sekolah dan rutinitas yang mengkungkung gue dalam kebosanan sebagai seorang pelajar. Tapi hari ini berbeda, hari ini begitu cerah, begitu sejuk. Senyuman ketusnya yang membuatku merasa sekolah busuk ini seakan taman penuh bunga yang harum mewangi. Takdirlah yang memaksa orangtua gue untuk menetap di sini, takdirlah yang membuat gue berada disini, takdirlah yang menuntun gue agar masuk ke sekolah ini, dan oh takdir kenapa kau buat perut gue seperti ini disaat yang tidak tepat, saat senyumannya hadir menyapa. Oh iya, nasi goreng tadi pagi, nasi goreng tak biasa dari bu yanti, tempat sarapan biasa gue, beliau sedang uji coba resep dari chef juna dan gue yang pada awalnya merasa bangga menjadi pelanggan pertama mencicipinya harus menanggung akibatnya sekarang, perut gue membludak bak krakatau yang tak kuat menahan gejolak magma di dalamnya. Ini tak bisa dibiarkan, rasa tak tahan ini perlahan menjajah gue, dan ini harus segera dihentikan, sebelum keceplosan.
“bu saya mau izin keluar, darurat”
“emang kamu mau ngapain?”
“please bu, jangan kepo, ini darurat” entah apa yang telah gue lakukan, gue seketika menjadi alay, apakah ini dampak kalo kita sedang dalam kondisi kritis? gue tak bisa mengkotrol apa yang gue katakan, kata-kata itu terlintas begitu saja.
“oh begitu, ya sudah, kamu gak saya izinkan”,
“waduh bu tapi”,
“gak ada tapi, kamu gak boleh ke luar sebelum jam pelajaran selesai”,
Tamat. Hidup gue tamat. Sampai kapan gue bisa menahan panggilan ini? Konyol, ini konyol sekali dihari pertama sekolah gue harus melakukan perbuatan mengerikan seperti ini.
“hei, santan, emang lo mau ngapain? Kebelet ya? Hihi”. Gue mencoba menjawab sebisa gue, mengaturnya agar tak terjadi tindakan kriminal yang membuat hidup gue gawat. Gue Cuma bisa mengangguk. Gue Cuma bisa mengharapkan mukjizat datang sehingga ibu guru yang tak berprike-belet-an di depan ini bisa pergi menjauh dari hadapan gue.
“anak-anak buka buku halaman 171, dan kerjakan tugasnya, ibu mau ke ruang kepala sekolah”, apa ini? Miracle macam apa ini? Sejenak setelah gue memikirkannya kenapa kejadian ini terjadi? Kesempatan ini tak boleh gue lewatkan. Secepat kilat setalah dia pergi, gue pun langsung ngacir keluar kelas. Layaknya seorang tentara yang sedang diberi mandat untuk menyelesaikan misi, misi penting bagi gue. Namun sayangnya tentara tak seharusnya pergi tanpa peta. Gue baru di sekolah ini, dan gue tak pandai dalam membaca tempat, sekolah ini cukup luas buat gue untuk tersesat dan lupa jalan pulang.
“kalo wc ada di bawah sana” tanpa basa-basi lagi gue langsung menuju tempat yang ditunjukkan olehnya. Gue bahkan tak menoleh saat dia memberi petunjuk tadi, sungguh tak sopan perbuatan gue.
“gimana? Lega, ya?”
“lega! nico? Ngapain lo disini? Lo ngintipin gue ya?”
“enak aja, gue juga punya selera kali, lo harusnya terima kasih” oh iya, gue memang tak menoleh tadi, tapi suara lembut itu gue ingat.
“oh iya, thanks ya, gak masuk?”
“sudahlah, kita ke kantin yuk, lo kan gak baru disini jadi biar gue kasih tau tempat makan yang asik”
“lah, tapi guru tadi?…” tak selesai gue berbicara gue langsung diseret olehnya, sungguh perempuan yang energic. Gue pun terpaksa mengikutinya.
“nih, lo harus coba nasi goreng disini. Tjakep dah pokoknya”.
“nasi goreng? Oh no, gue troma, ntar kebelet lagi”
“haha beda lah, ini lebih super lagi”
Dari kejauhan gue merasakan there’s something special yang lewat, dan dia pun menghampiri gue, gue gugup, siapakah sebenarnya dia? Tak pernah gue lihat parasnya. Namun, hati ini langsung berdetak, ya, itu karena gue masih hidup, tapi detakkannya begitu berirama bukan dangdut bukan pula seringai, inikah nada cinta?
“hei, lagi ngapain”
“lagi boker!” jawab nico ketus ke cewek itu, mereka saling kenal? Sepertinya iya, siapa yang tak kenal nico, cewek tomboy di sekolah ini, kebanyakan pria takut dengan dia. Bukan karena dia kuat, tapi lebih karena pesonanya, mungkin begitu, dan gue harap begitu.
“ih, jorok deh, hei, kenalin gue sarah, lo anak baru itu ya? lo temannya nico?” tanpa babibu cewek itu langsung menodong gue dengan sederet pertanyaan itu, gue terdesak, gue Cuma bisa mengangguk pelan. Seketika itu gue salah tingkah, sial, kenapa kebiasaan ini tak bisa hilang. Yang gue lakukan sekarang hanya melahap makanan yang terabaikan tadi. Gue merasa saat itu sekolah tak semenyeramkan yang selalu gue bayangkan. Dua peri cantik sedang berada di hadapan gue. Mimpi apa gue semalam.
“lo nanya mulu, kayak pembantu baru aja, nathan kenalin ini, sarah, sarah ini nathan”
“yo” jawab gue cuek, sambil masih mengunyah nasi goreng yang mantep itu. gue sebenarnya gak lapar, tapi kalo lagi grogi gue makannya suka banyak. Atau mungkin gue doyan. sarah merupakan teman baik dari nico, mereka selalu bersama dalam suka duka, berbagi segalanya. *quotedbyceribel
“nic, lo ingat kan boneka suju yang kemaren, itu lucu banget, gue pengen beli…” tak lama kemudian, pembicaraan beralih dari nasi goreng menjadi gosip tentang siwon dan konco-konconya itu. agak risih sih gue dengarnya, soalnya gue gak terlalu suka suju.
“suju itu keren, ya, soalnya kalo mereka konser pasti panggung rame, kayak lagi demo hehe” kata gue garing,
“oh” respon mereka berdua hampir bersamaan, gue merasa nasi goreng di depan gue sedang mentertawakan gue. Langsung saja mereka gue makan, ato mungkin gue doyan.
“oh iya, kita gak masuk nih?” tanya gue ke nico, karena gue baru sadar kalo gue udah setengah jam meninggalkan kelas, bisa-bisa mati gue diremuk ama guru killer itu, kalo ketahuan gue lagi nongkrong disini.
“ah tenang aja, gak usah takut, ibu itu lagi sama pacarnya, biasanya sih lama, tuh liat” kata nico sambil menunjuk ruang guru, terlihat ibu itu sedang bersama seorang lelaki paruh baya dengan setelan jas rapi, lengkap dengan dasi khas seorang eksekutif muda, tak lupa ramput yang diatur bela pinggir style andika kangen band, sungguh gaul.
“kok lo bisa tau?” tanya gue bingung
“ya iya lah, yang nyuruh cowok itu datang kan gue, dia itu sepupu jauh gue, gue sering nyuruh dia kesini kalo gue lagi bete di kelas”.
“lo ngelakuin ini buat gue?”
“jangan ge er an deh, kan dah gue bilang kalo gue bete”
“waduh thanks berat yah, gue traktir deh hari ini.”
“beneran? Bu, bungkus dua ya?” sarah langsung mengambil kesempatan.
Pembicaraan ini pun berakhir seiring bunyi bel msuk pun berbunyi.
Setelah beberapa hari disekolah ini, gue mulai membiasakan diri dengan lingkungan, dengan tingkah nico yang sering keluyuran pas jam pelajaran, dengan obsesi si centil sarah sama suju yang buat kepala gue pusing, sampai amukkan beringas dari si guru killer, gue udah mulai terbiasa sekarang.
“nic, udah belajar belom buat ujian besok?”, tanya gue ke nico
“emang ada ujian apa?”, sungguh polos tampangnya disaat akan ujian dari guru terkiller, dia bahkan tidak tahu itu ada.
“yaelah, pulang nanti kita belajar dulu lah”
“oke, tapi lo harus ikut gue ya”
“kemana?”
“want to knowww, aja hihi” kalo udah ngeliat nico seperti itu gue hanya bisa nurut apa keinginannya. Tak mau gue kacaukan kebahagiaannya.
Sepulang sekolah, anak-anak sudah pulang, tapi tidak untuk gue dan nico yang masih sibuk dengan soal-soal materi ujian dari si ibu killer.
“ah bete nih, gue ajak sarah yah”,
“bawa makanan”
“makan aja pikiran lo”. Nico memang tak terlalu pandai dalam bidang akademik, makanya gue harus menolongnya, tapi di sisi lain dia cukup jahil untuk melakukan perbuatan aneh yang menarik. Dan gue tak terbayangkan saat nico berimajinasi mau mencuri soal-soal ujian si ibu killer. Ah, what kind a joke is it.
“gimana, mau gak? kita pinjam sebentar doang, ambil soalnya, foto kopi, belajar di rumah, terus besok balikin, gampang, kan? Ibunya juga gak tau, kalo dia marah, kan gue bisa panggil om gue buat ngademinnya hehe, gimana?” liar sekali pikiran perempuan ini, tak sanggup belajar dia ajak gue untuk mencuri. Dan gue pun tak tahu kenapa menyetujui rencana itu, karena gue lihat itu cukup menarik, gue ingin melakukan sesuatu yang belum pernah gue lakuin sebelumnya. Tapi gue gak menyangka kejadiannya bakalan menjadi serumit itu.
“sekarang kita harus mengambil soalnya tanpa harus ketahuan oleh penjaganya” jelas nico layaknya seorang komandan perang yang sedang menyusun rencana penyusupan.
“lo pernah ngelakuin ini, nic?” tanya sarah khawatir, wajahnya pucat.
“belum” jawabnya polos.
“muke gile, lo mau nyari mati, kita masih amatir nih, ntar kalo ketangkep gimana?” gue mulai merasa pesimis,
“gue kasih tau ya, kalo mau dapat sesuatu yang belum pernah lo dapatkan, lo juga harus ngelakuin yang belum pernah lo lakuin” kata nico sembari membaca tulisan yang tertera di dinding kelas, gue sampai lupa slogan itu memang terpampang disana sejak gue masuk disini. Benar juga apa yang dikatakannya. Akhirnya gue pun hanya bisa pasrah dan mencoba optimis rencana ini akan berhasil. Sarah yang tadi pucat tiba-tiba menjadi bersemangat, tak gue sangka kata-kata nico bisa membangkitkan semangat kami, nico pasti punya gen mario teguh.
“lo pada tau kan apa yang harus lo lakuin? Nathan lo jaga pintu, kalo ada yang mendekat sebisa mungkin lo halangin, bagaianapun caranya”
“walau harus mati?”
“iya”
“siap kapten” gue sudah seperti seorang pasukan berani mati yang siap bertempur
“sarah, lo awasin nathan ntar dia kebelet lagi, hihi dan gue yang akan mencari dan mengambil soanya, oke?”
“oke kapten” gue gak tau kenapa sarah sangat bersemangat mengawasi gue,
Lima belas menit saat itu merupakan lima belas menit terlama sepanjang hidup gue, kalo nico ketahuan, gue mati. Penuh keringat gue demi tugas yang sepele ini. Dan akhirnya nico pun ke luar dengan dua amplop berada di tangannya. Dia berhasil, tapi kok ampopnya ada dua?
“kok dua?”
“gue gak tau yang mana, gue ambil aja dua-duanya yang ada di meja beliau, ya udah simpan nih dua-duan, kita tinggal balikkin dua-duanya kan?” nico mengatakan itu seolah semuanya segampang itu, tapi untuk saat ini, gue pikir tugas ini memang gampang. Setelah itu, kami bertiga berniat merayakan keberhasilan ini dengan makan siang bersama di kafe dekat sekolah, tempatnya nyaman, murah dan pastinya, wi-fi gratis. Setelah asik mengobrol, makan dan wi-fi gratisan di kafe tersebut kami pun pulang untuk mengerjakannya di rumah.
Namun, kebodohan gue membawa malapetaka, gue menghilangkan amplop berisi soal-soal tersebut.
“apa!!?” teriak mereka hampir bersamaan, dan gue yakin ini bukan saatnya untuk cengengesan gak jelas,
“sorri, gue lupa naronya dimana, kayaknya ketinggalan di kafe tadi deh, tenang-tenang, kalo hilang, lo bisa minta om lo buat ngobrol sama ibu killer itu kan, nic?” tanya gue mencoba menenangkan mereka.
“masalahnya, om gue lagi di luar kota, gak lagi disini”
“waduh gimana nih? Ini semua salah elo, kenapa lo bisa seteledor itu sih, kita kan jadi dalam bahaya gini” sarah pun semakin panik.
“sori sori, gue gak sengaja, kalo masalah ini selsai gue beliin lo boneka suju deh” bujuk gue agar sarah berhenti khawatir.
“ini bukan masalah boneka suju nathan”
“plus nasi goreng?”
“lo gak salah kok” muka sarah pun langsung berubah senang.
“ya udah sekarang gimana caranya tuh amplop balik lagi, kita cari di cafe itu dulu” gue pun mencoba menebus dosa gue dengan berusaha mncari amplop penuh masalah itu.
“mbak, lihat dua amplop warna cokelat gak tadi?” tanya gue ke pelayan di cafe tersebut
“oh amplop cokelat, yang ini mas?” dari kedua amplop yang dibawa nico satunya berisi soal, tapi yang satu lagi gue gak tau karena kami gak pengen bukanya, tapi amplop yang itu bukanlah yang kami cari, sepertinya tertukar. Disana tertulis nama seseorang, Jack, dan tiket kereta api keberangkatannya.
“ini plan b kita karena kita telah gagal menjaga amplop itu, plan nya kita harus ambil kembali amplop itu, kita sudah punya nama orang tersebut dan tujuan dia sekarang” kata gue meniru kata-kata di film-film laga, bukan laga indosiar.
“dimana?” tanya nico
“disini tertulis, kampung rambutan, bali”
“haaah? Kita akan mengejar dia sampai ke bali?” sarah yang tadi keliatan panik malah tambah panik, gue sekarang tahu gimana ekspresi orang panik yang lagi panik, sungguh aneh.
“oh, sori, itu tempat dia lahir, lo ada peta gak?” tanya gue serius ke nico
“ada nih, untung gue bawa” gue juga enggak tau kenapa gue bawa peta.
“kayaknya dia bakalan pergi kesini deh” kata gue sambil menunjuk satu kota yang namanya sama seperti tiket yang tertera di dalam amplop itu. untungnya keberangkatannya jam 8 malam, jadi kami masih memiliki waktu untuk menjemputnya dan menukarnya.
“oke jam 7 kita sudah kumpul disini, terus kita ke stasiun kereta api ini, terus temui orang itu”
“terus cara kita mengenali orangnya?”
“gampang, tulis aja di karton nama orang itu, terus lo jalan-jalan nyari orangnya, kayak orang bego, siapa yang mau peran itu?” tanya gue. mereka berdua tersenyum.
“siapa lagi, yang punya tampang idiotic” kata nico ngeledek gue.
“okelah, gue yang nyari nya, puas lo”, kami pun tertawa, lalu gue tertegun
“apa lagi yang lo pikirkan?” tanya nico yang sudah gak sabaran.
“plan ini namanya apa ya?” kata gue bego
“yaelah, gak penting juga kali, dasar idiotic” kami bertiga pun cengengesan kembali.
Setelah rencana tersusun rapi, kami pun berangkat ke stasiun yang dituju, gue sudah siap terlihat bego untuk malam ini, yah semua itu demi gue gak diremuk sama si ibu killer itu.
Setelah setengah jam muter-muter gak jelas, gue masih saja belum menemui orang tersebut, lalu gue melihat pacarnya si ibu killer, dengan nametag masih tergantung di leher layaknya mahasiswa baru di opdik, gue menghampiri dia.
“lah, kenapa ada nama saya disana?”
“lah, ini nama bapak? Beneran ini nama bapak? Bapak tadi makan di cafe dekat sekolah acak adul?” gue langsung membombardir bapak itu dengan pertanyaan-pertanyaan yang bahkan bernapas pun dia tak gue beri kesempatan. Karena takut beliau sesak nafas akhirnya gue diam, memberi ruang dia berbicara.
“iya, itu saya, emangnya kenapa?”
“haduh, syukur pak, saya sudah mencari bapak dari tadi, ini, amplop saya ketukar sama amplop punya bapak” lalu gue menukar dua amplop itu dengan punya bapak itu, dan anehnya bapak itu pun tak menyadari bahwa amplopnya ketukar. Tak lama berselang, sarah dan nico datang
“sori, nath, gue telat. Eh, om J” kata nico
“lah, nic, lo kok gak kenal sama om lo sendiri” tanya gue kesal
“kan udah gue bilang om j ini saudara jauh gue, mana gue tahu nama lengkapnya jackurudin” dan akhirnya kami pun dapat membawa amplop itu ke rumah dan belajar untuk ujian besok.
Keesokan harinya gue dapat kabar kalo si ibu killer gak masuk hari, dia lagi cuti ada urusan mendadak ke luar kota. Dan ujian pun dibatalkan.
“ah sial, udah capek-capek kita ngambil soalnya eh malah dibatalin” kata nico bete
“ahah yah inilah akibatnya kalo mau berbuat curang” kami pun cengengesan,
“eh iya, amplop yang satu lagi itu isinya apa sih? Udah pada lo liat belum sih?” tanya sarah
“nah iya, gue juga belum liat tuh” kata gue dan nico hampir berbarengan
“kok barengan gitu? Ciyeee” muka gue pun memerah.
“sudahlah kita liat aja, nath, mana amplopnya?” nico pun mencoba mengalihkan pembicaraan.
“iye sabar, gue ambil dulu.” Gue pun mencari-cari amplopnya di tas gue
“eh, mana yah, kok gak ada?”
“APAAA”
Gue cuma bisa cengengesan gak jelas.
Miripis Membawa Kenangan
Tadi 5 jam 56 menit 45 detik yang lalu. Terjadi hujan yang debitnya tidak terlalu deras atau biasanya orang-orang nyebutnya itu hujan miripis. Akibat hal itu diriku yang terbilang manja tak tahan dengan kehadiran si miripis. Terpaksa diriku yang sedang asik menunggangi si jelug kendaraan roda dua saya harus menepi ke bahu jalan. Ya memang kebetulan bangunan di bahu jalan yang saya singgahi untuk sementara handal sekali menangani si miripis. Tak sehelai buluku yang basah kuyup. Semua serangan miripis dari barat, timur, selatan, utara ditangkis bangunan ini.
Dikala menunggu si miripis menciut kaya gini tu. Entah kenapa aku serasa mengingat kenangan-kenangan pahit manis with si dia. Ya emang kenangan dikala itu aku terjebak miripis hanya berduaan with si dia. Sweet memories bangeut lah. Dia yang ngertiin aku dikala kedinginan memberi kehangatan membuat hati sanubariku kembali bergejolak. Pertama ku bertemu si dia. Si dia lagi duduk anggun di pojok beralaskan batu bata yang tersusun rapi untuk menopang berat tubuh si dia. Dengan jari yang lihai dan licin memainkan telepon gengamnya menambahkan kesan angkuh semakin enggan diriku untuk berucap. Padahal ku ingin sekali berucap sepatah atau dua kata padanya.
Ku berdiri dan membusungkan dada
“e…” sepatah hurup yang keluar dari mulutku .
Ternyata diriku tak mampu
Karena diriku enggan memotong keasikan dia main handphone. Mungkin ku harus menunggu. Ku terus menatapnya, si dia masih main hp. Ku tetap menatapnya, si dia terus main hp. Ku masih dan masih terus menatap si dia, si dia masih dan masih main hp. Lama-lama kusaya telen juga hpnya. Da si dia mah gitu gak pernah ngertiin sinyal-sinyal yang kulontarkan ke diri si dia.
Eitttet etetetet akhirnya saat ditunggu tiba si dia tidak terfokus lagi dengan layar handphonenya. Saatnya momenku untuk berucap
“mang 10 rebuen we” ujarku
“Di ladaan t?”
“Sa sendok we”
Segerrrr hujan-hujan makan cuanki coy hehehe
Begitulah ceritaku bertemu si dia tukang cuanki
Terima kasih telah meluangkan waktu kalian atas membaca tulisan ini
Taqqurngacostory
Buah Jatuh Tidak Jauh Dari Pohonnya
Ada yang bilang dimasa KKN adalah masa terindah selama kita kuliah.. bisa jadi itu benar, bisa juga tidak. Mungkin tergantung dari orangnya disaat kapan ia merasakan masa itu terindah. Atau bahkan ia tidak pernah merasakan masa terindah sama sekali selama duduk di bangku kuliah. Wuahh.. parah ya. mungkin orang tersebut tidak tau cara menikmati dan merasakan keindahan dalam hidupnya. Atau mungkin orang tersebut hidupnya selalu datar membosankan dan tidak menarik… kasian ya… kalau gue sih lebih baik ke tower aja panjat kalau sudah agak tinggi lompat aja… cara cepat mempersingkat penderitaan…
Kalau hidup gue sih beda beda tipis… ya.. kadang membosankan, menyebalkan kadang juga memprihatinkan…! kenapa tidak, gue yang hidup serba pas-pasan ini memang sangat memperihatinkan… Sudah ekonominya memang pas-pasan ee ditambah lagi penderitaan dengan muka yang pas-pas gak lebih..!! wuaahh kalau gini sih gue jatuhin diri sendiri nihh.
Tapi jujur semua itu gue pahami semenjak gue dikeluarin dari rahim orangtua gue… katanya sih, gue waktu kecil emang udah begini berarti dapat kita simpulkan bahwa muka pas-pasan ini memang telah ditakdirkan kepada gue semenjak gue lahir di muka bumi… kasian banget ya… tapi setelah melihat kenyataan dan realita di lingkungan keluarga gue ternyata gue baru sadar, saudara-saudara gue semuanya hampir sependeritaan sama seperti gue. Semuanya menderita karena hidup dengan muka pas-pasan…
Sekali lagi dapat kita simpulkan bahwa yang menjadi pusat permasalahan pembahasan kali ini adalah karena gue bersaudara memiliki orangtua yang mewariskan semua itu kepada anak-anaknya. Sehingga terciptalah penerus yang semuanya tidak jauh dari pohonnya. Jadi mengingkari penderitaan ini sama halnya mengingkari warisan nenek moyang gue. Sehingga selayaknya penerus yang baik dan bijaksana harus tetap bersyukur dengan warisan yang telah diberikan kepada gue…
Pertanyaan gue sekarang adalah, apakah gue harus mewariskan hal ini kepada penerus gue nantinya..?
Kalau hidup gue sih beda beda tipis… ya.. kadang membosankan, menyebalkan kadang juga memprihatinkan…! kenapa tidak, gue yang hidup serba pas-pasan ini memang sangat memperihatinkan… Sudah ekonominya memang pas-pasan ee ditambah lagi penderitaan dengan muka yang pas-pas gak lebih..!! wuaahh kalau gini sih gue jatuhin diri sendiri nihh.
Tapi jujur semua itu gue pahami semenjak gue dikeluarin dari rahim orangtua gue… katanya sih, gue waktu kecil emang udah begini berarti dapat kita simpulkan bahwa muka pas-pasan ini memang telah ditakdirkan kepada gue semenjak gue lahir di muka bumi… kasian banget ya… tapi setelah melihat kenyataan dan realita di lingkungan keluarga gue ternyata gue baru sadar, saudara-saudara gue semuanya hampir sependeritaan sama seperti gue. Semuanya menderita karena hidup dengan muka pas-pasan…
Sekali lagi dapat kita simpulkan bahwa yang menjadi pusat permasalahan pembahasan kali ini adalah karena gue bersaudara memiliki orangtua yang mewariskan semua itu kepada anak-anaknya. Sehingga terciptalah penerus yang semuanya tidak jauh dari pohonnya. Jadi mengingkari penderitaan ini sama halnya mengingkari warisan nenek moyang gue. Sehingga selayaknya penerus yang baik dan bijaksana harus tetap bersyukur dengan warisan yang telah diberikan kepada gue…
Pertanyaan gue sekarang adalah, apakah gue harus mewariskan hal ini kepada penerus gue nantinya..?
Gila Part 2
Rian yang bingung akan tingkah Dion akhirnya bertanya, “Kenapa sih? Lo lupa ngerjain PR? Semalem lo nggak belajar karena hari ini ada ulangan? Atau.. kaki lo gue injek? Tapi mana mungkin, gue duduk di meja sementara lo duduk di kursi.”
Ray dan Efendi yang mengetahui kenapa Dion menjadi salah tingkah, membulatkan mata. Sampai mata mereka hampir copot dari tempatnya. Begitupula dengan murid yang ada di kantin.
“Anu, itu… ishh apaan sih itu lohh…” Ucap Dion latah yang masih berusaha menutupi wajah dengan telapak tangannya.
Rian mengaduh, “Anu itu apa? ngomong yang jelas. Jangan bisu mendadak.” Rian mengedarkan mata ke penjuru kantin, “Kalian juga kenapa diem? Dihipnotis, ya?”
Suasana hening, mencekam. Keadaan horror menyelimuti keadaan kantin pagi ini. Ray dan Efendi hanya bisa menundukkan kepala dan diam.
“Ini juga berdua. Ngapain ngelihatin bawah sih. Emang ada apaan di bawah? Semut ngangkat strawberry? Aneh deh kalian.” Ucap Dion dengan sorot mata pada Ray dan Efendi. Percuma, mereka tidak angkat suara sedikitpun. Berdehem pun tidak.
“Itu lo, Yan.” Ucap Dion berusaha, sambil mengangkat dagu menunjuk ke belakang Rian, “Ada semangka besar. Aduhh…”
Semangka besar?
“Ada durian runtuh. Lahhh…”
Durian runtuh?
“Ngomong yang bener!” Tegas Rian pada Dion.
“Dasar nggak peka!” batin Dion.
“Akan terjadi gempa bumi.”
Nah, gempa bumi?
“Maksudnya?” Tanya Rian kebingungan.
“Akan ada gempa bumi. Karena di belakang lo ada Nita.” Utas Ray. Akhirnya.
Mendengar kata Nita, Rian menegang. Alhasil, sekujur tubuhnya gemetaran. Sebutir air menetes di ujung pelipisnya. Keringat menggodanya. Mau tak mau, Rian memutar tubuhnya ke belakang. Tampaklah Nita dengan wajah penuh amarah. Dengan nyali Rian menyapanya.
“Eh, sayang. Ngapain? Mau pesen Bakso, yak? Sini biar aku yang pesenin.” Tawar Rian. Alih-alih dia bisa kabur.
“Ya! Sama bininya baru kicep.” Ucap salah satu murid yang berada di kantin.
Rian menoleh dan mencari asal muasal sumber suara. Itu dia. Cowok tulen dengan rambut acak-acakkan. Randy. Musuh bebuyutan Rian. Rian menatap tajam mata Randy. Seakan mata itu bicara ‘Awas aja lo. Gue pites!’
“Kita putus!” Ucap Nita.
Rian kembali menoleh pada Nita.
“Loh, Nit. Aku nggak mau kita putus. Kita kan belum punya momongan. Masak kamu tega ninggalin ak-”
Nita pergi sebelum Rian mengakhiri ucapannya. “Nita. Nit! Dengerin aku dulu. Nit.. Woyy..”
Hasilnya? Percuma. Mau manggil sampai kapanpun nggak akan peduli. Karena hatinya terlanjur sakit.
“Aarrgghhh…” Geram Rian, “Kalian juga ngapain nggak bilang kalo ada Nita disini?” Tanyanya pada ketiga temannya.
“Gue udah berusaha. Lo aja yang nggak peka.” jawab Dion.
Efendi menyahut, “Sabar, Yan.”
“Bukan itu masalahnya. Susah nyari cewek kayak Nita, yang semlohai kayak gitu.” Kesal Rian seraya mengusap wajah dengan kasar.
Perkataan Rian mengundang gelak tawa dari murid-murid yang menyaksikan adegan dramatis tadi. Begitu pula dengan ketiga temannya. Mendengar tawa semakin pecah, Rian menggeram. Emosinya berkumpul menjadi satu di ujung kepala. Terlihat dua ujung tanduk yang keluar dari kepalanya. Semacam badak bercula yang siap menerkam mangsanya.
“Bisa diem nggak kalian?! Mau gue putus tuh kepala? Ha?!” Bentak Rian.
Bukannya diem, para penjajah makanan pada lari limbung-limbung ke luar kantin. Kecuali kaum Adam. Alhasil, keadaan kantin kacau. Banyak piring dan gelas jatuh dari meja. Kursi yang berserakkan. Seperti habis tergucang gempa bumi. Walaupun dilanda kegaduhan, kaum Adam tadi dengan tenang duduk sambil menyantap makanan yang dipesannya.
Merasa dirinya ada yang mengintai, Rian membolak-balikan badannya dari tempat duduk. Dan berhasil menemukan. Seorang cowok berdiri menatap tajam Rian sambil menggigit kuku ibu jarinya. Segera Rian menghampirinya. Belum sampai berdiri dari tempat duduknya, cowok itu lari terbirit-birit.
“Cyinnnn, tungguin gue doongggsss. Atuuttt!” Jerit cowok tadi.
“Lah, Banci?” Batin Rian.
Rian menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, “Disuruh diem ngapain lari.” Rian mengedarkan pandangan matanya ke penjuru kantin. “Memang bener ya cowok mikir pake logika, kalo pake otak lama nyantol.”
Ray, Dion dan Efendi hanya bisa memandang Rian dengan gerak-gerik bola matanya. Bisa gila lama-lama berteman dengan Rian.
“Parah! Otak lo kayaknya gesrek habis diputusin Nita tadi.” Ucap Ray memecahkan keheningan. “Pake segala ngancem mutusin kepala. Lihat noh, kantin malah jadi tempat pengungsian. Berantakan!”
“Eh, Ibu kantin melototin kita! Ganti pelototin yuk?” Belum sempat Efendi melototin ibu kantin, Dion menonyor lengannya dengan keras. “Apaan si pegang-pegang?”
Ray menghela napas kasar, “Pokoknya kalo kuping Bu Mega denger berita ini, gue nggak ikut-ikut. Bosen dihukum.”
Pasti tahu kan Bu Mega itu siapa sebenernya? Yang suka ngasih hukuman kalo ada siswa melanggar aturan? Yang nulis nama kita di buku pelanggaran plus point? Tahu, kan?
“Gue juga.” Sahut Dion dan Efendi bebarengan.
“Lo harus tanggung jawab atas kerusuhan meja dan kursi yang jatuh tak berdaya itu. Beresin!” Lanjut Ray.
“Ray, Dion, Efendi, Rian!! Apa yang sudah kalian lakukan?!!” Bentak seseorang yang berdiri di ambang pintu kantin.
Mendengar namanya berada di sebuah kalimat, mereka menoleh ke sumber suara. Seketika tubuh mereka menegang. Dengan cepat mereka mengalihkan pandangan dan segera berkumpul menjadi satu. Ray, Dion, Efendi dan Rian melihat mata satu sama lain secara bergantian.
“BU MEGA!!!” Ucap empat serangkai tersebut.
Ya, Bu Mega. Nama yang misterius. Nama yang tersimpan rapi di dalam folder otak mereka. Nama yang selalu memanggil mereka jika melanggar sebuah aturan.
“Mampus! Sumpah gue risih dengan hukumannya.”
“Berabe! Point gue udah banyak, masak masih mau ditambah lagi.”
“Diem, kalo mau lari dari hukumannya kita kabur aja. Daripada kicep disini, kayak orang bego.” Ray mulai menimang-nimang katanya, “Rencana A, Okay?”
Dion, Rian dan Efendi menganggukkan kepala tanda mengerti.
Akhirnya, Ray lepas dari gerombolan dan melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit menuju Bu Mega. “Kok Bu Mega hafal sih nama kita? Saking terkenalnya kita mungkin.”
Dion, Efendi dan Rian menyengir tidak jelas melihat Ray dengan aktingnya yang mulai mengelabuhi Bu Mega.
“Terkenal gimana? Kalau saking nakalnya sih iya. Udah kamu nggak usah basa-basi.” Bu Mega menengok kearah belakang Ray, “Kalian, ikut saya ke ruang BK. Sekarang! tidak ada penolakkan!” Tegas Bu Mega.
Tak lama Ray bersuara, “Delapan-Enam!!!” Jeritnya.
Mereka berlari sekencang-kencangnya menuju pagar belakang sekolah. Sekalian colut. Supaya tidak terkena hukuman. Karena mereka terlalu lelah menghadapi segala hukuman, walaupun itu akibat ulah mereka sendiri. Suara melengking milik Bu Mega lolos terabaikan oleh mereka. Sekali bandel, tetap bandel.
“Yuuhhuuu, Berhasil. Berhasil. Berhasil. Horee!!!”
Ray dan Efendi yang mengetahui kenapa Dion menjadi salah tingkah, membulatkan mata. Sampai mata mereka hampir copot dari tempatnya. Begitupula dengan murid yang ada di kantin.
“Anu, itu… ishh apaan sih itu lohh…” Ucap Dion latah yang masih berusaha menutupi wajah dengan telapak tangannya.
Rian mengaduh, “Anu itu apa? ngomong yang jelas. Jangan bisu mendadak.” Rian mengedarkan mata ke penjuru kantin, “Kalian juga kenapa diem? Dihipnotis, ya?”
Suasana hening, mencekam. Keadaan horror menyelimuti keadaan kantin pagi ini. Ray dan Efendi hanya bisa menundukkan kepala dan diam.
“Ini juga berdua. Ngapain ngelihatin bawah sih. Emang ada apaan di bawah? Semut ngangkat strawberry? Aneh deh kalian.” Ucap Dion dengan sorot mata pada Ray dan Efendi. Percuma, mereka tidak angkat suara sedikitpun. Berdehem pun tidak.
“Itu lo, Yan.” Ucap Dion berusaha, sambil mengangkat dagu menunjuk ke belakang Rian, “Ada semangka besar. Aduhh…”
Semangka besar?
“Ada durian runtuh. Lahhh…”
Durian runtuh?
“Ngomong yang bener!” Tegas Rian pada Dion.
“Dasar nggak peka!” batin Dion.
“Akan terjadi gempa bumi.”
Nah, gempa bumi?
“Maksudnya?” Tanya Rian kebingungan.
“Akan ada gempa bumi. Karena di belakang lo ada Nita.” Utas Ray. Akhirnya.
Mendengar kata Nita, Rian menegang. Alhasil, sekujur tubuhnya gemetaran. Sebutir air menetes di ujung pelipisnya. Keringat menggodanya. Mau tak mau, Rian memutar tubuhnya ke belakang. Tampaklah Nita dengan wajah penuh amarah. Dengan nyali Rian menyapanya.
“Eh, sayang. Ngapain? Mau pesen Bakso, yak? Sini biar aku yang pesenin.” Tawar Rian. Alih-alih dia bisa kabur.
“Ya! Sama bininya baru kicep.” Ucap salah satu murid yang berada di kantin.
Rian menoleh dan mencari asal muasal sumber suara. Itu dia. Cowok tulen dengan rambut acak-acakkan. Randy. Musuh bebuyutan Rian. Rian menatap tajam mata Randy. Seakan mata itu bicara ‘Awas aja lo. Gue pites!’
“Kita putus!” Ucap Nita.
Rian kembali menoleh pada Nita.
“Loh, Nit. Aku nggak mau kita putus. Kita kan belum punya momongan. Masak kamu tega ninggalin ak-”
Nita pergi sebelum Rian mengakhiri ucapannya. “Nita. Nit! Dengerin aku dulu. Nit.. Woyy..”
Hasilnya? Percuma. Mau manggil sampai kapanpun nggak akan peduli. Karena hatinya terlanjur sakit.
“Aarrgghhh…” Geram Rian, “Kalian juga ngapain nggak bilang kalo ada Nita disini?” Tanyanya pada ketiga temannya.
“Gue udah berusaha. Lo aja yang nggak peka.” jawab Dion.
Efendi menyahut, “Sabar, Yan.”
“Bukan itu masalahnya. Susah nyari cewek kayak Nita, yang semlohai kayak gitu.” Kesal Rian seraya mengusap wajah dengan kasar.
Perkataan Rian mengundang gelak tawa dari murid-murid yang menyaksikan adegan dramatis tadi. Begitu pula dengan ketiga temannya. Mendengar tawa semakin pecah, Rian menggeram. Emosinya berkumpul menjadi satu di ujung kepala. Terlihat dua ujung tanduk yang keluar dari kepalanya. Semacam badak bercula yang siap menerkam mangsanya.
“Bisa diem nggak kalian?! Mau gue putus tuh kepala? Ha?!” Bentak Rian.
Bukannya diem, para penjajah makanan pada lari limbung-limbung ke luar kantin. Kecuali kaum Adam. Alhasil, keadaan kantin kacau. Banyak piring dan gelas jatuh dari meja. Kursi yang berserakkan. Seperti habis tergucang gempa bumi. Walaupun dilanda kegaduhan, kaum Adam tadi dengan tenang duduk sambil menyantap makanan yang dipesannya.
Merasa dirinya ada yang mengintai, Rian membolak-balikan badannya dari tempat duduk. Dan berhasil menemukan. Seorang cowok berdiri menatap tajam Rian sambil menggigit kuku ibu jarinya. Segera Rian menghampirinya. Belum sampai berdiri dari tempat duduknya, cowok itu lari terbirit-birit.
“Cyinnnn, tungguin gue doongggsss. Atuuttt!” Jerit cowok tadi.
“Lah, Banci?” Batin Rian.
Rian menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, “Disuruh diem ngapain lari.” Rian mengedarkan pandangan matanya ke penjuru kantin. “Memang bener ya cowok mikir pake logika, kalo pake otak lama nyantol.”
Ray, Dion dan Efendi hanya bisa memandang Rian dengan gerak-gerik bola matanya. Bisa gila lama-lama berteman dengan Rian.
“Parah! Otak lo kayaknya gesrek habis diputusin Nita tadi.” Ucap Ray memecahkan keheningan. “Pake segala ngancem mutusin kepala. Lihat noh, kantin malah jadi tempat pengungsian. Berantakan!”
“Eh, Ibu kantin melototin kita! Ganti pelototin yuk?” Belum sempat Efendi melototin ibu kantin, Dion menonyor lengannya dengan keras. “Apaan si pegang-pegang?”
Ray menghela napas kasar, “Pokoknya kalo kuping Bu Mega denger berita ini, gue nggak ikut-ikut. Bosen dihukum.”
Pasti tahu kan Bu Mega itu siapa sebenernya? Yang suka ngasih hukuman kalo ada siswa melanggar aturan? Yang nulis nama kita di buku pelanggaran plus point? Tahu, kan?
“Gue juga.” Sahut Dion dan Efendi bebarengan.
“Lo harus tanggung jawab atas kerusuhan meja dan kursi yang jatuh tak berdaya itu. Beresin!” Lanjut Ray.
“Ray, Dion, Efendi, Rian!! Apa yang sudah kalian lakukan?!!” Bentak seseorang yang berdiri di ambang pintu kantin.
Mendengar namanya berada di sebuah kalimat, mereka menoleh ke sumber suara. Seketika tubuh mereka menegang. Dengan cepat mereka mengalihkan pandangan dan segera berkumpul menjadi satu. Ray, Dion, Efendi dan Rian melihat mata satu sama lain secara bergantian.
“BU MEGA!!!” Ucap empat serangkai tersebut.
Ya, Bu Mega. Nama yang misterius. Nama yang tersimpan rapi di dalam folder otak mereka. Nama yang selalu memanggil mereka jika melanggar sebuah aturan.
“Mampus! Sumpah gue risih dengan hukumannya.”
“Berabe! Point gue udah banyak, masak masih mau ditambah lagi.”
“Diem, kalo mau lari dari hukumannya kita kabur aja. Daripada kicep disini, kayak orang bego.” Ray mulai menimang-nimang katanya, “Rencana A, Okay?”
Dion, Rian dan Efendi menganggukkan kepala tanda mengerti.
Akhirnya, Ray lepas dari gerombolan dan melangkahkan kakinya sedikit demi sedikit menuju Bu Mega. “Kok Bu Mega hafal sih nama kita? Saking terkenalnya kita mungkin.”
Dion, Efendi dan Rian menyengir tidak jelas melihat Ray dengan aktingnya yang mulai mengelabuhi Bu Mega.
“Terkenal gimana? Kalau saking nakalnya sih iya. Udah kamu nggak usah basa-basi.” Bu Mega menengok kearah belakang Ray, “Kalian, ikut saya ke ruang BK. Sekarang! tidak ada penolakkan!” Tegas Bu Mega.
Tak lama Ray bersuara, “Delapan-Enam!!!” Jeritnya.
Mereka berlari sekencang-kencangnya menuju pagar belakang sekolah. Sekalian colut. Supaya tidak terkena hukuman. Karena mereka terlalu lelah menghadapi segala hukuman, walaupun itu akibat ulah mereka sendiri. Suara melengking milik Bu Mega lolos terabaikan oleh mereka. Sekali bandel, tetap bandel.
“Yuuhhuuu, Berhasil. Berhasil. Berhasil. Horee!!!”
Jomblonya Mbak Kunti
Hati siapa yang enggak sedih kalau hidupnya kesepian tak ada yang mengisi hatinya dengan keindahan yang membawa kesenyuman dalam hari-hari yang dijalani, begitu pun dengan gue, dengan hati gue yang masih kosong tak ada isinya.
“woi mbak kunti, ngelamun aja entar kesambet lo” sapa uyul yang lewat.
“ya ela yul, elo ngeganggu gue aja, lagian pun mana ada yang mau nyambet gue, secara kan kita udah jadi hantu yul”.
“oo iya ya mbak kun, uyul lupa” sambil garuk-garuk kepalanya yang gundul sambir cengir-cengir.
“tapi yul ada satu yul yang bisa nyambet kita”
“masa iya kita bisa kesambet mbak kun, emang kesambet apaan mbak kun?” tanya uyul yang penasaran.
“kesambet cinta yul, hihihi” ungkap mbak kunti beserta dengan tawanya yang khas mbak kunti.
“ya ela si mbak kun ini, pasti nih faktor kelamaan jomblo jadinya gini, buruan deh mbak cari pacar biar gak stress, gak bengong manjang kerjaannya”.
“maunya gue sih gitu yul tapi gak ada yang mau ma gue, gimana nih?”
“gini deh mbak kun, entar malam kan malam minggu tuh, mending ikut gue ma yang lainnya buat gangguin anak-anak di taman yang lagi pacaran, pasti seru deh, sapa tau ada yang kecantol sama elo mbak, gimana?”
“hmmm…. ok deh, entar malam ya, gue tunggu disini ya yul”
“sip deh mbak kun, kalau gitu gue pergi dulu ya, ada urusan penting nih, urusan masalah harta yang kian berlimpah”.
“gaya lo yul-yul”.
“hahhaha”.
Si uyul pun langsung pergi meninggalkan mbak kunti, dan mbak kunti pun mulai bersiap-siap untuk nanti malam.
Malam yang ditunggu kunti pun akhirnya tiba. Dah gak sambar nih gue, gue harap hati gue lekas ada penghuninya, masalahnya nih hati udah lama banget kosongnya dari zaman gue manusia sampe sekarang gue dah di dunia gaib masih aja kosong, kalau dilihat udah banyak sawangnya nih lantar gak ada yang ngurusi.
“mbak kun, ayo kita pergi, sekalian kita cari penghuni buat hati elo mbak”.
“perhatian bener elo ma gue yul, jadi terharu gue”.
“biasa aja la mbak gak usah lebay gitu”.
“hihihi”.
Tanpa berlama-lama mereka pun langsung berangkat bersama-sama dan saling mengobrol di sepanjang perjalanan mereka, ada uyul, ada mbak kun, ada ocong, ada wewe dan yang lainnya, kecuali mbak suster ngesot masalahnya dia malam mingguannya di rumah sakit, lagian pun kalau ada dia pasti bakal lama tu perjalanannya, bakal makan waktu, si ocong aja sampe digendong sama om gon, masalanya entar sampe sana yang ada dianya malah duduk aja karena kecapean karena terlalu banyak loncat. Dan akhirnya mereka sampai dan mulai berpisah.
Jadi baper gue ngelihat manusia pada pacaran, gue kapan.
“sayang, kamu cantik banget” ungkap cowok ke ceweknya.
“makasih sayang” jawab cewek sambil tersenyum malu-malu.
“bohong tu, cantikkan juga gue” ungkap mbak kunti yang tiba-tiba menongolkan kepalanya di bangku belakang pasangan tersebut, sontak seketika membuat pasangn itu pun langsung kaget dan belari ketika tau ada mbak kunti di belakangnya.
Sialan, kok gue ditinggalin bukannya bilang makasi sama gue lantaran gue udah ngomong jujur kalau dia itu emang gak cantik, tu cowok ma bohong, pasti tu cowok punya banyak selingkuhan.
Hmmm, gue kemana lagi nih, eee ada cowok tu lagi sendiran gue temeni ah, siapa tau jodoh, hihihi. Mbak kunti pun langsung menyamperi cowok yang lagi duduk sendirian, dan berniat untuk menggodanya.
“sendirian aja bang?” sapa mbak kunti
“iya”.
“eneng temeni ya boleh bang?”
“boleh”.
“abang kenapa sendirian aja, pacarnya kemana bang?”
“abang gak punya pacar neng”.
“sama dong sama eneng kalau gitu, jangan-jangan kita jodoh bang” ungkap mbak kunti, sambil ketawa.
“serius neng?” tanya si abang dan dijawab dengan anggukan kepala oleh mbak kunti.
“setelah sekian lama abang ngejomblo akhirnya ketemu juga dengan jodoh abang, nama kamu siapa neng?”
“kunti bang”.
“kalau begitu ayo ikut abang ke rumah, abang mau kenali kamu ama keluarga abang” ajak abang ke kunti.
Akhirnya jomblo gue bakal segera berakhir, gak sia-sia gue ikut uyul ke sini. Akhirnya mbak kunti ikut si abang, tapi belum berjalan jauh, sudah ada yang yang nyamperi.
“maaf mbak, orang ini adalah pasien di rumah sakit jiwa kami, dia sudah kabur dari tadi pagi, dan kami akan segera membawanya pulang ke rumah sakit” ungkap seorang perawat pria sambil membawa si abang pergi.
“kunti ikut lah dengan abang, ayo, kita kan pasangan yang telah dipertemukan, ayo kunti” teriak si abang kepada kunti, untuk ikut bersamanya.
Yaaa, ternyata orang gila pantasan dia gak takut sama gue ternyata ada kelainan, salah target gue, mending gue kabur jauh-jauh dah, dan mbak kunti pun langsung pergi dengan cepat, dan tidak meladengkan teriakan si abang kepadanya. Hingga akhirnya dia bertemu dengan cowok lain yang juga lagi sendirian, dan lagi asyik dengan hp serta minuman yang ada di tangannya. sepertinya nih cowok normal deh gak kayak yang tadi, gue harap emang iya, samperi ah. Dan kunti pun langsung duduk di samping tu cowok yang lagi asyik dengan kegiatannya, melihat ada yang duduk di sampingnya si cowok pun langsung menghentikan kegiatanya.
“siapa kamu, dan mau ngapain kesini?”
“kunti bang, mau nemani abang”.
“oooo”.
“abang gak takut sama kunti”.
“enggak”.
“bagus deh kalau gitu, abang kok sendirian aja”.
“gue gak sendirian kok, kan ada elo disini”.
“o iya ya” mbak kunti pun jadi salah tingkah dengan jawaban si abang.
“abang lagi nyari pokemonn ya?”
“iya”.
“dari pada nyari pokemon mending cari jodoh aja bang, dan abang gak perlu jauh-jauh, ada kunti di sini, kunti mah siap jadi jodoh abang”.
“hmmm…”
“Cuma gitu aja jawabnya bang?”
“kamu kan hantu tu, sebangsa dengan sundel bolong tapi kenapa kamu kok gak bolong?”
“bolong kok bang, nih hati kunti yang bolong” sambil menunjuk ke hatinya.
“hadehhh”.
“bang, semalam kunti mimpi kalau kita itu nikah lho”.
“mimpi?”
“iya bang mimpi”
“untung cuma mimpi”.
“yaahhh, abang mah kok gitu banget, bukannya di doain jadi kenyataan”.
“ya gue doain moga aja itu tak pernah terjadi, wiiihh ada pikchu tu” langsung beranjak pergi mengejar tanpa mempedulikan kunti.
“yah bang main pergi aja, bang, banggg” teriak kunti, tapi tak dipedulikan oleh si abang, dia tetap asyik dengan pokemonnya.
Kenapa jadi gini ceritanya, kok semuannya pada kabur.
“kunti, kuntiii”.
Si abang akhirnya kembali lagi, akhirnya dia lebih milih jodoh ketimbang pokemonnya, dan si kunti pun langsung menoleh, dan ternyata yang memanggilnya bukan orang yang diharapkannya, melaikan abang yang sakit jiwa, dan dia belari ke arah kunti dan meneriakkan namanya, serta di belakangnya para perawat mengejarnya, kunti yang melihat pun langsung belari. Gue gak mau berurusan sama tu manusia stress. Maka terjadilah kejar-kejaran antara perawat, si abang dan kunti.
Gini banget sih cerita gue, bukannya dapat jodoh yang ada malah dapat masalah, dan gelar jomblo gue masih tetap tak ada perubahan, hiks, hiks, hiks, hiks…
“woi mbak kunti, ngelamun aja entar kesambet lo” sapa uyul yang lewat.
“ya ela yul, elo ngeganggu gue aja, lagian pun mana ada yang mau nyambet gue, secara kan kita udah jadi hantu yul”.
“oo iya ya mbak kun, uyul lupa” sambil garuk-garuk kepalanya yang gundul sambir cengir-cengir.
“tapi yul ada satu yul yang bisa nyambet kita”
“masa iya kita bisa kesambet mbak kun, emang kesambet apaan mbak kun?” tanya uyul yang penasaran.
“kesambet cinta yul, hihihi” ungkap mbak kunti beserta dengan tawanya yang khas mbak kunti.
“ya ela si mbak kun ini, pasti nih faktor kelamaan jomblo jadinya gini, buruan deh mbak cari pacar biar gak stress, gak bengong manjang kerjaannya”.
“maunya gue sih gitu yul tapi gak ada yang mau ma gue, gimana nih?”
“gini deh mbak kun, entar malam kan malam minggu tuh, mending ikut gue ma yang lainnya buat gangguin anak-anak di taman yang lagi pacaran, pasti seru deh, sapa tau ada yang kecantol sama elo mbak, gimana?”
“hmmm…. ok deh, entar malam ya, gue tunggu disini ya yul”
“sip deh mbak kun, kalau gitu gue pergi dulu ya, ada urusan penting nih, urusan masalah harta yang kian berlimpah”.
“gaya lo yul-yul”.
“hahhaha”.
Si uyul pun langsung pergi meninggalkan mbak kunti, dan mbak kunti pun mulai bersiap-siap untuk nanti malam.
Malam yang ditunggu kunti pun akhirnya tiba. Dah gak sambar nih gue, gue harap hati gue lekas ada penghuninya, masalahnya nih hati udah lama banget kosongnya dari zaman gue manusia sampe sekarang gue dah di dunia gaib masih aja kosong, kalau dilihat udah banyak sawangnya nih lantar gak ada yang ngurusi.
“mbak kun, ayo kita pergi, sekalian kita cari penghuni buat hati elo mbak”.
“perhatian bener elo ma gue yul, jadi terharu gue”.
“biasa aja la mbak gak usah lebay gitu”.
“hihihi”.
Tanpa berlama-lama mereka pun langsung berangkat bersama-sama dan saling mengobrol di sepanjang perjalanan mereka, ada uyul, ada mbak kun, ada ocong, ada wewe dan yang lainnya, kecuali mbak suster ngesot masalahnya dia malam mingguannya di rumah sakit, lagian pun kalau ada dia pasti bakal lama tu perjalanannya, bakal makan waktu, si ocong aja sampe digendong sama om gon, masalanya entar sampe sana yang ada dianya malah duduk aja karena kecapean karena terlalu banyak loncat. Dan akhirnya mereka sampai dan mulai berpisah.
Jadi baper gue ngelihat manusia pada pacaran, gue kapan.
“sayang, kamu cantik banget” ungkap cowok ke ceweknya.
“makasih sayang” jawab cewek sambil tersenyum malu-malu.
“bohong tu, cantikkan juga gue” ungkap mbak kunti yang tiba-tiba menongolkan kepalanya di bangku belakang pasangan tersebut, sontak seketika membuat pasangn itu pun langsung kaget dan belari ketika tau ada mbak kunti di belakangnya.
Sialan, kok gue ditinggalin bukannya bilang makasi sama gue lantaran gue udah ngomong jujur kalau dia itu emang gak cantik, tu cowok ma bohong, pasti tu cowok punya banyak selingkuhan.
Hmmm, gue kemana lagi nih, eee ada cowok tu lagi sendiran gue temeni ah, siapa tau jodoh, hihihi. Mbak kunti pun langsung menyamperi cowok yang lagi duduk sendirian, dan berniat untuk menggodanya.
“sendirian aja bang?” sapa mbak kunti
“iya”.
“eneng temeni ya boleh bang?”
“boleh”.
“abang kenapa sendirian aja, pacarnya kemana bang?”
“abang gak punya pacar neng”.
“sama dong sama eneng kalau gitu, jangan-jangan kita jodoh bang” ungkap mbak kunti, sambil ketawa.
“serius neng?” tanya si abang dan dijawab dengan anggukan kepala oleh mbak kunti.
“setelah sekian lama abang ngejomblo akhirnya ketemu juga dengan jodoh abang, nama kamu siapa neng?”
“kunti bang”.
“kalau begitu ayo ikut abang ke rumah, abang mau kenali kamu ama keluarga abang” ajak abang ke kunti.
Akhirnya jomblo gue bakal segera berakhir, gak sia-sia gue ikut uyul ke sini. Akhirnya mbak kunti ikut si abang, tapi belum berjalan jauh, sudah ada yang yang nyamperi.
“maaf mbak, orang ini adalah pasien di rumah sakit jiwa kami, dia sudah kabur dari tadi pagi, dan kami akan segera membawanya pulang ke rumah sakit” ungkap seorang perawat pria sambil membawa si abang pergi.
“kunti ikut lah dengan abang, ayo, kita kan pasangan yang telah dipertemukan, ayo kunti” teriak si abang kepada kunti, untuk ikut bersamanya.
Yaaa, ternyata orang gila pantasan dia gak takut sama gue ternyata ada kelainan, salah target gue, mending gue kabur jauh-jauh dah, dan mbak kunti pun langsung pergi dengan cepat, dan tidak meladengkan teriakan si abang kepadanya. Hingga akhirnya dia bertemu dengan cowok lain yang juga lagi sendirian, dan lagi asyik dengan hp serta minuman yang ada di tangannya. sepertinya nih cowok normal deh gak kayak yang tadi, gue harap emang iya, samperi ah. Dan kunti pun langsung duduk di samping tu cowok yang lagi asyik dengan kegiatannya, melihat ada yang duduk di sampingnya si cowok pun langsung menghentikan kegiatanya.
“siapa kamu, dan mau ngapain kesini?”
“kunti bang, mau nemani abang”.
“oooo”.
“abang gak takut sama kunti”.
“enggak”.
“bagus deh kalau gitu, abang kok sendirian aja”.
“gue gak sendirian kok, kan ada elo disini”.
“o iya ya” mbak kunti pun jadi salah tingkah dengan jawaban si abang.
“abang lagi nyari pokemonn ya?”
“iya”.
“dari pada nyari pokemon mending cari jodoh aja bang, dan abang gak perlu jauh-jauh, ada kunti di sini, kunti mah siap jadi jodoh abang”.
“hmmm…”
“Cuma gitu aja jawabnya bang?”
“kamu kan hantu tu, sebangsa dengan sundel bolong tapi kenapa kamu kok gak bolong?”
“bolong kok bang, nih hati kunti yang bolong” sambil menunjuk ke hatinya.
“hadehhh”.
“bang, semalam kunti mimpi kalau kita itu nikah lho”.
“mimpi?”
“iya bang mimpi”
“untung cuma mimpi”.
“yaahhh, abang mah kok gitu banget, bukannya di doain jadi kenyataan”.
“ya gue doain moga aja itu tak pernah terjadi, wiiihh ada pikchu tu” langsung beranjak pergi mengejar tanpa mempedulikan kunti.
“yah bang main pergi aja, bang, banggg” teriak kunti, tapi tak dipedulikan oleh si abang, dia tetap asyik dengan pokemonnya.
Kenapa jadi gini ceritanya, kok semuannya pada kabur.
“kunti, kuntiii”.
Si abang akhirnya kembali lagi, akhirnya dia lebih milih jodoh ketimbang pokemonnya, dan si kunti pun langsung menoleh, dan ternyata yang memanggilnya bukan orang yang diharapkannya, melaikan abang yang sakit jiwa, dan dia belari ke arah kunti dan meneriakkan namanya, serta di belakangnya para perawat mengejarnya, kunti yang melihat pun langsung belari. Gue gak mau berurusan sama tu manusia stress. Maka terjadilah kejar-kejaran antara perawat, si abang dan kunti.
Gini banget sih cerita gue, bukannya dapat jodoh yang ada malah dapat masalah, dan gelar jomblo gue masih tetap tak ada perubahan, hiks, hiks, hiks, hiks…
Trap On Trip Part 2
Dengan sigap kami sudah bersiap untuk melawan mahluk astral, Toha juga sudah mengeluarkan botol air mineral dari tasnya dan ternyata bayangan putih itu adalah manusia. ealahhh…
Orang itu malah menghampiri kami dan bertanya “kok berhenti disini mas, ada apa?”. ngeselin nggak? jadi orang itu sebenarnya usai mencari rumput, Ia memakai kaos putih dan melajukan motornya di jalan menurun dengan kecepatan tinggi tanpa menyalakan mesin motor, tanpa lampu juga. Karena gelap, orang itu seperti bayangan putih sedang terbang. Lagian, ngarit kok juga jam segini to paklek-paklek, bikin kaget orang aja. Lantas orang itu pergi dan kami melanjutkan perjalanan lagi.
5 km dari tempat kami berhenti tadi, kami mulai masuk kawasan hutan. Wow, tempat ini menyeramkan juga menurutku, jalannya terjal, berliku-liku, menanjak pula. tanpa sengaja Aku melihat 3 orang sedang berdiri di bawah pohon, Aku kira motor mereka mogok, dengan sedikit rasa sombong Aku berteriak “Mogok ya Mas, hehe…” pada 3 orang itu. Aku sendiri bingung kenapa Aku bilang begitu ya. 2 menit kemudian Aku mendapat karma dari perbuatanku itu tadi.
Blebb… blebb… blebbbbb beebbbebebbeb…
Wuaaaaaa… motorku mogok. Gimana ini gimana ini gimana ini, masa’ harus dorong motor di tempat seperti ini. Hiks.. saat itulah bayangan wajah 3 orang tadi seakan muncul di depan mataku. Ternyata karma cepat datangnya ya, dan sayup-sayup terdengar suara bising knalpot dari belakangku. Wennggg… weeennnggg… wwweennggg… Treeeettt… Tang.. tang.. tang.. tanggg…
Buset dah, ternyata rombongan Moto Trail. dan pengendaranya adalah? Tiga orang tadi. Hiks.. Aku kira motor mereka mogok tadi, ternyata mereka hanya sedang beristirahat, dan yang paling mengesalkan adalah: Mereka bertiga menggunakan Moto Trail Mini, meskipun motor mereka kecil tapi saat melintasi tikungan menanjak dengan sudut kemiringan 40 derajat, motor mereka tangguh sekali. Lalu Kubandingkan dengan motorku, motor sebesar ini kalah dengan motornya tuyul itu. Menjengkelkan…
Akhirnya, dengan berat hati Aku mendorong motorku dengan Budi, lantas beristirahat sejenak bersama teman-teman yang lain untuk mendinginkan mesin motor kami. Wah, capek juga ternyata ya.
10 menit kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi karena motorku sepertinya sudah normal kembali dan kali ini dengan kawasan yang berbeda tentunya. Trek kali ini agak menakutkan, jalannya berupa tanah yang licin, kanan ada tebing, kiri ada jurang yang dalam. Kalau terperosok ke jurang itu ya siap-siap saja jadi sate karena di bawahnya penuh dengan pohon pinus. Saat sedang berkonsentrasi memilih jalan yang tidak licin dan menghindari jurang, Aku dikagetkan oleh teriakan Anggik di depanku yang sedang dibonceng oleh soleh
“Mid.. Mid…”. “Eiya, Vegetoz – Betapa Aku mencintaimu” sahutku. “Ehh, bukan tebak lagu lagi, itu ada rombongan yang hilang satu” Anggik menjelaskan. “Lah, masa’ sih?” tanyaku penasaran. Seketika itu juga kami berhenti dan Anggik mulai mengabsen untuk mencari siapa yang hilang:
Anggik: Al iz ada?
Al iz: Ada Pak.
Anggik: Ali ada?
Ali: Hadirrr…
Anggik: Soleh ada?
Soleh: Nek aku ra enek seng mbonceng koen sopo…
Anggik: Oiya, oke-oke… Rendy ada?
Rendy: Siap, ada gan.
Anggik: Budi ada?
Budi: Ada ada aja deh..
Anggik: Arip ada?
Arip: (TAK ADA JAWABAN)
Anggik: Toha ada?
Toha: (TAK ADA JAWABAN)
Anggik: Oke, personil kita udah lengkap, mari kita lanjutkan perjalanan.
Teman-teman: WOOIIII… WOOOIII… WOOOIII… Arip dan Toha Tiada, eh tidak ada maksudnya, kok lanjut-lanjut aja gimana!
Anggik: Lah, Tu, wa, ga, pat, ma, nam, Waaa… Kurang dua orang, Arip dan Toha kemana? bukankah mereka harusnya bukan di urutan terakhir, kok bisa ketinggalan sih.
Soleh: Gimana kalau kita tunggu sebentar, kalau 5 menit nggak kelihatan baru kita putar balik mencari mereka.
Dan kita sepakat. Memang kondisi di tempat ini sangat rawan, hingga kita lupa dengan peraturan yang kita buat sendiri, mungkin karena kita ingin lekas keluar dari kawasan hutan ini, hutan ini sangat seram, terlebih sekarang jam 2 dini hari.
Untunglah. meskipun agak lama kita menunggu, Arip dan Toha akhirnya muncul juga. Mereka menuturkan kalau mereka berdua habis terpeleset dan jatuh berdua lantas terbelit dengan selimut yang mereka gunakan. Jadi begini: Arip dan Toha itu hanya menggunakan kaos dan celana pendek, entah siapa yang mempunyai ide membawa selimut, mereka berdua berbagi selimut yang sama dan melingkarkannya pada badan mereka saat berboncengan. Bisa dibayangkan kalau mereka jatuh, keduanya akan terlilit dan susah untuk terlepas. hehe…
Aku hanya membayangkan, Aku saja yang memakai 3 jaket sekaligus + jas hujan masih menggigil, apalagi mereka. Kuat sekali tubuh mereka itu…
Kami meminta maaf pada mereka, dan mulai melanjutkan perjalanan lagi dengan sedikit pelan, hingga kami semua berhenti karena persediaan bensin kami sudah mulai menipis.
Untung saja ada yang jual bensin disini, karena sedari tadi tidak kita jumpai satu rumahpun di kawasan ini. Sambil menyalakan rokok Aku sedikit berpikir, ini bawa bensinnya kemari bagaimana ya? Pasti perjuangan sekali ya. Sejenak kami menghangatkan diri dengan mendekat pada api unggun yang dibuat oleh penjual bensin tadi karena udara di daerah ini paling dingin menurutku, sampai-sampai mulut kita mengeluarkan asap saat berbicara.
15 menit berselang kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lagi. Berjarak kurang dari 10 meter dari tempat kami berhenti tadi terdapat persimpangan jalan yang menghubungkan antara Malang, Bromo, dan Semeru. Banyak orang yang berhenti disana saat itu, seperti kami. Tampaknya mereka juga kebingungan harus mengambil jalur yang mana. Entahlah, Aku juga tak tahu arah mana yang seharusnya kita ambil, Aku hanya pasrah pada Anggik karena tugasku memandu perjalanan hanya sampai pada kota Batu, selebihnya Anggik yang lebih tahu. Kuperhatikan Anggik yang berada di posisi terdepan mengambil turunan arah kiri. Dan jalan itu menurutku sangat memperihatinkan.
Jalanan itu rusak parah, curam, berbatu serta licin, bahkan meskipun Aku menggunakan prosneling 1 di barengi dengan rem depan belakan motorku tetap saja melaju dengan kencang karena curamnya, belum lagi gaya Budi saat membonceng, Ia menumpukan beban tubuhnya pada tubuhku hingga Aku harus meluruskan dua pergelangan tanganku ini kuat-kuat dan menahnnya agar tak terdorong maju. Great, bisa dibayangkan beratnya seperti apa? Seperti sedang menggendong kebo. Berulang kali Aku memperingatkan Budi untuk mundur sedikit tapi Budi masih saja seperti itu. Dan setengah jam pertama sudah bisa Kurasakan leherku sakit karena terlalu lama berkendara dengan menunduk. Jalan ini sungguh Amazing, Aku takut terperosok sebenarnya karena laju motorku seperti sedang meluncur, tak bisa ditahan lagi.
1 jam berselang, tepatnya pukul 3 dini hari. Akhirnya kita sampai juga di kaki gunung yang barusan kita lewati tadi. Entahlah apa nama gunung itu, karena beberapa kali Aku mencari rute perjalanan kami ini di internet, youtube dan google maps tidak pernah ketemu. Mungkin ini jalur gaib kali ya, atau tercantum sebagai 20 jalur paling tidak recomended sedunia. Hihi…
Hiyaaa… Akhirnya ketemu tanah datar lagi, udah capek naik turun gunung sebenernya, Sambil terus melanjutkan perjalanan kita mencoba untuk berjalan sangat pelan karena kondisi waktu itu masih gelap gulita. Jalan yang bisa terlihat ya hanya jalan yang tersinari oleh lampu motor kami. Dan tiba-tiba Kuperhatikan semua motor teman-teman berhenti di depan. Ada apa, pikirku penasaran. Baru setelah Aku melihat apa yang teman-temanku lihat, lantas saja Aku turun dari motor, berdiri dan hanya diam, semua bengong saat itu dan hanya tolah-toleh seperti monyet sedang terkena amnesia.
“kok ada kali”. Hanya itu yang terbesit di pikiran kami, bagaimana bisa ada sungai di tempat seperti ini. memang semenjak berangkat dari rumah kita sudah kehujanan, mungkin ini aliran lahar dingin ya. Sungai itu lebarnya sekitar 5 meter membentang entah dimana ujungnya. Meskipun airnya berkubang alias tidak mengalir tapi panjangnya mungkin lebih dari 3 km, belum lagi keterbatasan jarak pandang kami waktu itu. Ini bagaimana cara melewatinya? Saat itu semua masih diam mematung di atas motornya masing-masing memikirkan cara yang bisa digunakan untuk melewati sungai itu karena tak ada apapun yang bisa digunakan sebagai jembatan. Diam-diam Aku berjalan sendirian menyusuri sungai itu meninggalkan teman-teman mencari bagian sungai yang tak terlalu lebar. Jauh sudah Aku berjalan mungkin sejauh 50 meter akhirnya Kutemukan apa yang aku cari. Lebar sungai ini cuma 2 meter, pasti agak dangkal ya. Perlahan Aku coba memasukkan kakiku kedalamnya berniat untuk menjejaki seberapa dalam bagian sungai ini, tapi kakiku sudah masuk selutut dan belum juga Kurasakan dasar sungainya, sedangkan sejauh mata memandang sungai itu masih tak terlihat ujungnya. Agak sedikit frustasi akhirnya Aku berteriak pada Soleh yang masih duduk di atas motornya. “Leh, coba jejaki daerah situ”. dengan maksud agar soleh memasukkan kakinya kedalam air juga, tapi tidak seperti dugaanku bahwa Soleh akan turun dari motornya dan memasukkan kakinya dalam sungai, Ia malah menyalakan motor dan melajukan motornya menyeberangi sungai itu. Tahu tidak suaranya seperti apa? yang terdengar adalah suara seperti ini:
‘cklekk.. grennggg… wooorr… wooorr… wooorrrr… wiuuuu… Byuurrrr… nggooonnggg… blukutuk… blukutuk… blukutukk… ngggoooonggg… blukutuk… blukutuk… blukutuk… ‘
Pertanyaannya adalah: Dari suara pada kejadian di atas, apakah yang terjadi pada Soleh?
a. Soleh berhasil melewati sungai dengan lancar, aman, terkendali serta barokah dan damai.
b. Soleh putar balik lantas pulang.
c. Soleh hanya bleyer-bleyer dan minum air sungai karena frustasi.
d. Soleh tercebur dalam sungai.
So, apa jawaban kalian? Kalau jawaban kalian D, maka kalian SALAH… karena jawaban yang benar adalah:
F. Soleh bersama anggik yang di boncengnya terjun bebas ke dalam sungai dan terjebak tak bisa naik dengan mesin yang masih meraung-raung dan dengan motor yang tenggelam hingga setinggi dada orang dewasa.
Kalau tadi kita sudah bengong seperti monyet amnesia ya, ini kita malah bengong seperti monyet lagi mainan ciduk cao, ndal ndul..
dan anehnya motor soleh itu tidak mati karena Ia terus menancapkan gasnya dalam-dalam agar air tidak masuk ke knalpot, lebih anehnya lagi kita semua cuma diam, agak susah dicerna otak sebenarnya. ‘Kok bisa, dicemplungin motornya’. Sudah 10 detik mereka di dalam air itu, kontan Anggik loncat dari motor dan menarik motor Soleh dari depan.
Haa.. sebenarnya kita sangat bingung waktu itu, itu mau di apain? apa kita harus nyebur juga membantu Soleh dengan udara seperti ini. Waa… akhirnya yang bisa kita lakukan untuk membantu soleh adalah dengan cara menyemangatinya. “Ayo Leh semangatt… semangat… gas teruss… tarik yang kenceng Nggik… terus gas polll Leh…” hadeh kejamnya dunia ini, eh kita maksudnya. Ya mau bagaimana lagi, udah tahu itu sungai kok diterjang, emang motornya bisa ngambang gitu?
Tapi untungnya motor Soleh bisa naik dan keluar dari sungai itu dengan kondisi masih menyala. Keren ya! udah tenggelam padahal, tapi air tidak masuk ke knalpot dan busi tidak mati. Ya eyalah motor baru geto.
Karena kita tidak seberani Soleh dan karena kita sedang tidak ingin berenang akhirnya kita menyuruh soleh untuk tetap menunggu disitu dan mencari jalan lain. Beberapa puluh meter menyusuri tepian sungai akhirnya kita menemukan ujung dari kubangan air itu, sebenarnya tidak jauh dari tempatku menjejakkan kaki tadi, kenapa tadi tidak berjalan agak jauh sedikit lagi ya!
Setelah bertemu Soleh, kita malah tertawa terbahak-bahak bersama menertawakan Soleh dan Anggik karena mereka basah kuyup dan kedinginan, untung saja motornya tidak mogok, kalau mogok mau nyari bengkel dimana, ini kan gurun pasir, apa mau di kubur saja motornya sama pasir.
Oiya.. Aku baru sadar kalau setelah melewati sungai tadi kita sudah berada di gurun pasir. Emm.. jadi ini yang namanya pasir berbisik itu, nama yang aneh, apanya yang berbisik coba. Karena penasaran Aku coba menempelkan telingaku pada pasir itu berharap bisa mendengar sesuatu yang unik, mungkin pasir ini bisa berbisik sungguhan siapa yang tahu kan ya, Aku coba untuk memejamkan mata, berkonsentrasi dan.. Jujur Aku tidak mendengar apa-apa. Udah, gitu aja.
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi saat ini. Tidak ada rombongan lain disini kecuali kita dan kondisi disini sangat gelap. Kita melanjutkan perjalanan dan entah karena terlalu lelah naik turun gunung, jalan rusak, curam, licin atau kejenuhan dalam perjalanan tadi, teman-teman seakan sangat kegirangan berkendara di jalan yang datar, luas dan berpasir, mereka kebut-kebutan dan berpencar sesuai keinginan mereka sendiri karena ini sudah memasuki kawasan Gunung Bromo bukan, jadi aman. Aku juga senang melihat mereka kejar-kejaran dari belakang, seperti melihat rally dakkar saja hingga motorku berbunyi ‘Ctassss… bleb.. bleb.. blebb.. blebbb…’ motorku mogok lagi.
Astaga… Secepat kilat Aku mencoba menyalakan motorku lagi dengan starter kaki berulang-ulang tapi sama sekali tidak membuahkan hasil, dan Kulihat teman-teman sudah jauh meninggalkanku. Celakalah Aku.. bagaimana ini, Apa Aku telfon saja mereka untuk menungguku atau menjemputku, tapi apa mereka akan dengar dering atau getar ponsel di saku mereka dengan kondisi mereka yang kebut-kebutan itu, pasti mereka tak akan dengar.
Tidak kehabisan akal, karena Aku dulu pernah kursus vokal dan belajar nada tinggi, akhirnya Aku turun dari motor, berdiri tegak, dan mengeluarkan suara tenor ‘Hooooiiii… Aku enteniiiii…’ dari kejauhan samar-samar terlihat Arip berhenti, syukurlah ada yang dengar, Aku tarik nafas dalam-dalam lagi dan berteriak ‘Rippp… sepedahku mogokkkk…’ “Tenang Bud, kita aman, ada Arip dan toha datang sebentar lagi.” Ujarku menenangkan Budi yang terlihat mulai kedinginan karena Ia tak membawa mantel dan hanya beralaskan sendal jepit.
Tak lama kemudian Arip pun datang bersama Toha yang diboncengnya. “Kenapa mas bro?” Tanya Arip. “Mogok lagi Rip, kayaknya terlalu panas deh mesinnya, apa butuh istirahat lagi ya” jelasku. “Ya udah istirahat aja dulu.” Arip menuturkan.
Orang itu malah menghampiri kami dan bertanya “kok berhenti disini mas, ada apa?”. ngeselin nggak? jadi orang itu sebenarnya usai mencari rumput, Ia memakai kaos putih dan melajukan motornya di jalan menurun dengan kecepatan tinggi tanpa menyalakan mesin motor, tanpa lampu juga. Karena gelap, orang itu seperti bayangan putih sedang terbang. Lagian, ngarit kok juga jam segini to paklek-paklek, bikin kaget orang aja. Lantas orang itu pergi dan kami melanjutkan perjalanan lagi.
5 km dari tempat kami berhenti tadi, kami mulai masuk kawasan hutan. Wow, tempat ini menyeramkan juga menurutku, jalannya terjal, berliku-liku, menanjak pula. tanpa sengaja Aku melihat 3 orang sedang berdiri di bawah pohon, Aku kira motor mereka mogok, dengan sedikit rasa sombong Aku berteriak “Mogok ya Mas, hehe…” pada 3 orang itu. Aku sendiri bingung kenapa Aku bilang begitu ya. 2 menit kemudian Aku mendapat karma dari perbuatanku itu tadi.
Blebb… blebb… blebbbbb beebbbebebbeb…
Wuaaaaaa… motorku mogok. Gimana ini gimana ini gimana ini, masa’ harus dorong motor di tempat seperti ini. Hiks.. saat itulah bayangan wajah 3 orang tadi seakan muncul di depan mataku. Ternyata karma cepat datangnya ya, dan sayup-sayup terdengar suara bising knalpot dari belakangku. Wennggg… weeennnggg… wwweennggg… Treeeettt… Tang.. tang.. tang.. tanggg…
Buset dah, ternyata rombongan Moto Trail. dan pengendaranya adalah? Tiga orang tadi. Hiks.. Aku kira motor mereka mogok tadi, ternyata mereka hanya sedang beristirahat, dan yang paling mengesalkan adalah: Mereka bertiga menggunakan Moto Trail Mini, meskipun motor mereka kecil tapi saat melintasi tikungan menanjak dengan sudut kemiringan 40 derajat, motor mereka tangguh sekali. Lalu Kubandingkan dengan motorku, motor sebesar ini kalah dengan motornya tuyul itu. Menjengkelkan…
Akhirnya, dengan berat hati Aku mendorong motorku dengan Budi, lantas beristirahat sejenak bersama teman-teman yang lain untuk mendinginkan mesin motor kami. Wah, capek juga ternyata ya.
10 menit kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi karena motorku sepertinya sudah normal kembali dan kali ini dengan kawasan yang berbeda tentunya. Trek kali ini agak menakutkan, jalannya berupa tanah yang licin, kanan ada tebing, kiri ada jurang yang dalam. Kalau terperosok ke jurang itu ya siap-siap saja jadi sate karena di bawahnya penuh dengan pohon pinus. Saat sedang berkonsentrasi memilih jalan yang tidak licin dan menghindari jurang, Aku dikagetkan oleh teriakan Anggik di depanku yang sedang dibonceng oleh soleh
“Mid.. Mid…”. “Eiya, Vegetoz – Betapa Aku mencintaimu” sahutku. “Ehh, bukan tebak lagu lagi, itu ada rombongan yang hilang satu” Anggik menjelaskan. “Lah, masa’ sih?” tanyaku penasaran. Seketika itu juga kami berhenti dan Anggik mulai mengabsen untuk mencari siapa yang hilang:
Anggik: Al iz ada?
Al iz: Ada Pak.
Anggik: Ali ada?
Ali: Hadirrr…
Anggik: Soleh ada?
Soleh: Nek aku ra enek seng mbonceng koen sopo…
Anggik: Oiya, oke-oke… Rendy ada?
Rendy: Siap, ada gan.
Anggik: Budi ada?
Budi: Ada ada aja deh..
Anggik: Arip ada?
Arip: (TAK ADA JAWABAN)
Anggik: Toha ada?
Toha: (TAK ADA JAWABAN)
Anggik: Oke, personil kita udah lengkap, mari kita lanjutkan perjalanan.
Teman-teman: WOOIIII… WOOOIII… WOOOIII… Arip dan Toha Tiada, eh tidak ada maksudnya, kok lanjut-lanjut aja gimana!
Anggik: Lah, Tu, wa, ga, pat, ma, nam, Waaa… Kurang dua orang, Arip dan Toha kemana? bukankah mereka harusnya bukan di urutan terakhir, kok bisa ketinggalan sih.
Soleh: Gimana kalau kita tunggu sebentar, kalau 5 menit nggak kelihatan baru kita putar balik mencari mereka.
Dan kita sepakat. Memang kondisi di tempat ini sangat rawan, hingga kita lupa dengan peraturan yang kita buat sendiri, mungkin karena kita ingin lekas keluar dari kawasan hutan ini, hutan ini sangat seram, terlebih sekarang jam 2 dini hari.
Untunglah. meskipun agak lama kita menunggu, Arip dan Toha akhirnya muncul juga. Mereka menuturkan kalau mereka berdua habis terpeleset dan jatuh berdua lantas terbelit dengan selimut yang mereka gunakan. Jadi begini: Arip dan Toha itu hanya menggunakan kaos dan celana pendek, entah siapa yang mempunyai ide membawa selimut, mereka berdua berbagi selimut yang sama dan melingkarkannya pada badan mereka saat berboncengan. Bisa dibayangkan kalau mereka jatuh, keduanya akan terlilit dan susah untuk terlepas. hehe…
Aku hanya membayangkan, Aku saja yang memakai 3 jaket sekaligus + jas hujan masih menggigil, apalagi mereka. Kuat sekali tubuh mereka itu…
Kami meminta maaf pada mereka, dan mulai melanjutkan perjalanan lagi dengan sedikit pelan, hingga kami semua berhenti karena persediaan bensin kami sudah mulai menipis.
Untung saja ada yang jual bensin disini, karena sedari tadi tidak kita jumpai satu rumahpun di kawasan ini. Sambil menyalakan rokok Aku sedikit berpikir, ini bawa bensinnya kemari bagaimana ya? Pasti perjuangan sekali ya. Sejenak kami menghangatkan diri dengan mendekat pada api unggun yang dibuat oleh penjual bensin tadi karena udara di daerah ini paling dingin menurutku, sampai-sampai mulut kita mengeluarkan asap saat berbicara.
15 menit berselang kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lagi. Berjarak kurang dari 10 meter dari tempat kami berhenti tadi terdapat persimpangan jalan yang menghubungkan antara Malang, Bromo, dan Semeru. Banyak orang yang berhenti disana saat itu, seperti kami. Tampaknya mereka juga kebingungan harus mengambil jalur yang mana. Entahlah, Aku juga tak tahu arah mana yang seharusnya kita ambil, Aku hanya pasrah pada Anggik karena tugasku memandu perjalanan hanya sampai pada kota Batu, selebihnya Anggik yang lebih tahu. Kuperhatikan Anggik yang berada di posisi terdepan mengambil turunan arah kiri. Dan jalan itu menurutku sangat memperihatinkan.
Jalanan itu rusak parah, curam, berbatu serta licin, bahkan meskipun Aku menggunakan prosneling 1 di barengi dengan rem depan belakan motorku tetap saja melaju dengan kencang karena curamnya, belum lagi gaya Budi saat membonceng, Ia menumpukan beban tubuhnya pada tubuhku hingga Aku harus meluruskan dua pergelangan tanganku ini kuat-kuat dan menahnnya agar tak terdorong maju. Great, bisa dibayangkan beratnya seperti apa? Seperti sedang menggendong kebo. Berulang kali Aku memperingatkan Budi untuk mundur sedikit tapi Budi masih saja seperti itu. Dan setengah jam pertama sudah bisa Kurasakan leherku sakit karena terlalu lama berkendara dengan menunduk. Jalan ini sungguh Amazing, Aku takut terperosok sebenarnya karena laju motorku seperti sedang meluncur, tak bisa ditahan lagi.
1 jam berselang, tepatnya pukul 3 dini hari. Akhirnya kita sampai juga di kaki gunung yang barusan kita lewati tadi. Entahlah apa nama gunung itu, karena beberapa kali Aku mencari rute perjalanan kami ini di internet, youtube dan google maps tidak pernah ketemu. Mungkin ini jalur gaib kali ya, atau tercantum sebagai 20 jalur paling tidak recomended sedunia. Hihi…
Hiyaaa… Akhirnya ketemu tanah datar lagi, udah capek naik turun gunung sebenernya, Sambil terus melanjutkan perjalanan kita mencoba untuk berjalan sangat pelan karena kondisi waktu itu masih gelap gulita. Jalan yang bisa terlihat ya hanya jalan yang tersinari oleh lampu motor kami. Dan tiba-tiba Kuperhatikan semua motor teman-teman berhenti di depan. Ada apa, pikirku penasaran. Baru setelah Aku melihat apa yang teman-temanku lihat, lantas saja Aku turun dari motor, berdiri dan hanya diam, semua bengong saat itu dan hanya tolah-toleh seperti monyet sedang terkena amnesia.
“kok ada kali”. Hanya itu yang terbesit di pikiran kami, bagaimana bisa ada sungai di tempat seperti ini. memang semenjak berangkat dari rumah kita sudah kehujanan, mungkin ini aliran lahar dingin ya. Sungai itu lebarnya sekitar 5 meter membentang entah dimana ujungnya. Meskipun airnya berkubang alias tidak mengalir tapi panjangnya mungkin lebih dari 3 km, belum lagi keterbatasan jarak pandang kami waktu itu. Ini bagaimana cara melewatinya? Saat itu semua masih diam mematung di atas motornya masing-masing memikirkan cara yang bisa digunakan untuk melewati sungai itu karena tak ada apapun yang bisa digunakan sebagai jembatan. Diam-diam Aku berjalan sendirian menyusuri sungai itu meninggalkan teman-teman mencari bagian sungai yang tak terlalu lebar. Jauh sudah Aku berjalan mungkin sejauh 50 meter akhirnya Kutemukan apa yang aku cari. Lebar sungai ini cuma 2 meter, pasti agak dangkal ya. Perlahan Aku coba memasukkan kakiku kedalamnya berniat untuk menjejaki seberapa dalam bagian sungai ini, tapi kakiku sudah masuk selutut dan belum juga Kurasakan dasar sungainya, sedangkan sejauh mata memandang sungai itu masih tak terlihat ujungnya. Agak sedikit frustasi akhirnya Aku berteriak pada Soleh yang masih duduk di atas motornya. “Leh, coba jejaki daerah situ”. dengan maksud agar soleh memasukkan kakinya kedalam air juga, tapi tidak seperti dugaanku bahwa Soleh akan turun dari motornya dan memasukkan kakinya dalam sungai, Ia malah menyalakan motor dan melajukan motornya menyeberangi sungai itu. Tahu tidak suaranya seperti apa? yang terdengar adalah suara seperti ini:
‘cklekk.. grennggg… wooorr… wooorr… wooorrrr… wiuuuu… Byuurrrr… nggooonnggg… blukutuk… blukutuk… blukutukk… ngggoooonggg… blukutuk… blukutuk… blukutuk… ‘
Pertanyaannya adalah: Dari suara pada kejadian di atas, apakah yang terjadi pada Soleh?
a. Soleh berhasil melewati sungai dengan lancar, aman, terkendali serta barokah dan damai.
b. Soleh putar balik lantas pulang.
c. Soleh hanya bleyer-bleyer dan minum air sungai karena frustasi.
d. Soleh tercebur dalam sungai.
So, apa jawaban kalian? Kalau jawaban kalian D, maka kalian SALAH… karena jawaban yang benar adalah:
F. Soleh bersama anggik yang di boncengnya terjun bebas ke dalam sungai dan terjebak tak bisa naik dengan mesin yang masih meraung-raung dan dengan motor yang tenggelam hingga setinggi dada orang dewasa.
Kalau tadi kita sudah bengong seperti monyet amnesia ya, ini kita malah bengong seperti monyet lagi mainan ciduk cao, ndal ndul..
dan anehnya motor soleh itu tidak mati karena Ia terus menancapkan gasnya dalam-dalam agar air tidak masuk ke knalpot, lebih anehnya lagi kita semua cuma diam, agak susah dicerna otak sebenarnya. ‘Kok bisa, dicemplungin motornya’. Sudah 10 detik mereka di dalam air itu, kontan Anggik loncat dari motor dan menarik motor Soleh dari depan.
Haa.. sebenarnya kita sangat bingung waktu itu, itu mau di apain? apa kita harus nyebur juga membantu Soleh dengan udara seperti ini. Waa… akhirnya yang bisa kita lakukan untuk membantu soleh adalah dengan cara menyemangatinya. “Ayo Leh semangatt… semangat… gas teruss… tarik yang kenceng Nggik… terus gas polll Leh…” hadeh kejamnya dunia ini, eh kita maksudnya. Ya mau bagaimana lagi, udah tahu itu sungai kok diterjang, emang motornya bisa ngambang gitu?
Tapi untungnya motor Soleh bisa naik dan keluar dari sungai itu dengan kondisi masih menyala. Keren ya! udah tenggelam padahal, tapi air tidak masuk ke knalpot dan busi tidak mati. Ya eyalah motor baru geto.
Karena kita tidak seberani Soleh dan karena kita sedang tidak ingin berenang akhirnya kita menyuruh soleh untuk tetap menunggu disitu dan mencari jalan lain. Beberapa puluh meter menyusuri tepian sungai akhirnya kita menemukan ujung dari kubangan air itu, sebenarnya tidak jauh dari tempatku menjejakkan kaki tadi, kenapa tadi tidak berjalan agak jauh sedikit lagi ya!
Setelah bertemu Soleh, kita malah tertawa terbahak-bahak bersama menertawakan Soleh dan Anggik karena mereka basah kuyup dan kedinginan, untung saja motornya tidak mogok, kalau mogok mau nyari bengkel dimana, ini kan gurun pasir, apa mau di kubur saja motornya sama pasir.
Oiya.. Aku baru sadar kalau setelah melewati sungai tadi kita sudah berada di gurun pasir. Emm.. jadi ini yang namanya pasir berbisik itu, nama yang aneh, apanya yang berbisik coba. Karena penasaran Aku coba menempelkan telingaku pada pasir itu berharap bisa mendengar sesuatu yang unik, mungkin pasir ini bisa berbisik sungguhan siapa yang tahu kan ya, Aku coba untuk memejamkan mata, berkonsentrasi dan.. Jujur Aku tidak mendengar apa-apa. Udah, gitu aja.
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi saat ini. Tidak ada rombongan lain disini kecuali kita dan kondisi disini sangat gelap. Kita melanjutkan perjalanan dan entah karena terlalu lelah naik turun gunung, jalan rusak, curam, licin atau kejenuhan dalam perjalanan tadi, teman-teman seakan sangat kegirangan berkendara di jalan yang datar, luas dan berpasir, mereka kebut-kebutan dan berpencar sesuai keinginan mereka sendiri karena ini sudah memasuki kawasan Gunung Bromo bukan, jadi aman. Aku juga senang melihat mereka kejar-kejaran dari belakang, seperti melihat rally dakkar saja hingga motorku berbunyi ‘Ctassss… bleb.. bleb.. blebb.. blebbb…’ motorku mogok lagi.
Astaga… Secepat kilat Aku mencoba menyalakan motorku lagi dengan starter kaki berulang-ulang tapi sama sekali tidak membuahkan hasil, dan Kulihat teman-teman sudah jauh meninggalkanku. Celakalah Aku.. bagaimana ini, Apa Aku telfon saja mereka untuk menungguku atau menjemputku, tapi apa mereka akan dengar dering atau getar ponsel di saku mereka dengan kondisi mereka yang kebut-kebutan itu, pasti mereka tak akan dengar.
Tidak kehabisan akal, karena Aku dulu pernah kursus vokal dan belajar nada tinggi, akhirnya Aku turun dari motor, berdiri tegak, dan mengeluarkan suara tenor ‘Hooooiiii… Aku enteniiiii…’ dari kejauhan samar-samar terlihat Arip berhenti, syukurlah ada yang dengar, Aku tarik nafas dalam-dalam lagi dan berteriak ‘Rippp… sepedahku mogokkkk…’ “Tenang Bud, kita aman, ada Arip dan toha datang sebentar lagi.” Ujarku menenangkan Budi yang terlihat mulai kedinginan karena Ia tak membawa mantel dan hanya beralaskan sendal jepit.
Tak lama kemudian Arip pun datang bersama Toha yang diboncengnya. “Kenapa mas bro?” Tanya Arip. “Mogok lagi Rip, kayaknya terlalu panas deh mesinnya, apa butuh istirahat lagi ya” jelasku. “Ya udah istirahat aja dulu.” Arip menuturkan.
Langganan:
Postingan (Atom)