Dengan sigap kami sudah bersiap untuk melawan mahluk astral, Toha juga sudah mengeluarkan botol air mineral dari tasnya dan ternyata bayangan putih itu adalah manusia. ealahhh…
Orang itu malah menghampiri kami dan bertanya “kok berhenti disini mas, ada apa?”. ngeselin nggak? jadi orang itu sebenarnya usai mencari rumput, Ia memakai kaos putih dan melajukan motornya di jalan menurun dengan kecepatan tinggi tanpa menyalakan mesin motor, tanpa lampu juga. Karena gelap, orang itu seperti bayangan putih sedang terbang. Lagian, ngarit kok juga jam segini to paklek-paklek, bikin kaget orang aja. Lantas orang itu pergi dan kami melanjutkan perjalanan lagi.
5 km dari tempat kami berhenti tadi, kami mulai masuk kawasan hutan. Wow, tempat ini menyeramkan juga menurutku, jalannya terjal, berliku-liku, menanjak pula. tanpa sengaja Aku melihat 3 orang sedang berdiri di bawah pohon, Aku kira motor mereka mogok, dengan sedikit rasa sombong Aku berteriak “Mogok ya Mas, hehe…” pada 3 orang itu. Aku sendiri bingung kenapa Aku bilang begitu ya. 2 menit kemudian Aku mendapat karma dari perbuatanku itu tadi.
Blebb… blebb… blebbbbb beebbbebebbeb…
Wuaaaaaa… motorku mogok. Gimana ini gimana ini gimana ini, masa’ harus dorong motor di tempat seperti ini. Hiks.. saat itulah bayangan wajah 3 orang tadi seakan muncul di depan mataku. Ternyata karma cepat datangnya ya, dan sayup-sayup terdengar suara bising knalpot dari belakangku. Wennggg… weeennnggg… wwweennggg… Treeeettt… Tang.. tang.. tang.. tanggg…
Buset dah, ternyata rombongan Moto Trail. dan pengendaranya adalah? Tiga orang tadi. Hiks.. Aku kira motor mereka mogok tadi, ternyata mereka hanya sedang beristirahat, dan yang paling mengesalkan adalah: Mereka bertiga menggunakan Moto Trail Mini, meskipun motor mereka kecil tapi saat melintasi tikungan menanjak dengan sudut kemiringan 40 derajat, motor mereka tangguh sekali. Lalu Kubandingkan dengan motorku, motor sebesar ini kalah dengan motornya tuyul itu. Menjengkelkan…
Akhirnya, dengan berat hati Aku mendorong motorku dengan Budi, lantas beristirahat sejenak bersama teman-teman yang lain untuk mendinginkan mesin motor kami. Wah, capek juga ternyata ya.
10 menit kemudian kami melanjutkan perjalanan lagi karena motorku sepertinya sudah normal kembali dan kali ini dengan kawasan yang berbeda tentunya. Trek kali ini agak menakutkan, jalannya berupa tanah yang licin, kanan ada tebing, kiri ada jurang yang dalam. Kalau terperosok ke jurang itu ya siap-siap saja jadi sate karena di bawahnya penuh dengan pohon pinus. Saat sedang berkonsentrasi memilih jalan yang tidak licin dan menghindari jurang, Aku dikagetkan oleh teriakan Anggik di depanku yang sedang dibonceng oleh soleh
“Mid.. Mid…”. “Eiya, Vegetoz – Betapa Aku mencintaimu” sahutku. “Ehh, bukan tebak lagu lagi, itu ada rombongan yang hilang satu” Anggik menjelaskan. “Lah, masa’ sih?” tanyaku penasaran. Seketika itu juga kami berhenti dan Anggik mulai mengabsen untuk mencari siapa yang hilang:
Anggik: Al iz ada?
Al iz: Ada Pak.
Anggik: Ali ada?
Ali: Hadirrr…
Anggik: Soleh ada?
Soleh: Nek aku ra enek seng mbonceng koen sopo…
Anggik: Oiya, oke-oke… Rendy ada?
Rendy: Siap, ada gan.
Anggik: Budi ada?
Budi: Ada ada aja deh..
Anggik: Arip ada?
Arip: (TAK ADA JAWABAN)
Anggik: Toha ada?
Toha: (TAK ADA JAWABAN)
Anggik: Oke, personil kita udah lengkap, mari kita lanjutkan perjalanan.
Teman-teman: WOOIIII… WOOOIII… WOOOIII… Arip dan Toha Tiada, eh tidak ada maksudnya, kok lanjut-lanjut aja gimana!
Anggik: Lah, Tu, wa, ga, pat, ma, nam, Waaa… Kurang dua orang, Arip dan Toha kemana? bukankah mereka harusnya bukan di urutan terakhir, kok bisa ketinggalan sih.
Soleh: Gimana kalau kita tunggu sebentar, kalau 5 menit nggak kelihatan baru kita putar balik mencari mereka.
Dan kita sepakat. Memang kondisi di tempat ini sangat rawan, hingga kita lupa dengan peraturan yang kita buat sendiri, mungkin karena kita ingin lekas keluar dari kawasan hutan ini, hutan ini sangat seram, terlebih sekarang jam 2 dini hari.
Untunglah. meskipun agak lama kita menunggu, Arip dan Toha akhirnya muncul juga. Mereka menuturkan kalau mereka berdua habis terpeleset dan jatuh berdua lantas terbelit dengan selimut yang mereka gunakan. Jadi begini: Arip dan Toha itu hanya menggunakan kaos dan celana pendek, entah siapa yang mempunyai ide membawa selimut, mereka berdua berbagi selimut yang sama dan melingkarkannya pada badan mereka saat berboncengan. Bisa dibayangkan kalau mereka jatuh, keduanya akan terlilit dan susah untuk terlepas. hehe…
Aku hanya membayangkan, Aku saja yang memakai 3 jaket sekaligus + jas hujan masih menggigil, apalagi mereka. Kuat sekali tubuh mereka itu…
Kami meminta maaf pada mereka, dan mulai melanjutkan perjalanan lagi dengan sedikit pelan, hingga kami semua berhenti karena persediaan bensin kami sudah mulai menipis.
Untung saja ada yang jual bensin disini, karena sedari tadi tidak kita jumpai satu rumahpun di kawasan ini. Sambil menyalakan rokok Aku sedikit berpikir, ini bawa bensinnya kemari bagaimana ya? Pasti perjuangan sekali ya. Sejenak kami menghangatkan diri dengan mendekat pada api unggun yang dibuat oleh penjual bensin tadi karena udara di daerah ini paling dingin menurutku, sampai-sampai mulut kita mengeluarkan asap saat berbicara.
15 menit berselang kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan lagi. Berjarak kurang dari 10 meter dari tempat kami berhenti tadi terdapat persimpangan jalan yang menghubungkan antara Malang, Bromo, dan Semeru. Banyak orang yang berhenti disana saat itu, seperti kami. Tampaknya mereka juga kebingungan harus mengambil jalur yang mana. Entahlah, Aku juga tak tahu arah mana yang seharusnya kita ambil, Aku hanya pasrah pada Anggik karena tugasku memandu perjalanan hanya sampai pada kota Batu, selebihnya Anggik yang lebih tahu. Kuperhatikan Anggik yang berada di posisi terdepan mengambil turunan arah kiri. Dan jalan itu menurutku sangat memperihatinkan.
Jalanan itu rusak parah, curam, berbatu serta licin, bahkan meskipun Aku menggunakan prosneling 1 di barengi dengan rem depan belakan motorku tetap saja melaju dengan kencang karena curamnya, belum lagi gaya Budi saat membonceng, Ia menumpukan beban tubuhnya pada tubuhku hingga Aku harus meluruskan dua pergelangan tanganku ini kuat-kuat dan menahnnya agar tak terdorong maju. Great, bisa dibayangkan beratnya seperti apa? Seperti sedang menggendong kebo. Berulang kali Aku memperingatkan Budi untuk mundur sedikit tapi Budi masih saja seperti itu. Dan setengah jam pertama sudah bisa Kurasakan leherku sakit karena terlalu lama berkendara dengan menunduk. Jalan ini sungguh Amazing, Aku takut terperosok sebenarnya karena laju motorku seperti sedang meluncur, tak bisa ditahan lagi.
1 jam berselang, tepatnya pukul 3 dini hari. Akhirnya kita sampai juga di kaki gunung yang barusan kita lewati tadi. Entahlah apa nama gunung itu, karena beberapa kali Aku mencari rute perjalanan kami ini di internet, youtube dan google maps tidak pernah ketemu. Mungkin ini jalur gaib kali ya, atau tercantum sebagai 20 jalur paling tidak recomended sedunia. Hihi…
Hiyaaa… Akhirnya ketemu tanah datar lagi, udah capek naik turun gunung sebenernya, Sambil terus melanjutkan perjalanan kita mencoba untuk berjalan sangat pelan karena kondisi waktu itu masih gelap gulita. Jalan yang bisa terlihat ya hanya jalan yang tersinari oleh lampu motor kami. Dan tiba-tiba Kuperhatikan semua motor teman-teman berhenti di depan. Ada apa, pikirku penasaran. Baru setelah Aku melihat apa yang teman-temanku lihat, lantas saja Aku turun dari motor, berdiri dan hanya diam, semua bengong saat itu dan hanya tolah-toleh seperti monyet sedang terkena amnesia.
“kok ada kali”. Hanya itu yang terbesit di pikiran kami, bagaimana bisa ada sungai di tempat seperti ini. memang semenjak berangkat dari rumah kita sudah kehujanan, mungkin ini aliran lahar dingin ya. Sungai itu lebarnya sekitar 5 meter membentang entah dimana ujungnya. Meskipun airnya berkubang alias tidak mengalir tapi panjangnya mungkin lebih dari 3 km, belum lagi keterbatasan jarak pandang kami waktu itu. Ini bagaimana cara melewatinya? Saat itu semua masih diam mematung di atas motornya masing-masing memikirkan cara yang bisa digunakan untuk melewati sungai itu karena tak ada apapun yang bisa digunakan sebagai jembatan. Diam-diam Aku berjalan sendirian menyusuri sungai itu meninggalkan teman-teman mencari bagian sungai yang tak terlalu lebar. Jauh sudah Aku berjalan mungkin sejauh 50 meter akhirnya Kutemukan apa yang aku cari. Lebar sungai ini cuma 2 meter, pasti agak dangkal ya. Perlahan Aku coba memasukkan kakiku kedalamnya berniat untuk menjejaki seberapa dalam bagian sungai ini, tapi kakiku sudah masuk selutut dan belum juga Kurasakan dasar sungainya, sedangkan sejauh mata memandang sungai itu masih tak terlihat ujungnya. Agak sedikit frustasi akhirnya Aku berteriak pada Soleh yang masih duduk di atas motornya. “Leh, coba jejaki daerah situ”. dengan maksud agar soleh memasukkan kakinya kedalam air juga, tapi tidak seperti dugaanku bahwa Soleh akan turun dari motornya dan memasukkan kakinya dalam sungai, Ia malah menyalakan motor dan melajukan motornya menyeberangi sungai itu. Tahu tidak suaranya seperti apa? yang terdengar adalah suara seperti ini:
‘cklekk.. grennggg… wooorr… wooorr… wooorrrr… wiuuuu… Byuurrrr… nggooonnggg… blukutuk… blukutuk… blukutukk… ngggoooonggg… blukutuk… blukutuk… blukutuk… ‘
Pertanyaannya adalah: Dari suara pada kejadian di atas, apakah yang terjadi pada Soleh?
a. Soleh berhasil melewati sungai dengan lancar, aman, terkendali serta barokah dan damai.
b. Soleh putar balik lantas pulang.
c. Soleh hanya bleyer-bleyer dan minum air sungai karena frustasi.
d. Soleh tercebur dalam sungai.
So, apa jawaban kalian? Kalau jawaban kalian D, maka kalian SALAH… karena jawaban yang benar adalah:
F. Soleh bersama anggik yang di boncengnya terjun bebas ke dalam sungai dan terjebak tak bisa naik dengan mesin yang masih meraung-raung dan dengan motor yang tenggelam hingga setinggi dada orang dewasa.
Kalau tadi kita sudah bengong seperti monyet amnesia ya, ini kita malah bengong seperti monyet lagi mainan ciduk cao, ndal ndul..
dan anehnya motor soleh itu tidak mati karena Ia terus menancapkan gasnya dalam-dalam agar air tidak masuk ke knalpot, lebih anehnya lagi kita semua cuma diam, agak susah dicerna otak sebenarnya. ‘Kok bisa, dicemplungin motornya’. Sudah 10 detik mereka di dalam air itu, kontan Anggik loncat dari motor dan menarik motor Soleh dari depan.
Haa.. sebenarnya kita sangat bingung waktu itu, itu mau di apain? apa kita harus nyebur juga membantu Soleh dengan udara seperti ini. Waa… akhirnya yang bisa kita lakukan untuk membantu soleh adalah dengan cara menyemangatinya. “Ayo Leh semangatt… semangat… gas teruss… tarik yang kenceng Nggik… terus gas polll Leh…” hadeh kejamnya dunia ini, eh kita maksudnya. Ya mau bagaimana lagi, udah tahu itu sungai kok diterjang, emang motornya bisa ngambang gitu?
Tapi untungnya motor Soleh bisa naik dan keluar dari sungai itu dengan kondisi masih menyala. Keren ya! udah tenggelam padahal, tapi air tidak masuk ke knalpot dan busi tidak mati. Ya eyalah motor baru geto.
Karena kita tidak seberani Soleh dan karena kita sedang tidak ingin berenang akhirnya kita menyuruh soleh untuk tetap menunggu disitu dan mencari jalan lain. Beberapa puluh meter menyusuri tepian sungai akhirnya kita menemukan ujung dari kubangan air itu, sebenarnya tidak jauh dari tempatku menjejakkan kaki tadi, kenapa tadi tidak berjalan agak jauh sedikit lagi ya!
Setelah bertemu Soleh, kita malah tertawa terbahak-bahak bersama menertawakan Soleh dan Anggik karena mereka basah kuyup dan kedinginan, untung saja motornya tidak mogok, kalau mogok mau nyari bengkel dimana, ini kan gurun pasir, apa mau di kubur saja motornya sama pasir.
Oiya.. Aku baru sadar kalau setelah melewati sungai tadi kita sudah berada di gurun pasir. Emm.. jadi ini yang namanya pasir berbisik itu, nama yang aneh, apanya yang berbisik coba. Karena penasaran Aku coba menempelkan telingaku pada pasir itu berharap bisa mendengar sesuatu yang unik, mungkin pasir ini bisa berbisik sungguhan siapa yang tahu kan ya, Aku coba untuk memejamkan mata, berkonsentrasi dan.. Jujur Aku tidak mendengar apa-apa. Udah, gitu aja.
Waktu sudah menunjukkan pukul 3 pagi saat ini. Tidak ada rombongan lain disini kecuali kita dan kondisi disini sangat gelap. Kita melanjutkan perjalanan dan entah karena terlalu lelah naik turun gunung, jalan rusak, curam, licin atau kejenuhan dalam perjalanan tadi, teman-teman seakan sangat kegirangan berkendara di jalan yang datar, luas dan berpasir, mereka kebut-kebutan dan berpencar sesuai keinginan mereka sendiri karena ini sudah memasuki kawasan Gunung Bromo bukan, jadi aman. Aku juga senang melihat mereka kejar-kejaran dari belakang, seperti melihat rally dakkar saja hingga motorku berbunyi ‘Ctassss… bleb.. bleb.. blebb.. blebbb…’ motorku mogok lagi.
Astaga… Secepat kilat Aku mencoba menyalakan motorku lagi dengan starter kaki berulang-ulang tapi sama sekali tidak membuahkan hasil, dan Kulihat teman-teman sudah jauh meninggalkanku. Celakalah Aku.. bagaimana ini, Apa Aku telfon saja mereka untuk menungguku atau menjemputku, tapi apa mereka akan dengar dering atau getar ponsel di saku mereka dengan kondisi mereka yang kebut-kebutan itu, pasti mereka tak akan dengar.
Tidak kehabisan akal, karena Aku dulu pernah kursus vokal dan belajar nada tinggi, akhirnya Aku turun dari motor, berdiri tegak, dan mengeluarkan suara tenor ‘Hooooiiii… Aku enteniiiii…’ dari kejauhan samar-samar terlihat Arip berhenti, syukurlah ada yang dengar, Aku tarik nafas dalam-dalam lagi dan berteriak ‘Rippp… sepedahku mogokkkk…’ “Tenang Bud, kita aman, ada Arip dan toha datang sebentar lagi.” Ujarku menenangkan Budi yang terlihat mulai kedinginan karena Ia tak membawa mantel dan hanya beralaskan sendal jepit.
Tak lama kemudian Arip pun datang bersama Toha yang diboncengnya. “Kenapa mas bro?” Tanya Arip. “Mogok lagi Rip, kayaknya terlalu panas deh mesinnya, apa butuh istirahat lagi ya” jelasku. “Ya udah istirahat aja dulu.” Arip menuturkan.
Jumat, 18 November 2016
Trap On Trip Part 1
“Come on Leh, You can do it”
Teriakku pada Soleh sambil mengulurkan tanganku untuk membantunya mendaki gunung Semeru. “Ayo Rip kurang sedikit lagi” teriakku lagi pada Arip yang berada 5 langkah di bawah Soleh, namun tiba-tiba Arip berteriak dari bawah “Awas Mid, longsorr”. Belum sempat Aku melihat ke arah longsor itu, kepalaku tiba-tiba dihantam oleh sebuah batu besar. Jeduarrr… dan…?
Huah… huah… huah… Mana batunya tadi? Mana mana mana? Buset deh, cuma mimpi toh, tapi kok sakit juga ini kepala ya. Lantas Kulihat jam pada layar Handphoneku, Lah baru jam 2 pagi, tidur lagi aja deh, z z z z z z z z z …
Keesokan hari, Secara tidak sengaja, Aku bertemu teman-temanku di sebuah kedai kopi langganan kami. Sebenarnya, jarang sekali kami bisa berkumpul bersama, karena kesibukan kami masing-masing. Di sana ada Arif Al Ahmady (a.k.a. Arip), M Feri Aghni M (a.k.a. Anggik), Pengejar Illusi (a.k.a. Toha), Soleh, Hirruma (a.k.a. Budi) dan Alie Wy Do (a.k.a. Ali).
Bagi yang belum kenal mereka, mereka itu adalah teman baikku, bahkan sudah seperti saudara bagiku. Perkenalanku dengan mereka juga bisa dibilang gokil abis dan tidak layak untuk diceritakan secara keseluruhan, tapi akan Aku ceritakan sedikit saja sebagai perkenalan awal, hehe…
Semisal saja Arip, awal Aku bertemu dengannya adalah saat Aku mulai rutin pergi ke kedai kopi dekat rumahku, Aku bertemu dengannya di sana, berkenalan lantas berteman dan akhirnya kita kuliah di Universitas yang sama, kita berangkat kuliah bersama. Dia orangnya baik, terbuka, jujur dan apa adanya. pokoknya Do’i low profile banget deh, best friend pokoknya.
Lalu Anggik. Kalau yang ini sudah pada tahu semua kan ya, Dia saudara sepupuku. Kita sekolah di sekolahan yang sama saat SMA. Do’i orangnya ramah, mudah bergaul dengan siapa saja, murah senyum, asik, dan yang paling penting, Anggik itu negosiator yang handal. Jadi kalau ketemu orang agak mbulet, itu bagiannya. Pasti beres.
Lanjut ke Toha. Wah kalau Toha sih orangnya baik (Tempramen, tukang pukul, menguasai 75 teknik bela diri, keras kepala, suka marah-marah). Udah, gitu aja.
Next, Soleh. Wah bicara orang satu ini Aku jadi langsung teringat dengan aspal jalan. Gimana enggak, Do’i itu anak motor, tiga-perempat dari hidupnya Ia habiskan di jalan, keren nggak. Touring melulu kerjaannya tuh. Pagi di bojonegoro, siang di pandaan, sore di pacet, malem di telaga sarangan. Rumahnya Cepu tapi kalau ngopi di Babat, tiap hari lagi. Aku akui deh kalau Do’i itu orangnya lincah, tahan banting, Dewasa melebihi teman-teman sebayanya. Do’i itu masih ada hubungan keluarga dengan Arip seingatku. Karena sering Touring, jadi Do’i punya daftar tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi. Anggap saja Do’i sebagai Google Maps versi manusia. hehe…
Ini dia orang yang paling gokil, Budi. Gimana ya? Wah pokoknya Do’i tu baik banget deh pokoknya, hatinya masih murni, suci, tak tersentuh oleh debu, polos, lugu, ringan tangan, tulus. Do’i itu dari kecil tinggal di luar jawa, saat SMA Do’i pindah ke sini dan jadi tetanggaku, aslinya sih kelahiran sini juga. tapi ada hal unik lain yang dimiliki Budi, mungkin kebiasaan dari daerah tempat tinggalnya dulu, Ia selalu membalas saat seseorang menepuk pundaknya, mungkin di daerahnya dulu banyak terjadi aksi gendam ya. jadi kalau ingin mengerjai Budi itu gampang, tepuk saja pudaknya dan larilah sekencang mungkin, secapek apapun dia, dia pasti akan tetap mengejarmu untuk menepuk pundakmu juga. hehe…
Dan yang terakhir adalah Ali, masih satu desa dengan Arip dan Soleh, Do’i itu punya sifat keras tapi tetap baik hati, dermawan dan jago menggabungkan potongan besi. Jadi, kalau ingin pesan pagar rumah dsb, ke Do’i saja deh.
So, Waktu itu kami hanya duduk-duduk saja, sekedar makan dan menikmati secangkir kopi karena hari ini memang semua sedang libur dari aktifitasnya masing-masing. Kita hanya bercanda dan menikmati hari beranjak menuju sore, kalau anak jaman sekarang bilang sih Quality Time. Tiba-tiba Soleh (yang mendadak suka bicara bahasa inggris karena pacarnya kerja di luar negeri) bertanya pada kami “Ehh, tahun baru kemana kita nih?”. Dan Aku baru sadar kalau sekarang tanggal 31 Desember, wah.. iya ya, besok kan tahun baru masa’ kita di rumah aja. Jalan-jalan yuk kemana gitu. “Bagaimana kalau ke laut” ujar Soleh. “Wah kan baru kemarin kita ke laut masa’ ke laut lagi” jawab Arip. “Bagaimana kalau ke itu saja, ke pantai” timpal Ali. “Lah, laut apanya pantai” sahut Budi.
“Tadi malam Aku mimpi ke gunung” gumamku. “Apa’an? Ke gunung?” sahut Soleh penasaran. “Oiya gimana kalau kita ke gunung aja, kita kan belum pernah ke gunung rame-rame” timpal Anggik. Setelah sedikit berunding, akhirnya kita memutuskan untuk berlibur ke Gunung Bromo.
Tanpa pikir panjang, akhirnya tepat jam 6 sore kami berkumpul di rumah arip sambil memasangi stiker berbahan fosfor di setiap bagian belakang helm kami dan membagi urutan siapa yang nanti dalam perjalanan berada paling depan dan paling belakang, itu kami butuhkan agar tak ada seorangpun yang tertinggal dan mempermudah pengawasan, jadi tugas pengendara paling depan adalah memandu perjalanan dengan berkendara dengan kecepatan konstan dan memberikan isyarat lampu sein bila akan berbelok, mendahului serta isyarat kedip lampu rem jika ada sesuatu yang membahayakan di depan, dan tugas pengendara paling belakang adalah tetap berada pada posisi paling belakang hingga tempat tujuan serta memberi tahu pengendara paling depan bila ada salah seorang dari rombongan yang motornya mogok atau ada yang ingin berhenti. Saat pengendara paling depan berhenti, semua akan ikut berhenti. itu yang membuat kami bisa melakukan perjalanan dengan cepat, tak ada yang terpisah dari rombongan, dan semoga perjalanan menuju Gunung Bromo lancar-lancar saja.
Selepas sholat magrib kami pun memulai perjalanan dengan harapan nanti jam 10 malam kami bisa beristirahat dahulu di rumah kontrakan Anggik yang berada di Malang, sambil menjemput seorang temannya yang katanya ingin ikut juga. Berjarak 5 km dari rumah kita berhenti sejenak di pom bensin sambil mengenakan mantel karena tampaknya gerimis sudah mulai membasahi kaca helm kami. Diam-diam Aku juga mengganjal panel lampu sorot motorku dengan paku kecil agar bisa menerangi jalan kawan-kawan di belakang karena Aku yang berada di posisi paling depan dan rute ke Malang lewat jombang, melintasi ngimbang, pujon serta ngantang, benar-benar tak ada lampu penerangan jalan disana kalau malam.
Wusshh.. wusshh.. wusshh…
Sebenarnya, semenjak beranjak dari pom bensin Aku sudah merasakan atmosphere MotoGP dari gelagat reman-teman di belakang. Mereka melajukan motornya kencang sekali. Mereka ingin mendahuluiku tapi ingin tetap pada aturan yang di sepakati bersama. Alhasil, motor mereka dekat sekali dengan motorku (antri) sambil bleyer-bleyer woorr… worrr… kurang banter. Tapi ini demi keselamatan kita bersama bukan jadi Aku tetap berkendara slow di kecepatan 100 km/jam.
Dari Babat hingga Kalen, perjalanan lancar-lancar saja kelihatannya, hingga kami memasuki kecamatan Modo. Kok ada yang aneh ya, perasaan makin gelap aja, padahal masih ada lampu penerangan jalan. Saat itulah tubuhku tiba-tiba saja merinding dan Aku seperti mendengar bisikan gaib. Bisikan itu sayup-sayup terdengar seperti berkata “Mas mas, lampumu mati”. Cettaarrr… Aku coba perhatikan, memang lampu motorku mati. Waaaaa… kok bisa sih, mati di tempat seperti ini. Secara reflek Aku menyalakan lampu sein dan mengedipkan lampu rem sebagai isyarat tanda bahaya sambil mengurangi kecepatan lantas berhenti di tepi jalan. Teman-teman pun turut berhenti, dengan wajah sedikit penasaran, raut muka mereka seakan menanyakan kenapa kita tiba-tiba berhenti disini, padahal perjalanan baru saja dimulai. “Ehh, gimana ini, lampuku mati, yang nyala tinggal lampu kota aja” ujarku. “Waduh, perjalanan masih jauh, malam makin gelap, hujan lagi. tanpa lampu, kamu nggak mungkin bisa sampai malang dengan selamat deh” jawab Ali. “Kita cari bengkel dulu” imbuhnya. Akhirnya kami mencari bengkel motor terdekat.
Perjalanan kan baru 25 km. Apa gara-gara Aku mengganjal panel lampu sorotnya ya sampai lampunya putus. dan malangnya setiap bengkel terdekat yang kami kunjungi sedang tutup. Ini kan malam tahun baru ya, pasti lagi malam tahun baruan semua ini, waduh-waduh.
Karena tak mau membuang waktu hanya karena mengurusi motorku saja, Aku putuskan untuk melanjutkan perjalanan dan mencari bengkel atau toko sparepart di daerah berikutnya yaitu daerah Ploso. Sebenarnya takut teman-teman kecewa saja. Oke, gimana? kita lanjut? perjalanan masih jauh, jangan sampai kita kelewatan menyaksikan Sunrise di Bromo yang katanya aduhai gitu, “Leh gantian kamu yang di depan ya, Aku di belakangmu aja biar bisa lihat jalan dari lampu motormu, oke?” Permintaanku pada Soleh yang mengendarai motor Satrio fuh yang baru Ia beli seminggu lalu. “Woke..” jawab Soleh. dan apakah yang terjadi? Three.. two.. one.. Goooooo… Worr.. worrr… teeetttttt… Buju buneng, belum juga Aku pake helm udah ilang aja tu Soleh (Maklum, motor baru). Lantas saja kami melanjutkan perjalanan. ini niatnya mau jalan-jalan malah jadi seperti balap liar, semua ikut kebut-kebutan.
Sesampainya di Ploso kami berhenti sejenak untuk membeli lampu motorku dan menggantinya sendiri. untung saja ada Soleh dan Ali yang membantu. fyuh, sudah jam 9 malam. Sepertinya, perkiraan sampai kota malang bakalan molor nih. “Mid, udah nyala nih lampunya” ujar Soleh. “Wah, thanks mas bro. ayo kita langsung lanjut aja gimana. ini udah jam 9 malem e, takutnya nanti jam 12 malam kita belum sampai malang bisa terjebak macet di kota Batu” ujarku.
Akhirnya, kami bergerak kembali melanjutkan perjalanan dengan Aku yang berada di posisi terdepan lagi, biar nggak kebut-kebutan lagi maksudnya. Ngantang hingga Pujon semua tampak lancar saja meskipun di Kota Batu memang macet karena jalanan sudah dipadati muda-mudi yang sedang menanti malam pergantian tahun, kami mencari jalur alternatif lain menuju kontrakan Anggik untuk menjemput Rendi. dan sebuah insiden terjadi lagi, saat kami melewati jalur alternatif menuju Kota Batu yang terkenal dengan jalan yang sangat curam itu, dari kaca spion Ku perhatikan Ali yang berada tepat di belakangku membuat jarak yang terlalu dekat, entah karena lampu motornya yang kurang terang atau memang gaya berkendaranya seperti itu. Sudah beberapa kali Aku memperlebar jarak namun Ia masih saja membuntutiku, lantas tiba-tiba Aku dikagetkan oleh jalan yang berlubang besar di depan, kontan Kubanting stir motorku menghindarinya, namun sayang Ali tidak menyadari akan hal itu dan Ia bersama Budi yang diboncengnya terpelanting hingga terperosok ke semak-semak.
“Mid.. mid.. mid..” Teriak Anggik sambil menepuk pundakku berkali-kali. “Iya, Inka christie – Gambaran cinta” jawabku. “Ehh.. bukan tebak lagu, itu ada yang jatuh di belakang” ujar Anggik sedikit panik. Aku menoleh ke belakang dan memang benar teman-teman sudah berhenti semua membantu Ali serta Budi. ini untuk putar balik juga susah sekali karena jalanan sangat curam. Usai membantu mereka berdua untuk berdiri, Kuperhatikan mereka. Kaca lampu motor Ali pecah dan celana mereka berdua sobek-sobek bercampur tanah. “Aduh pren, kita jaga jarak semua ya, jalannya terlalu curam nih, kira-kira setengah jam lagi kita sudah sampai kontrakan Anggik, kita bisa istirahat sebentar disana dan mengobati luka Ali dan Budi” kataku. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan lagi dengan meroling penumpang yang tadinya Budi dibonceng Ali, sekarang Aku yang memboncengnya. Hebatnya Budi hanya memakai helm, jaket, celana jeans dan sendal, tanpa sepatu, tanpa jas hujan dan tanpa tas perbekalan. Amazing deh pokoknya Budi itu.
Pukul 23.00 wib
Akhirnya kami sampai juga di kontrakan Anggik. Wah, lelah sekali tubuh ini karena sejak dari rumah kita sampai disini kami kehujanan dan nampaknya belum akan reda juga. Di sana kami bertemu Rendi, teman Anggik yang katanya ingin sekali ikut ke Gunung Bromo. Kami beristirahat sejenak untuk sekedar makan, mendinginkan motor, membersihkan pakaian dan mengobati luka dua teman kami tadi. Lucunya, celana Budi itu kotor sekali dengan tanah, tapi Ia tidak membawa pakaian ganti, jadi mau tidak mau Ia akan melanjutkan perjalanan dengan celana kumal plus bolong-bolong itu, hadeehh Budi budi…
01.00 W.I.B
Kami melanjutkan perjalanan dari Kota Batu menuju Gunung Bromo. Entahlah rute mana ini yang akan dilalui Anggik, Aku tak sebegitu tahu arah ke Gunung Bromo, yang pasti Anggik pernah bilang Malang-Tumpang-Bromo, di sekitaran itulah rute yang kami ambil, Aku cari di peta pun tidak kelihatan rute itu. Dan entah di daerah mana ini, kami sudah mulai memasuki kawasan pemukiman dengan jalan yang menanjak. Dari roman-romannya sepertinya pemukiman ini pemukiman masyarakat tengger (kalau Aku tidak salah sih). Beberapa ratus meter pemukiman tadi telah kita lewati dan kita sekarang sedang berada di kawasan kebun kopi. Wow, sudah hujan, dingin, nggak ada rumah, jalannya menanjak, nggak ada lampu jalan, gelap gulita dan… tanpa dikomando tiba-tiba rombongan berhenti. Kita berhenti karena dari arah berlawanan tampak ada sosok bayangan putih sedang terbang menuju arah kami, kita saling pandang satu sama lain, yang ada di benak kami saat itu adalah ada pocong sedang terbang. Tapi, pocong kan loncat-loncat ya, yang terbang itu kan… Waaaa… kuntilanak…
Teriakku pada Soleh sambil mengulurkan tanganku untuk membantunya mendaki gunung Semeru. “Ayo Rip kurang sedikit lagi” teriakku lagi pada Arip yang berada 5 langkah di bawah Soleh, namun tiba-tiba Arip berteriak dari bawah “Awas Mid, longsorr”. Belum sempat Aku melihat ke arah longsor itu, kepalaku tiba-tiba dihantam oleh sebuah batu besar. Jeduarrr… dan…?
Huah… huah… huah… Mana batunya tadi? Mana mana mana? Buset deh, cuma mimpi toh, tapi kok sakit juga ini kepala ya. Lantas Kulihat jam pada layar Handphoneku, Lah baru jam 2 pagi, tidur lagi aja deh, z z z z z z z z z …
Keesokan hari, Secara tidak sengaja, Aku bertemu teman-temanku di sebuah kedai kopi langganan kami. Sebenarnya, jarang sekali kami bisa berkumpul bersama, karena kesibukan kami masing-masing. Di sana ada Arif Al Ahmady (a.k.a. Arip), M Feri Aghni M (a.k.a. Anggik), Pengejar Illusi (a.k.a. Toha), Soleh, Hirruma (a.k.a. Budi) dan Alie Wy Do (a.k.a. Ali).
Bagi yang belum kenal mereka, mereka itu adalah teman baikku, bahkan sudah seperti saudara bagiku. Perkenalanku dengan mereka juga bisa dibilang gokil abis dan tidak layak untuk diceritakan secara keseluruhan, tapi akan Aku ceritakan sedikit saja sebagai perkenalan awal, hehe…
Semisal saja Arip, awal Aku bertemu dengannya adalah saat Aku mulai rutin pergi ke kedai kopi dekat rumahku, Aku bertemu dengannya di sana, berkenalan lantas berteman dan akhirnya kita kuliah di Universitas yang sama, kita berangkat kuliah bersama. Dia orangnya baik, terbuka, jujur dan apa adanya. pokoknya Do’i low profile banget deh, best friend pokoknya.
Lalu Anggik. Kalau yang ini sudah pada tahu semua kan ya, Dia saudara sepupuku. Kita sekolah di sekolahan yang sama saat SMA. Do’i orangnya ramah, mudah bergaul dengan siapa saja, murah senyum, asik, dan yang paling penting, Anggik itu negosiator yang handal. Jadi kalau ketemu orang agak mbulet, itu bagiannya. Pasti beres.
Lanjut ke Toha. Wah kalau Toha sih orangnya baik (Tempramen, tukang pukul, menguasai 75 teknik bela diri, keras kepala, suka marah-marah). Udah, gitu aja.
Next, Soleh. Wah bicara orang satu ini Aku jadi langsung teringat dengan aspal jalan. Gimana enggak, Do’i itu anak motor, tiga-perempat dari hidupnya Ia habiskan di jalan, keren nggak. Touring melulu kerjaannya tuh. Pagi di bojonegoro, siang di pandaan, sore di pacet, malem di telaga sarangan. Rumahnya Cepu tapi kalau ngopi di Babat, tiap hari lagi. Aku akui deh kalau Do’i itu orangnya lincah, tahan banting, Dewasa melebihi teman-teman sebayanya. Do’i itu masih ada hubungan keluarga dengan Arip seingatku. Karena sering Touring, jadi Do’i punya daftar tempat wisata yang menarik untuk dikunjungi. Anggap saja Do’i sebagai Google Maps versi manusia. hehe…
Ini dia orang yang paling gokil, Budi. Gimana ya? Wah pokoknya Do’i tu baik banget deh pokoknya, hatinya masih murni, suci, tak tersentuh oleh debu, polos, lugu, ringan tangan, tulus. Do’i itu dari kecil tinggal di luar jawa, saat SMA Do’i pindah ke sini dan jadi tetanggaku, aslinya sih kelahiran sini juga. tapi ada hal unik lain yang dimiliki Budi, mungkin kebiasaan dari daerah tempat tinggalnya dulu, Ia selalu membalas saat seseorang menepuk pundaknya, mungkin di daerahnya dulu banyak terjadi aksi gendam ya. jadi kalau ingin mengerjai Budi itu gampang, tepuk saja pudaknya dan larilah sekencang mungkin, secapek apapun dia, dia pasti akan tetap mengejarmu untuk menepuk pundakmu juga. hehe…
Dan yang terakhir adalah Ali, masih satu desa dengan Arip dan Soleh, Do’i itu punya sifat keras tapi tetap baik hati, dermawan dan jago menggabungkan potongan besi. Jadi, kalau ingin pesan pagar rumah dsb, ke Do’i saja deh.
So, Waktu itu kami hanya duduk-duduk saja, sekedar makan dan menikmati secangkir kopi karena hari ini memang semua sedang libur dari aktifitasnya masing-masing. Kita hanya bercanda dan menikmati hari beranjak menuju sore, kalau anak jaman sekarang bilang sih Quality Time. Tiba-tiba Soleh (yang mendadak suka bicara bahasa inggris karena pacarnya kerja di luar negeri) bertanya pada kami “Ehh, tahun baru kemana kita nih?”. Dan Aku baru sadar kalau sekarang tanggal 31 Desember, wah.. iya ya, besok kan tahun baru masa’ kita di rumah aja. Jalan-jalan yuk kemana gitu. “Bagaimana kalau ke laut” ujar Soleh. “Wah kan baru kemarin kita ke laut masa’ ke laut lagi” jawab Arip. “Bagaimana kalau ke itu saja, ke pantai” timpal Ali. “Lah, laut apanya pantai” sahut Budi.
“Tadi malam Aku mimpi ke gunung” gumamku. “Apa’an? Ke gunung?” sahut Soleh penasaran. “Oiya gimana kalau kita ke gunung aja, kita kan belum pernah ke gunung rame-rame” timpal Anggik. Setelah sedikit berunding, akhirnya kita memutuskan untuk berlibur ke Gunung Bromo.
Tanpa pikir panjang, akhirnya tepat jam 6 sore kami berkumpul di rumah arip sambil memasangi stiker berbahan fosfor di setiap bagian belakang helm kami dan membagi urutan siapa yang nanti dalam perjalanan berada paling depan dan paling belakang, itu kami butuhkan agar tak ada seorangpun yang tertinggal dan mempermudah pengawasan, jadi tugas pengendara paling depan adalah memandu perjalanan dengan berkendara dengan kecepatan konstan dan memberikan isyarat lampu sein bila akan berbelok, mendahului serta isyarat kedip lampu rem jika ada sesuatu yang membahayakan di depan, dan tugas pengendara paling belakang adalah tetap berada pada posisi paling belakang hingga tempat tujuan serta memberi tahu pengendara paling depan bila ada salah seorang dari rombongan yang motornya mogok atau ada yang ingin berhenti. Saat pengendara paling depan berhenti, semua akan ikut berhenti. itu yang membuat kami bisa melakukan perjalanan dengan cepat, tak ada yang terpisah dari rombongan, dan semoga perjalanan menuju Gunung Bromo lancar-lancar saja.
Selepas sholat magrib kami pun memulai perjalanan dengan harapan nanti jam 10 malam kami bisa beristirahat dahulu di rumah kontrakan Anggik yang berada di Malang, sambil menjemput seorang temannya yang katanya ingin ikut juga. Berjarak 5 km dari rumah kita berhenti sejenak di pom bensin sambil mengenakan mantel karena tampaknya gerimis sudah mulai membasahi kaca helm kami. Diam-diam Aku juga mengganjal panel lampu sorot motorku dengan paku kecil agar bisa menerangi jalan kawan-kawan di belakang karena Aku yang berada di posisi paling depan dan rute ke Malang lewat jombang, melintasi ngimbang, pujon serta ngantang, benar-benar tak ada lampu penerangan jalan disana kalau malam.
Wusshh.. wusshh.. wusshh…
Sebenarnya, semenjak beranjak dari pom bensin Aku sudah merasakan atmosphere MotoGP dari gelagat reman-teman di belakang. Mereka melajukan motornya kencang sekali. Mereka ingin mendahuluiku tapi ingin tetap pada aturan yang di sepakati bersama. Alhasil, motor mereka dekat sekali dengan motorku (antri) sambil bleyer-bleyer woorr… worrr… kurang banter. Tapi ini demi keselamatan kita bersama bukan jadi Aku tetap berkendara slow di kecepatan 100 km/jam.
Dari Babat hingga Kalen, perjalanan lancar-lancar saja kelihatannya, hingga kami memasuki kecamatan Modo. Kok ada yang aneh ya, perasaan makin gelap aja, padahal masih ada lampu penerangan jalan. Saat itulah tubuhku tiba-tiba saja merinding dan Aku seperti mendengar bisikan gaib. Bisikan itu sayup-sayup terdengar seperti berkata “Mas mas, lampumu mati”. Cettaarrr… Aku coba perhatikan, memang lampu motorku mati. Waaaaa… kok bisa sih, mati di tempat seperti ini. Secara reflek Aku menyalakan lampu sein dan mengedipkan lampu rem sebagai isyarat tanda bahaya sambil mengurangi kecepatan lantas berhenti di tepi jalan. Teman-teman pun turut berhenti, dengan wajah sedikit penasaran, raut muka mereka seakan menanyakan kenapa kita tiba-tiba berhenti disini, padahal perjalanan baru saja dimulai. “Ehh, gimana ini, lampuku mati, yang nyala tinggal lampu kota aja” ujarku. “Waduh, perjalanan masih jauh, malam makin gelap, hujan lagi. tanpa lampu, kamu nggak mungkin bisa sampai malang dengan selamat deh” jawab Ali. “Kita cari bengkel dulu” imbuhnya. Akhirnya kami mencari bengkel motor terdekat.
Perjalanan kan baru 25 km. Apa gara-gara Aku mengganjal panel lampu sorotnya ya sampai lampunya putus. dan malangnya setiap bengkel terdekat yang kami kunjungi sedang tutup. Ini kan malam tahun baru ya, pasti lagi malam tahun baruan semua ini, waduh-waduh.
Karena tak mau membuang waktu hanya karena mengurusi motorku saja, Aku putuskan untuk melanjutkan perjalanan dan mencari bengkel atau toko sparepart di daerah berikutnya yaitu daerah Ploso. Sebenarnya takut teman-teman kecewa saja. Oke, gimana? kita lanjut? perjalanan masih jauh, jangan sampai kita kelewatan menyaksikan Sunrise di Bromo yang katanya aduhai gitu, “Leh gantian kamu yang di depan ya, Aku di belakangmu aja biar bisa lihat jalan dari lampu motormu, oke?” Permintaanku pada Soleh yang mengendarai motor Satrio fuh yang baru Ia beli seminggu lalu. “Woke..” jawab Soleh. dan apakah yang terjadi? Three.. two.. one.. Goooooo… Worr.. worrr… teeetttttt… Buju buneng, belum juga Aku pake helm udah ilang aja tu Soleh (Maklum, motor baru). Lantas saja kami melanjutkan perjalanan. ini niatnya mau jalan-jalan malah jadi seperti balap liar, semua ikut kebut-kebutan.
Sesampainya di Ploso kami berhenti sejenak untuk membeli lampu motorku dan menggantinya sendiri. untung saja ada Soleh dan Ali yang membantu. fyuh, sudah jam 9 malam. Sepertinya, perkiraan sampai kota malang bakalan molor nih. “Mid, udah nyala nih lampunya” ujar Soleh. “Wah, thanks mas bro. ayo kita langsung lanjut aja gimana. ini udah jam 9 malem e, takutnya nanti jam 12 malam kita belum sampai malang bisa terjebak macet di kota Batu” ujarku.
Akhirnya, kami bergerak kembali melanjutkan perjalanan dengan Aku yang berada di posisi terdepan lagi, biar nggak kebut-kebutan lagi maksudnya. Ngantang hingga Pujon semua tampak lancar saja meskipun di Kota Batu memang macet karena jalanan sudah dipadati muda-mudi yang sedang menanti malam pergantian tahun, kami mencari jalur alternatif lain menuju kontrakan Anggik untuk menjemput Rendi. dan sebuah insiden terjadi lagi, saat kami melewati jalur alternatif menuju Kota Batu yang terkenal dengan jalan yang sangat curam itu, dari kaca spion Ku perhatikan Ali yang berada tepat di belakangku membuat jarak yang terlalu dekat, entah karena lampu motornya yang kurang terang atau memang gaya berkendaranya seperti itu. Sudah beberapa kali Aku memperlebar jarak namun Ia masih saja membuntutiku, lantas tiba-tiba Aku dikagetkan oleh jalan yang berlubang besar di depan, kontan Kubanting stir motorku menghindarinya, namun sayang Ali tidak menyadari akan hal itu dan Ia bersama Budi yang diboncengnya terpelanting hingga terperosok ke semak-semak.
“Mid.. mid.. mid..” Teriak Anggik sambil menepuk pundakku berkali-kali. “Iya, Inka christie – Gambaran cinta” jawabku. “Ehh.. bukan tebak lagu, itu ada yang jatuh di belakang” ujar Anggik sedikit panik. Aku menoleh ke belakang dan memang benar teman-teman sudah berhenti semua membantu Ali serta Budi. ini untuk putar balik juga susah sekali karena jalanan sangat curam. Usai membantu mereka berdua untuk berdiri, Kuperhatikan mereka. Kaca lampu motor Ali pecah dan celana mereka berdua sobek-sobek bercampur tanah. “Aduh pren, kita jaga jarak semua ya, jalannya terlalu curam nih, kira-kira setengah jam lagi kita sudah sampai kontrakan Anggik, kita bisa istirahat sebentar disana dan mengobati luka Ali dan Budi” kataku. Akhirnya kami melanjutkan perjalanan lagi dengan meroling penumpang yang tadinya Budi dibonceng Ali, sekarang Aku yang memboncengnya. Hebatnya Budi hanya memakai helm, jaket, celana jeans dan sendal, tanpa sepatu, tanpa jas hujan dan tanpa tas perbekalan. Amazing deh pokoknya Budi itu.
Pukul 23.00 wib
Akhirnya kami sampai juga di kontrakan Anggik. Wah, lelah sekali tubuh ini karena sejak dari rumah kita sampai disini kami kehujanan dan nampaknya belum akan reda juga. Di sana kami bertemu Rendi, teman Anggik yang katanya ingin sekali ikut ke Gunung Bromo. Kami beristirahat sejenak untuk sekedar makan, mendinginkan motor, membersihkan pakaian dan mengobati luka dua teman kami tadi. Lucunya, celana Budi itu kotor sekali dengan tanah, tapi Ia tidak membawa pakaian ganti, jadi mau tidak mau Ia akan melanjutkan perjalanan dengan celana kumal plus bolong-bolong itu, hadeehh Budi budi…
01.00 W.I.B
Kami melanjutkan perjalanan dari Kota Batu menuju Gunung Bromo. Entahlah rute mana ini yang akan dilalui Anggik, Aku tak sebegitu tahu arah ke Gunung Bromo, yang pasti Anggik pernah bilang Malang-Tumpang-Bromo, di sekitaran itulah rute yang kami ambil, Aku cari di peta pun tidak kelihatan rute itu. Dan entah di daerah mana ini, kami sudah mulai memasuki kawasan pemukiman dengan jalan yang menanjak. Dari roman-romannya sepertinya pemukiman ini pemukiman masyarakat tengger (kalau Aku tidak salah sih). Beberapa ratus meter pemukiman tadi telah kita lewati dan kita sekarang sedang berada di kawasan kebun kopi. Wow, sudah hujan, dingin, nggak ada rumah, jalannya menanjak, nggak ada lampu jalan, gelap gulita dan… tanpa dikomando tiba-tiba rombongan berhenti. Kita berhenti karena dari arah berlawanan tampak ada sosok bayangan putih sedang terbang menuju arah kami, kita saling pandang satu sama lain, yang ada di benak kami saat itu adalah ada pocong sedang terbang. Tapi, pocong kan loncat-loncat ya, yang terbang itu kan… Waaaa… kuntilanak…
One Night Full Misteri
Suara rintik hujan masih Terdengar hingga pukul 23.45 malam, entah kenapa hujan kali ini tak kunjung reda, padahal sudah hampir delapan jam hujan mengguyur daerahku, memang hujan saat ini tidak lebat melainkan hanya rintik rintik, namun hal itu yang membuat aku takut, karena nenekku bilang kalau hujan rintik rintik di malam hari dan tak kunjung reda, itu bisa mengundang kuntilanak berkeliaran, rasa takutku mulai bertambah ketika tepat pukul 00.00 WIB listrik tiba-tiba mati.
Kulangkahkan kaki untuk mencari lilin di meja belajarku. Setelah kucari cari, akhirnya aku dapatkan satu batang lilin dan satu pack korek kayu. Kunyalakan lilin tersebut, kini kamarku tak lagi gelap gulita lagi, setidaknya ada sedikit penerangan di kamarku, yaitu lilin. aku kembali merebahkan tubuhku di atas kasur, aku mulai menarik selimut bergambar bola yang baru kubeli minggu lalu, kupejamkan mataku dengan perlahan, tiba tiba terdengar suara orang mengetuk jendela kamar, Kulangkahkan kami sambil membawa lilin di tangan kananku menuju pintu. kubuka pintu dengan perlahan, dan ternyata tak ada seorangpun yang berada di depan kamarku, lalu siapa yang mengetuk pintu tadi? apakah ibuku? atau ayahku? atau mungkin itu…
“Ahh, Sudahlah mungkin ini hanya halusinasiku” Ucapku saat itu, sambil kembali menutup pintu kamar, dan kembali untuk tidur.
Baru saja aku duduk di kasurku, Suara ketukan kembali Terdengar, namun saat ini bukan di kamarku, melainkan di dapur. sengaja aku tidak membukanya, karena mungkin itu hanya halusinasi, tetapi lama kelamaan ketukan tersebut semakin keras, hingga membuat seluruh penghuni rumah terbangun, karena merdengar suara ibu, ayah, kakak dan adikku di dapur aku segera menghampirinya.
“Ada apa? mah.. pah..?” tanyaku sambil mendekati ibuku, “ini Rey, tadi kami denger gak ada yang ketuk pintu dapur?” Jawab ibuku sambil bertanya balik, “ooh, itu tadi aku denger, tapi aku gak buka, soalnya aku kira ini cuma halusinasiku, tadi di kamar aku juga ada yang ketuk bu, tapi setelah Rey buka, nggak ada apa apa” jawabku, “Jadi, yang tadi ketuk siapa?” Tanya ayahku, “Mmmm, Gak tau..” Jawab kami semua, “ya sudah, kalau gitu kita kembali ke kamar masing-masing ya!” perintah ayahku.
Kami pun berjalan kembali menuju kamar masing masing, namun aku urungkan niatku untuk kembali ke kamar. aku berjalan menuju kamar kakakku, Rangga. “kak, Rey tidur sama kakak ya..?” aku memohon kepada kakakku untuk mengizinkan aku tidur bersamanya, “Lo, takut ya..?” Tanya kakakku sambil menggodaku, “Ee.. enggak kok” jawabku gugup, “Jujur, kalo gak Jujur gue keluarin lo dari sini!” Paksa kakakku menyuruhku Jujur kepadanya, “Hhmmm, iya deh aku takut” Ucapku malu, “nah gitu dong, Dasar penakut!” Ejek kakakku.
“Eh, Lo tau gak ray, korban tabrak lari di ujung jalan itu?” Tanya kakakku dengan gaya bicara menakut nakuti, “Ya, Kenapa?” jawabku cuek, “Katanya, arwahnya itu gentayangan Jadi kuntilanak terus jalan menelusuri gang kita, dan balik lagi, sesekali ia mengetuk pintu rumah warga, termasuk rumah kita” Ucapnya dengan nada menakut nakuti, “Masa sih, Gak percaya” Ucapku sambil menutupi ketakutanku, dalam hati Jujur saja aku berfikir bahwa yang tadi mengetuk pintu itu adalah hantu yang kakak maksud, tapi aku tidak berani bicara langsung karena mungkin nanti kakakku bisa saja menakut nakutiku.
Tiba tiba “Tuk… Tuk.. Tuk..” Suara pintu di ketuk Terdengar, aku melihat wajah kakakku menjadi seperti orang ketakutan ditambah kakakku mulai menarik selimutnya, “haaahh, kakak takut yaa?” tanyaku, “Gak, Kakak cuma dingin” Jawabnya bohong, “Masa..?” tanyaku kembali, “eng..” Ucapan kakakku terpotong, “Teng, Teng, Teng..” Suara kaca jendela kamar kakak diketuk seseorang. kami semua panik dan takut “hiks.. hiks.. hiks.. Tolong.. Tolong..” Suara tangisan cewek di balik jendela kamarku, “kak itu siapa?” Bisikku, “mana gue tau” Jawabnya, “jangan jangan…” Ucapku, “Eh, lo intip aja siapa yang lagi nangis” perintah kakakku, “Hah!!, A..A..aku, kak kakak tau dong adik kakak penakut, jadi gak mungkin aku intip sendiri, kalo sama kakak pasti mau” Ucapku, “ya udah, sama kakak” Ucapnya, kami berdua berusaha membuka sedikiiit bagian gorden untuk mengintip siapa yang menangis, Gorden perlahan aku buka, dan ternyata itu adalah kuntilanak dengan satu mata, entah kemana mata yang satu lagi, “Hahhh” teriak kami kaget dan segera berlari menuju kamar mama dan papa.
“Adduuhh, apaan sih kalian?” Tanya ibuku, “ini ma, tadi kami lihat, cewek nangis, matanya hilang satu!!” jelas kakakku, “Masa sih?” Ucap papa tak percaya, tiba tiba jendela kamar mama dan papa pun di ketuk seseorang, setelah dilihat ternyata itu adalah cewek atau kuntilanak yang sama, kami semua berlari menuju kamar kakak, malam itu aku habiskan dengan ketakutan.
Keesokan harinya, Para warga geger dan resah dengan adanya hantu kuntilanak bermata satu, “Pak bagaimana ini pak!” ucap bu juleha, “Mmm, Bagaimana kalau kita panggil orang pintar” ucap pak RT, “betul itu betul!!” ucap semua warga. Pada malam harinya kami berkumpul di ujung gang yang biasanya warga banyak melihat penampakan kuntilanak, sang dukun datang dan memulai ritual, mulut sang dukun komat kamit baca mantra, Tiba tiba hadir kuntilanak bermata satu di hadapan kami, “hah” Para warga panik dan berusaha lari, tapi pak RT menyuruh kami untuk tenang “Tenang…” teriak Pria Separuh baya itu, Para Warga itu mulai tenang, “Krik.. Krik.. Krik..” Suara jangkrik Terdengar, Dan kuntilanak yang berada di hadapan kami mulai berbicara, “Jangan Takut, Aku hanya ingin meminta tolong kepada kalian, aku cuma ingin Tolong carikan mataku yang hilang!” Ucapnya, Perlahan Kuntilanak tersebut menghilang, setelah itu kami semua mencari mata sang kuntilanak yang hilang, setelah ketemu Pak RT mengembalikan mata tersebut di kuburan warga yang kecelakanan di ujung gang, Selepas kejadian itu, Warga menjadi tenang karena tidak ada lagi teror kuntilanak gentayangan.
“Rey, untung ya setanya udah ngilang, Kalo gak kakak gak berani pergi keluar rumah malem malem gini” Ucap kakakku, “kata siapa setannya udah gak ada?” Ucapku, “Hah?!” Sepertinya kakakku kebingungan, “Ituuuhhh…” ucapku sambil menunjukan selimut warga yang dicuci, “Aaaaaa….” Kakakku berteriak sambil berlari, “Hahahhahah” Tawaku puas.
Kulangkahkan kaki untuk mencari lilin di meja belajarku. Setelah kucari cari, akhirnya aku dapatkan satu batang lilin dan satu pack korek kayu. Kunyalakan lilin tersebut, kini kamarku tak lagi gelap gulita lagi, setidaknya ada sedikit penerangan di kamarku, yaitu lilin. aku kembali merebahkan tubuhku di atas kasur, aku mulai menarik selimut bergambar bola yang baru kubeli minggu lalu, kupejamkan mataku dengan perlahan, tiba tiba terdengar suara orang mengetuk jendela kamar, Kulangkahkan kami sambil membawa lilin di tangan kananku menuju pintu. kubuka pintu dengan perlahan, dan ternyata tak ada seorangpun yang berada di depan kamarku, lalu siapa yang mengetuk pintu tadi? apakah ibuku? atau ayahku? atau mungkin itu…
“Ahh, Sudahlah mungkin ini hanya halusinasiku” Ucapku saat itu, sambil kembali menutup pintu kamar, dan kembali untuk tidur.
Baru saja aku duduk di kasurku, Suara ketukan kembali Terdengar, namun saat ini bukan di kamarku, melainkan di dapur. sengaja aku tidak membukanya, karena mungkin itu hanya halusinasi, tetapi lama kelamaan ketukan tersebut semakin keras, hingga membuat seluruh penghuni rumah terbangun, karena merdengar suara ibu, ayah, kakak dan adikku di dapur aku segera menghampirinya.
“Ada apa? mah.. pah..?” tanyaku sambil mendekati ibuku, “ini Rey, tadi kami denger gak ada yang ketuk pintu dapur?” Jawab ibuku sambil bertanya balik, “ooh, itu tadi aku denger, tapi aku gak buka, soalnya aku kira ini cuma halusinasiku, tadi di kamar aku juga ada yang ketuk bu, tapi setelah Rey buka, nggak ada apa apa” jawabku, “Jadi, yang tadi ketuk siapa?” Tanya ayahku, “Mmmm, Gak tau..” Jawab kami semua, “ya sudah, kalau gitu kita kembali ke kamar masing-masing ya!” perintah ayahku.
Kami pun berjalan kembali menuju kamar masing masing, namun aku urungkan niatku untuk kembali ke kamar. aku berjalan menuju kamar kakakku, Rangga. “kak, Rey tidur sama kakak ya..?” aku memohon kepada kakakku untuk mengizinkan aku tidur bersamanya, “Lo, takut ya..?” Tanya kakakku sambil menggodaku, “Ee.. enggak kok” jawabku gugup, “Jujur, kalo gak Jujur gue keluarin lo dari sini!” Paksa kakakku menyuruhku Jujur kepadanya, “Hhmmm, iya deh aku takut” Ucapku malu, “nah gitu dong, Dasar penakut!” Ejek kakakku.
“Eh, Lo tau gak ray, korban tabrak lari di ujung jalan itu?” Tanya kakakku dengan gaya bicara menakut nakuti, “Ya, Kenapa?” jawabku cuek, “Katanya, arwahnya itu gentayangan Jadi kuntilanak terus jalan menelusuri gang kita, dan balik lagi, sesekali ia mengetuk pintu rumah warga, termasuk rumah kita” Ucapnya dengan nada menakut nakuti, “Masa sih, Gak percaya” Ucapku sambil menutupi ketakutanku, dalam hati Jujur saja aku berfikir bahwa yang tadi mengetuk pintu itu adalah hantu yang kakak maksud, tapi aku tidak berani bicara langsung karena mungkin nanti kakakku bisa saja menakut nakutiku.
Tiba tiba “Tuk… Tuk.. Tuk..” Suara pintu di ketuk Terdengar, aku melihat wajah kakakku menjadi seperti orang ketakutan ditambah kakakku mulai menarik selimutnya, “haaahh, kakak takut yaa?” tanyaku, “Gak, Kakak cuma dingin” Jawabnya bohong, “Masa..?” tanyaku kembali, “eng..” Ucapan kakakku terpotong, “Teng, Teng, Teng..” Suara kaca jendela kamar kakak diketuk seseorang. kami semua panik dan takut “hiks.. hiks.. hiks.. Tolong.. Tolong..” Suara tangisan cewek di balik jendela kamarku, “kak itu siapa?” Bisikku, “mana gue tau” Jawabnya, “jangan jangan…” Ucapku, “Eh, lo intip aja siapa yang lagi nangis” perintah kakakku, “Hah!!, A..A..aku, kak kakak tau dong adik kakak penakut, jadi gak mungkin aku intip sendiri, kalo sama kakak pasti mau” Ucapku, “ya udah, sama kakak” Ucapnya, kami berdua berusaha membuka sedikiiit bagian gorden untuk mengintip siapa yang menangis, Gorden perlahan aku buka, dan ternyata itu adalah kuntilanak dengan satu mata, entah kemana mata yang satu lagi, “Hahhh” teriak kami kaget dan segera berlari menuju kamar mama dan papa.
“Adduuhh, apaan sih kalian?” Tanya ibuku, “ini ma, tadi kami lihat, cewek nangis, matanya hilang satu!!” jelas kakakku, “Masa sih?” Ucap papa tak percaya, tiba tiba jendela kamar mama dan papa pun di ketuk seseorang, setelah dilihat ternyata itu adalah cewek atau kuntilanak yang sama, kami semua berlari menuju kamar kakak, malam itu aku habiskan dengan ketakutan.
Keesokan harinya, Para warga geger dan resah dengan adanya hantu kuntilanak bermata satu, “Pak bagaimana ini pak!” ucap bu juleha, “Mmm, Bagaimana kalau kita panggil orang pintar” ucap pak RT, “betul itu betul!!” ucap semua warga. Pada malam harinya kami berkumpul di ujung gang yang biasanya warga banyak melihat penampakan kuntilanak, sang dukun datang dan memulai ritual, mulut sang dukun komat kamit baca mantra, Tiba tiba hadir kuntilanak bermata satu di hadapan kami, “hah” Para warga panik dan berusaha lari, tapi pak RT menyuruh kami untuk tenang “Tenang…” teriak Pria Separuh baya itu, Para Warga itu mulai tenang, “Krik.. Krik.. Krik..” Suara jangkrik Terdengar, Dan kuntilanak yang berada di hadapan kami mulai berbicara, “Jangan Takut, Aku hanya ingin meminta tolong kepada kalian, aku cuma ingin Tolong carikan mataku yang hilang!” Ucapnya, Perlahan Kuntilanak tersebut menghilang, setelah itu kami semua mencari mata sang kuntilanak yang hilang, setelah ketemu Pak RT mengembalikan mata tersebut di kuburan warga yang kecelakanan di ujung gang, Selepas kejadian itu, Warga menjadi tenang karena tidak ada lagi teror kuntilanak gentayangan.
“Rey, untung ya setanya udah ngilang, Kalo gak kakak gak berani pergi keluar rumah malem malem gini” Ucap kakakku, “kata siapa setannya udah gak ada?” Ucapku, “Hah?!” Sepertinya kakakku kebingungan, “Ituuuhhh…” ucapku sambil menunjukan selimut warga yang dicuci, “Aaaaaa….” Kakakku berteriak sambil berlari, “Hahahhahah” Tawaku puas.
Trap On Trip
Haaaahhh… Aku merebahkan diri pada hamparan pasir berbisik. Melihat sekitar yang masih tampak gelap gulita mengingatkanku pada sesuatu. Apa seperti ini ya padang mahsyar itu?
Akhirnya dengan kekecewaan yang teramat sangat, Aku harus mendorong motorku lagi di padang pasir yang belum terlihat ujungnya itu. ini sudah jam 4 pagi, sebentar lagi matahari akan terbit dan Aku tak ingin melewatkan itu, terlebih 3 orang temanku ini, pasti mereka juga tak ingin melewatkannya. Tapi, mendorong motor di lintasan berpasir ini sungguh berat sekali, seberat mendorong dua motor sekaligus, belum lagi kita harus melewati beberapa bekas aliran lahar dingin yang berpasir, susah sekali untuk menaikkan motorku ke atas. Aku mendorong motorku bersama Budi, Arip mengendarai motornya pelan-pelan mengiringi kami dan Toha berjalan sambil tetap mengenakan selimutnya itu.
Saat itu, kami seperti empat pemuda gelandangan tanpa tujuan. Kami tak tahu arah mana yang harus kami tuju, yang jadi patokan kami hanyalah kerlap-kerlip lampu di depan kami yang terus bergerak. Sepertinya dekat, dan tak terasa kami sudah berjalan kaki selama satu jam. Amazing…
Melelahkan sekali perjalanan ini hingga kami sampai pada kaki gunung, yang baru-baru ini kami baru tahu kalau itu adalah gunung penanjakan (Bromo view). Ini dia yang kita cari, Bromo! Dengan bersemangat kami mulai berkendara lagi karena motorku sepertinya sudah bisa menyala. Tapi, beberapa ratus meter dari kaki gunung kami merasakan hal aneh, kenapa orang-orang malah turun ya? Aku jadi curiga kalau gunung yang sedang kupijak ini bukan Gunung Bromo. Dengan sedikit rasa sungkan akhirnya Kuberanikan diri untuk bertanya pada salah seorang yang sedang berjalan turun tersebut. “Maaf Mas, Gunung Bromo itu sebelah mana ya”. “Wah Nggak tahu Mas” ujarnya. “Lha Mas mau kemana ini kok turun?” Tanyaku lagi. “Nggak tahu juga, ikut orang-orang aja, mereka turun ya Aku ikut turun” Jelasnya. Waduh, sepertinya Aku bertanya pada orang yang salah. Selagi melihat jam pada ponselku, Aku baru sadar kalau disini sudah ada sinyal, cepat-cepat Aku menghubungi Soleh untuk menanyakan keberadaanya.
Aku: “Hallo. Heh setan, awakmu nandi?”
Soleh: “Lha awakmu dewe nandi, di enteni gak ketok-ketok.”
Aku: “Aku nang gunung iki, tapi mbuh gunung opo, Lha awakmu nang gunung sing model piye?”
Soleh: “Aku nang parkiran Gunung Bromo, sing enek kembang apine kuwi lhe, sing akeh wong antri, tak enteni mbek arek-arek nang kene, gagi, wis jam piro iki, ngko kari masi Sunrise malahan.”
Aku: “Oalah, iyo-iyo enteni Tan Setan”.
Ternyata, kita salah lokasi. Gunung Bromo sebenarnya Gunung yang barusan kita lewati tadi. Huahh… Ayo Rip, Bud, Ha. Gunung Bromo tu di sono no, yang banyak orang ngantri parkir. Sedikit agak jengkel sebenarnya, kita sudah di kawasan Bromo tapi tidak tahu mana Gunung Bromo.
Akhirnya, dengan kecepatan tinggi kami melajukan motor menuruni gunung dan beranjak ke lokasi teman-teman yang lain berada. Tanpa kesulitan akhirnya kita bertemu rombongan, meskipun pertemuan itu dibumbui sedikit pertengkaran, haha. Setelah memarkirkan motor, kami beranjak bersama-sama menuju Gunung Bromo, yee…
Awal kami mulai masuk gerbang Bromo, kami sudah di suguhi beberapa penjual souvenir khas Bromo oleh para pedagang. Ada topi, syal, bunga edelweis tiruan dan tak lupa ojek kuda. Sedikit agak kesal karena ternyata dari gerbang masuk hingga kaki gunung bromo kita harus jalan lagi dan itu lumayan jauh, padahal tadi sudah dorong motor, sekarang jalan lagi, hadehh…
20 menit kemudian akhirnya kita sampai juga di kaki gunung Bromo. Wow, ramai sekali ternyata sampai-sampai tangga untuk menaiki Gunung Bromo pun penuh dengan orang dan yang pasti kita tak bisa lewat tangga itu karena orang-orang sedang duduk di sana. So, kita harus naik dari sisi lain, alias tidak ada tangga, alias berpasir. Wow, amazing. mendaki gunung berpasir itu seperti jalan di tepat, ya di situ-situ aja. Kalau kita mendaki dengan cepat, kita akan cepat capek, tapi kalau santai ya capek juga. belum lagi saat Aku lihat seorang wanita bertubuh agak gemuk, kedua tangannya di tarik oleh dua teman prianya agar bisa sampai ke puncak, Aku kasihan, kasihan sama dua pria itu. mereka menarik petempuan itu dari bawah sampai ke atas, wah bagaimana rasanya ya. lagi pula sudah tahu badannya kelas berat kok nekat naik gunung, itu naik jet aja jetnya oleng kok.
Belum lagi senyum-senyum sinis dari pengunjung lain saat melihatku, ini kenapa lagi, ada apa denganku hingga mereka tertawa. Kuperhatikan bajuku, celanaku barangkali ada yang terlihat lucu. Ohh, mungkin celanaku yang kotor dengan tanah ini yang membuat mereka tertawa, maklum lah tadi kan habis masuk di kubangan. Sambil sedikit cekikikan Aku berkata pada Budi yang berjalan di belakangku “Ehh Bud, lihat deh orang-orang lagi ngetawain celanaku yang kotor ini, padahal ya cuma kotor biasa gini ya, ngapain coba di ketawain”. Lantas Budi menjawab dengan polosnya “Bukan kamu mungkin yang mereka ketawain, tapi ini” sambil menunjuk kedua kakinya yang dibungkus kantong kresek hitam. Astaghfirulloh hal adziimmm… Budiiii…
Aku mengelus dada, “Sejak kapan kakimu kamu bungkus kresek Bud” tanyaku keheranan. “Ya sejak dorong motor di gurun pasir tadi, lha dingin ee..” ujarnya. Ya memang sih Budi berangkat dari rumah tanpa persiapan, Dia cuma bawa sendal jepit. Arrrggghhh… rasanya pengen teriak-teriak, tapi ya sudahlah daripada Budi kedinginan, biarkan Ia bahagia dalam kedamaian…
Kita lupakan sejenak tentang kejadian tadi karena beberapa langkah lagi kita sampai di puncak Gunung Bromo. dan akhirnya, inilah dia. eng.. ing.. enggg… Puncak Gunung Bromo.
Jadi seperti ini pemandangan dari puncak Bromo, dan seperti biasa-biasanya, saat berada pada bagian terbaik dalam sebuah perjalanan, kurang afdol rasanya kalau kita belum menghirup Oksigen dan merasakan Atmosphere dari Spot terbaik saat itu. Jadi yang Kulakukan adalah memejamkan mata, merentangkan kedua tangan lebar-lebar dan menghirup udara sedalam-dalamnya, sambil berteriak dalam hati ‘Jaannccooookkk… Sepedahan rolas jam mok ngene tok…’. Lalu Aku membuka mata dan tersenyum-senyum sendiri seperti orang stress sambil bilang ke teman-teman “Ehh, itu bagus ya, itu juga bagus” tunjuk-tunjuk nggak jelas, mau bagaimana lagi. Mau lihat Sunrise ehh ternyata mendung, mataharinya nggak kelihatan. Aku hanya bisa duduk di puncak Bromo sambil memikirkan bagaimana beratnya perjalanan pulang nanti, motor lagi rewel, badan juga capek. Hampir tak tampak keceriaan sedikitpun di raut wajahku ini. Kita hanya duduk-duduk sambil melihat sekitar. Tak kurang dari setengah jam kami memutuskan untuk turun dan beranjak pulang karena matahari sepertinya tak mau menampakkan diri karena tertutup mendung. Keren kan ya! Perjalanannya 12 jam dan menikmati bagian terbaiknya hanya setengah jam.
Di tempat kami memarkirkan motor, kami sedikit berunding untuk menentukan jalur mana yang paling mudah untuk kami pulang, karena tampaknya teman-teman sudah trauma dengan jalur yang kami gunakan saat berangkat. Akhirnya dipilihlah jalur lewat Pasuruan dan itu melewati sebuah gunung, tepatnya adalah tempat Bromo View berada yang kerap orang sebut sebagai Penanjakan. Namanya juga penanjakan, pasti banyak tanjakan bukan! Dan motorku mogok lagi. Gila! beberapa titik di jalanan ini mempunyai sudut kemiringan hampir 40 derajat. jangankan motorku, banyak Kulihat motor lain juga tak kuat menanjak dan mereka harus mendorong motornya.
Semua berjalan kaki, tak terkecuali pengendara motor. Keren! Bagi pengendara motor bisa agak sedikit cepat karena bisa sesekali menaiki motornya. Di tanah yang datar, Aku, Ali, Soleh, dan Arip menunggu teman-teman lainnya sampai. Aku memanfaatkan saat itu untuk mencopot filter motorku dan membuang beberapa liter bensin dari tangki motor, karena Aku curiga saat mengisi bensin eceran tadi motorku di isi dengan bensin campuran. Tapi entahlah, semua cara juga akan kulakukan agar motorku tidak mogok lagi, Aku sudah sangat capek mendorong motor ini berulang kali, dan syukurlah sepertinya ada perubahan.
Di sisi lain, Aku dikagetkan oleh suara teriakan Toha saat sampai di tempat kami menunggu. Tiba-tiba saja Ia melompati sebuah bagunan berbentuk persegi disamping jalan yang dikelilingi oleh pagar, dengan santainya Dia melepas selimut yang Ia pakai dan membentangkannya diatas bangunan tersebut lalu tidur di atasnya sambil mendengarkan musik dari headset yang Ia kenakan. Aku teriak berkali-kali dari jauh tapi sepertinya Ia tak bisa mendengarkanku. Akhirnya, Ku hampiri Dia dan berteriak lebih keras lagi “Woooiii… ojo turu nok kuburannn…” Mendengar perkataanku, dengan gelagapan Ia melihat tempat yang tiduri dan seketika melompat keluar pagar dengan terkaget-kaget. Waaaa… Ia lari terbirit-birit. Banyak kuburan berada di sini ternyata. dan tak lama kemudian teman-teman sudah berkumpul semua, kami melanjutkan lagi perjalanan pulang karena sepertinya tak ada tanjakan exstreme lagi. Syukurlah…
Pukul 2 siang.
Kami sampai di kota Pasuruan, kami semua berhenti di pom bensin untuk mengisi bahan bakar dan beristirahat sejenak di tempat peristirahatan yang disediakan. Bisa dibayangkan ruangan sekecil itu kita masuki berdelapan, belum lagi barang bawaan kami dan gaya tidur teman-teman, ada yang kakinya kesana, ada yang kemari. hehe, dan Aku pun mencoba untuk tidur sejenak. Tapi, satu jam sudah Aku berusaha untuk tidur, masih juga tak Kudapati diriku terlelap. Kepalaku sangat pusing dan dadaku terasa sesak.
Aku membuka mata dan berharap masih ada temanku yang terjaga untuk Kumintai tolong membelikan obat, tapi mereka tertidur dengan sangat pulasnya, sepertinya mereka kelelahan dan Aku tak tega untuk membangunkan mereka. Sekuat tenaga Aku berusaha untuk berdiri untuk mengambil wudhu dan sholat. Jujur sakit saat itu belum pernah Kurasakan sebelumnya, yang ada di pikiranku hanyalah kalaupun Aku mati, Aku mati setelah sholat. Entahlah, saat itu pikiranku sedang kacau. Tapi, syukurlah seusai sholat ada perubahan sedikit dan Ku manfaatkan itu untuk membeli obat di seberang jalan. Aku mengunyah 3 butir bordex sekaligus dengan dua gelas kopi (Jangan ditiru), memang benar pusingku sembuh seketika itu juga tapi jantungku berdebar dengan sangat kencang. Dep dep dep dep dep dep… Kupegang dadaku dan merasakan detakannya, dari temponya bisa Kurasakan detak jantungku berdetak sekitar 200 bpm atau sekelas lagunya Dragon Force yang berjudul Through the Fire and Flames.
Setelah merasa agak tenang, Aku kembali ke tempat teman-teman beristirahat tadi. Tak Kuduga, Kulihat banyak orang tertidur di luar ruangan peristirahatan dengan posisi bersandar pada tembok, mereka sedang mengantri hingga tertidur. Astaga…
Tanpa pikir panjang Aku bangunkan semua teman-teman untuk segera beranjak melanjutkan perjalanan pulang. Lagi pula, kasihan orang-orang di luar itu, mereka pasti lelah sekali dan sangat ingin untuk berbaring.
Tepat jam setengah empat sore, kami melanjutkan perjalanan pulang, perjalanan kami lancar-lancar saja hingga sampai di rumah jam 9 malam.
Hehe… Kalau diingat-ingat lagi Aku sebenarnya bingung. kita ini mau bertamasya tapi kok cobaannya banyak sekali, kita harus naik turun gunung, melewati lembah, sungai, jurang, tebing berbatu, ini kita mau rekreasi apa jadi peserta Benteng Takeshi sih. Jebakannya kok banyak sekali. Belum lagi rute perjalanan yang kita ambil. Normalnya sih, kita berangkat dari rumah hingga gerbang masuk – sewa Hartop sampai Penanjakan – melihat Sunrise dari penanjakan – Turun Penanjakan lalu naik ke Gunung Bromo – dan turun ke Pasir berbisik lalu pulang. Lha kita enggak, kita kebalik malah. Kalau Teman-teman ada yang pernah melihat Sunrise di Penanjakan (Bromo view), teman-teman pasti akan melihat Gunung Batok, lalu Gunung Bromo, lalu Bukit Teletubbies, lalu Gunung yang nggak begitu kelihatan di sono, Na kita itu berangkat dari sono itu. Amazing deh pokoknya.
Tapi meskipun begitu. Jujur saja Ku akui, perjalanan menuju Bromo adalah perjalanan terbaik yang pernah Kulalui, bukan karena Keindahan puncak Bromo, Penanjakan, atau Gurun Pasir, berbisiknya karena Aku melewatkan itu semua. Tapi, karena ada teman-temanku disana, ada kebersamaan disana, ada suka-duka dan canda-tawa. Seperti halnya kesuksesan, bukan hanya puncak kejayaan yang akan kita nikmati, tapi tiap tangga yang kita pijak juga akan memberikan sebuah kenangan.
Kisah Yogi Si Kura Kura Ninja
“dor dor dor dor”, terdengar suara gedoran pintu kamarku.
“qo, cepetan bangun udah jam 6” teriak kakakku, Zahra.
“iya kak” teriak ku pada Zahra.
Aku bangun, dan bersiap untuk ke sekolah. Eh lupa, kenalin aku Daqo, aku anak smp yang bisa dibilang dandananku agak berantakan, baju di luar, sabuk gambar rasta, dan rambut yang seringnya gak aku sisir waktu ke sekolah, walaupun berantakan gini, aku ini orangnya smart loh, dan untungnya aku gak pernah dikasih marah sama guru, paling cuma teguran, aku duduk di bangku kelas 2, smp 2 banjarnegara, smp faforit di kotaku.
Zahra kakakku ini juga sekolah di smp yang sama, tepatnya di kelas 3, dia kakak di rumah dan di sekolah, setiap hari kami menuju sekolah bareng dan pulang juga bareng, gak aneh sih untuk kakak adik, tapi juga kadang kadang zahra pulang dianter temen sekelasnya, gosipnya sih mereka pacaran, aku sih gak percaya, masa kakakku yang cantik nan jelita tinggi putih dan bodynya yang aduhai pacaran sama THE MUTANT NINJA TURTLE alias kura-kura ninja sih, kalo misalkan iya.. aku tepuk tangan sambil kayang terus salto salto sampe sumur.
“daqo.” kakakku membuka percakapan waktu pulang sekolah.
“apa..” jawabku cuek sambil mainin gadgetku.
“menurut kamu si yogi cakep gak?”
“yogi si kura-kura t*nja?, eh maksudnya kura-kura ninja?” jawabku meledek zahra.
“serius kenapa, orang kakaknya lagi serius gini kok, malah ngeledek” dijawab dengan ngambek.
“iyaaa, ganteeng puas loh..” sambil nyodorin mukaku ke zahra.
“ihh, biasa aja kalii” tangannya mendorong mukaku.
“kamaren dia bilang ke kakak, kalo dia suka sama kakak”
“terus kakak jawab apa?”
“pikir-pikir dulu” aku lega sambil ngelus dada kakakku, eh, maksudnya dadaku sendiri karena jawaban kakakku pikir pikir dulu.
“kamu kok malah ngelus dada gitu sik, kamu seneng ya kalo kakak jomblo seumur hidup” kakakku marah cuman karena aku ngelus dada, gimana kalo ampe ngelus ngelus bulu kaki, terus disambung ngelus bulu ketiak, jadi martabak aku.
“bukanya gitu kak, aku cuman lega karena jawaban kakak pikir pikir dulu, emangnya kakak gak pernah mikir ya, kalo misalkan kakak jadian sama yogi, bahwa nanti adiknya yang tampan ini dibuly temen temen sekolahnya.”
“dibuly gimana maksud kamu” kakakku penasaran.
“dibuly kayak ginilah kak.. Eh daqo masa kakakmu mau sama kura kura t*nja sih, kakak kamu kan cantiknya minta ampun, emang kamu gak ngelarang kakak kamu ya, kalo aku sih ogah.” kakakku cuman ketawa cengengesan.
“bener juga sih, kakak kan cantik” sambil ngeluarin jurus centilnya yang waow Amit amit.
Setelah percakapan itu, kak yogi jadi sering bolos dan murung gak jelas, dalam hatiku ngehina kak yogi, “dasar drama king t*nja kura kura”. Uuuh, tapi kasian juga aku ngelianya, gak tega.
udah dicela eh malah kasian, gak jelas aku. hehehehe
Kayaknya zahra emang tolak dia deh, karena penasaran aku tanya ke zahra.
“kak, kakk tolak yogi ya?”
“iya emang kenapa?” jawab kaka.
“emang kakak gak kasian ama kak yogi, semenjak kakak tolak dia kak yogi berubah tau..”
“berubah kaya gimana?” tanya kakakku yang masih belum sadar akan keadaan kak yogi.
“berubah jadi kura kura ninja.. Emang kakak gak tau ya?”
“seriusss” kakakku memohon.
“kak yogi tuh berubah jadi tukang bolos tau kak, jadi pemurung lagi, jadi mendingan kakak jadian aja deh ..” kak zahra bingung.
“aduhh, kamu ngomongnya telat sih”
“telat gimana kak?”
“kakak udah pacaran sama haikal” aku terkagetkan dengan kata haikal, karena haikal orang paling tampan dan diidolakan sesekolahan.
“aduh gimana dong kak, aku takunya nanti, kak yogi bunuh diri di pohon kencur karena saking gilanya ka”
“kamu sih nyaranin kakak yang gak bermutu, jadi ada korban kan?” kakakku marah marah.
“iya deh ntar aku ngomong sama kak yogi” sepulang sekolah.
“kak yogi..” aku panggil dia yang ada di parkiran sekolah.
“eh kamu daqo, ada apa?” yogi penasaran.
“kak, apa kakak masih suka sama zahra?”
“udah nggak” ada pelangi di matanya, eh, kebohongan di matanya.
“jangan bohong kak, aku tau kakak masih suka, kalo kakak beneran masih suka sama kakakku, tembak aja lagi kak” seruku.
“tapi kan dia udah pacaran sama haikal, gak mungkin lah ia terima aku, belum pacaran sama haikal aja aku udah ditolak.”
“percaya deh kak, pokoknya besok kakak harus tembak zahra” aku pergi menignggalkan kak yogi.
Besoknya kak yogi beneran tembak kak zahra yang ternyata udah pacaran sama haikal..
Singkat cerita kakakku menolak yogi kembali, karena kakakku juga gak bisa ninggalin haikal gitu aja, kakakku bilang sama yogi.
“kamu harus tetep suka sama aku, percaya, kita akan berdua sama sama, dan aku gak mungkin sama haikal terus, aku janji” dengan kata itu kak yogi jadi punya semangat hidup lagi.. Sekarang kelas 3 berganti jadi kelasku, tepat pada hari kelulusan, kak zahra putusin si haikal yang ternyata playboy cap kaki tiga. dan janji kak zahra sama yogi pun terbayarkan, sekarang mereka sudah sama sama lagi.
The end
tunggu kisahku ya ..
“qo, cepetan bangun udah jam 6” teriak kakakku, Zahra.
“iya kak” teriak ku pada Zahra.
Aku bangun, dan bersiap untuk ke sekolah. Eh lupa, kenalin aku Daqo, aku anak smp yang bisa dibilang dandananku agak berantakan, baju di luar, sabuk gambar rasta, dan rambut yang seringnya gak aku sisir waktu ke sekolah, walaupun berantakan gini, aku ini orangnya smart loh, dan untungnya aku gak pernah dikasih marah sama guru, paling cuma teguran, aku duduk di bangku kelas 2, smp 2 banjarnegara, smp faforit di kotaku.
Zahra kakakku ini juga sekolah di smp yang sama, tepatnya di kelas 3, dia kakak di rumah dan di sekolah, setiap hari kami menuju sekolah bareng dan pulang juga bareng, gak aneh sih untuk kakak adik, tapi juga kadang kadang zahra pulang dianter temen sekelasnya, gosipnya sih mereka pacaran, aku sih gak percaya, masa kakakku yang cantik nan jelita tinggi putih dan bodynya yang aduhai pacaran sama THE MUTANT NINJA TURTLE alias kura-kura ninja sih, kalo misalkan iya.. aku tepuk tangan sambil kayang terus salto salto sampe sumur.
“daqo.” kakakku membuka percakapan waktu pulang sekolah.
“apa..” jawabku cuek sambil mainin gadgetku.
“menurut kamu si yogi cakep gak?”
“yogi si kura-kura t*nja?, eh maksudnya kura-kura ninja?” jawabku meledek zahra.
“serius kenapa, orang kakaknya lagi serius gini kok, malah ngeledek” dijawab dengan ngambek.
“iyaaa, ganteeng puas loh..” sambil nyodorin mukaku ke zahra.
“ihh, biasa aja kalii” tangannya mendorong mukaku.
“kamaren dia bilang ke kakak, kalo dia suka sama kakak”
“terus kakak jawab apa?”
“pikir-pikir dulu” aku lega sambil ngelus dada kakakku, eh, maksudnya dadaku sendiri karena jawaban kakakku pikir pikir dulu.
“kamu kok malah ngelus dada gitu sik, kamu seneng ya kalo kakak jomblo seumur hidup” kakakku marah cuman karena aku ngelus dada, gimana kalo ampe ngelus ngelus bulu kaki, terus disambung ngelus bulu ketiak, jadi martabak aku.
“bukanya gitu kak, aku cuman lega karena jawaban kakak pikir pikir dulu, emangnya kakak gak pernah mikir ya, kalo misalkan kakak jadian sama yogi, bahwa nanti adiknya yang tampan ini dibuly temen temen sekolahnya.”
“dibuly gimana maksud kamu” kakakku penasaran.
“dibuly kayak ginilah kak.. Eh daqo masa kakakmu mau sama kura kura t*nja sih, kakak kamu kan cantiknya minta ampun, emang kamu gak ngelarang kakak kamu ya, kalo aku sih ogah.” kakakku cuman ketawa cengengesan.
“bener juga sih, kakak kan cantik” sambil ngeluarin jurus centilnya yang waow Amit amit.
Setelah percakapan itu, kak yogi jadi sering bolos dan murung gak jelas, dalam hatiku ngehina kak yogi, “dasar drama king t*nja kura kura”. Uuuh, tapi kasian juga aku ngelianya, gak tega.
udah dicela eh malah kasian, gak jelas aku. hehehehe
Kayaknya zahra emang tolak dia deh, karena penasaran aku tanya ke zahra.
“kak, kakk tolak yogi ya?”
“iya emang kenapa?” jawab kaka.
“emang kakak gak kasian ama kak yogi, semenjak kakak tolak dia kak yogi berubah tau..”
“berubah kaya gimana?” tanya kakakku yang masih belum sadar akan keadaan kak yogi.
“berubah jadi kura kura ninja.. Emang kakak gak tau ya?”
“seriusss” kakakku memohon.
“kak yogi tuh berubah jadi tukang bolos tau kak, jadi pemurung lagi, jadi mendingan kakak jadian aja deh ..” kak zahra bingung.
“aduhh, kamu ngomongnya telat sih”
“telat gimana kak?”
“kakak udah pacaran sama haikal” aku terkagetkan dengan kata haikal, karena haikal orang paling tampan dan diidolakan sesekolahan.
“aduh gimana dong kak, aku takunya nanti, kak yogi bunuh diri di pohon kencur karena saking gilanya ka”
“kamu sih nyaranin kakak yang gak bermutu, jadi ada korban kan?” kakakku marah marah.
“iya deh ntar aku ngomong sama kak yogi” sepulang sekolah.
“kak yogi..” aku panggil dia yang ada di parkiran sekolah.
“eh kamu daqo, ada apa?” yogi penasaran.
“kak, apa kakak masih suka sama zahra?”
“udah nggak” ada pelangi di matanya, eh, kebohongan di matanya.
“jangan bohong kak, aku tau kakak masih suka, kalo kakak beneran masih suka sama kakakku, tembak aja lagi kak” seruku.
“tapi kan dia udah pacaran sama haikal, gak mungkin lah ia terima aku, belum pacaran sama haikal aja aku udah ditolak.”
“percaya deh kak, pokoknya besok kakak harus tembak zahra” aku pergi menignggalkan kak yogi.
Besoknya kak yogi beneran tembak kak zahra yang ternyata udah pacaran sama haikal..
Singkat cerita kakakku menolak yogi kembali, karena kakakku juga gak bisa ninggalin haikal gitu aja, kakakku bilang sama yogi.
“kamu harus tetep suka sama aku, percaya, kita akan berdua sama sama, dan aku gak mungkin sama haikal terus, aku janji” dengan kata itu kak yogi jadi punya semangat hidup lagi.. Sekarang kelas 3 berganti jadi kelasku, tepat pada hari kelulusan, kak zahra putusin si haikal yang ternyata playboy cap kaki tiga. dan janji kak zahra sama yogi pun terbayarkan, sekarang mereka sudah sama sama lagi.
The end
tunggu kisahku ya ..
Si Pembual
“Bang, bang pernah nggak lihat setan di rumah kosong itu?” tanya pemuda di samping Ghani
“nggak tu!, tapi aku tau kenapa rumah itu bisa kosong” Jawab Ghani sambil mengusap jenggot panjang yang tak terawat
“Gimana bang ceritanya?” tanya pemuda itu lagi
Malam itu seperti biasa aku tugas dari negara keliling kampung, malam itu udara dan suasananya agak terasa aneh tidak seperti malam-malam biasanya malam yang aneh.
“abang lihat setan?” potong pemuda di sampingnya.
“San… Ihsan, bukanlah masa kalo yang aneh-aneh setan doang!” jawab Ghani
“Ohh… kirain setan bang, teruskan bang!” celetuknya lagi.
Ghani pun meneruskan kisah yang terpotong tadi.
Aku seperti merasakan sebuah perasaan, perasaan kehilangan entah kehilangan apa aku tak tau. kulangkahkan kakiku dan sampai d ipertigaan, di pertigaan terdapat sebuah rumah yang megah dan aku merasakan perasaan yang amat kuat perasaan kehilangan itu lagi.
“Rumah yang mana bang?, rumah kosong itu!” tanya pemuda memotong kisah
“ya, rumah pak Sohib. Tanya mulu kapan kelarnya ini cerita?” jawab gani menggurui.
“oke bang, lanjutkan!” kata pemuda itu sambil memasang muka tersenyum.
Semua orang mengenalnya keluarga pak Sohib, keluarga yang harmonis dengan segala kemapanannya. entah kejadian apa hingga membuat beranda rumah pak Sohib menjadi sepi seperti ini.
Sebagai keamanan di kampung ini kuhampiri rumah pak Sohib dengan langkah yang berat aku berjalan sampai di depan pintunya. Tanganku terasa berat entah aura apa pada rumah pak Sohib, aku ketuk pintunya Tok… tok… tok kupanggil namanya namun tak seorang pun menjawabnya. Berkali-kali kuketuk dan kupangil-panggil tetap tak ada jawaban, saya curiga kalo terjadi apa-apa dengan sigap kuraih daun pintunya ternyata tak terkunci kubuka lebar pintunya. pertama kali saya buka mataku tertuju ke arah pak sohib, ia duduk di ruang tamu ia menatap ke lantai sembari memegang sepucuk kertas
“pak sohib…” kupanggil dia
“tak terjadi apa-apa kan pak” tanyaku
Tanpa ada balasan ia hanya menatap ke arahku dengan tatapan kosong sembari mengulurkan kertas yang ia pegang
“Lihatlah..!” pinta pak Sohib
Tanpa basa-basi kuraih kertas dari tangannya dan kubaca isinya.
Apa kabar ibu? Ibu baik-baik saja kan! Aku sangat senang, ibu, ini surat pertama yang aku buat untuk ibu. kata ayah ibu sedang sibuk jadi ayah menyuruku untuk membuat surat ini. Ibu hari ini aku kan menjalani operasiku entah sudah berapa kali aku merasakan segarnya infus, aku akan sembuh ibu.
Oh.. ya ibu penyakitku ini sudah seperti keluargaku sendiri ia selalu menemaniku, ibu tahu tadi aku sempat diperiksa dokter aku lihat dokternya menggeleng-gelengkan kepalanya saat memeriksaku. Aku tak tahu apa maksudnya tapi ayah bilang aku akan sembuh ibu, aku ingin sekali bertemu dengan ibu!. ibu bagaimana kabar bibi sudah lama ia tidak menjengukku sudah setahunan aku tidak bertemu dengannya. Oh ya kucingku juga bagaimana keadaannya?, apa kucing kesayanganku itu sudah bertambah gemuk, aku mau minta maaf padanya karena tak bisa bermain dengannya lagi.
Besok aku akan pulang ibu, kata ayah aku gak boleh cengeng di depan ibu. nanti kata ayah ibu bisa ikut jadi cengeng kaya aku. aku tak ingin ibu bersedih karena aku. Ibu ingatkah ibu saat aku terjatuh dari atas pohon di depan rumah kita aku pada waktu itu menangis tersedu-sedu tapi kini jika aku terjatuh lagi mungkin aku tidak akan menangis seperti dulu, sekarang aku tahu terjtuh dari pohon tidak lah lebih sakit dengan penyakitku ini.
Ibu aku rindu sekali dengan kamarku meski berantakan tapi aku merasa nyaman tidur di kamarku! Disini aku merasa seperti bertambah parah penyakitku ibu. Hhmm… ingin rasanya kupeluk boneka teddy besarku
Sudah ya bu kata ayah jangan banyak-banyak kalo nulis suratnya nanti ibu pusing kalo kelamaan membacanya, aku akan menjalani operasiku tunggu aku di rumah ya bu aku akan pulang
Anakmu
Love
Mona
“Ya, itulah surat yang dituliskan sebelum ia pergi” kata pak sohib membuyarkan konsentrasi membacaku
“aku tau kalo istrinya mencerikannya tapi aku baru tahu kalo anaknya meninggal” gumamku dalam hati
“apa kau tak bilang padanya tentang ibunya” tanyaku.
“tidak, jika aku bilang ia tak akan pergi seperti ini. pergi dengan bahagia” jawab pak sohib datar.
“kenapa kau tak memberitahukannya?” tanyaku lagi
“dia sudah menahan semua derita. Aku tak ingin menambah penderitaannya” jawab pak sohib tanpa ekspresi.
Aku dan pak sohib terdiam, suasana berubah menjadi hening beberapa saat.
“Apa yang akan kau lakukan sekarang?” tanyaku memecah keheningan.
“entah, mungkin pergi dari sini” jawab pak sohib.
“meninggalkan ini semua?” kataku heran.
“aku kan mencari kehidupan baru. Disini terlalu banyak kenangan pahit” jawab pak sohib.
“ia anak yang baik, ia pintar tapi Tuhan berkehendak lain. Tuhan berikan ujian padanya, ujian yang sangat berat mungkin kalo dipikir mungkin aku tak akan sanggup” tambahku.
“Kau benar!” jawab pak sohib sambil mengusap kepalanya.
“bagaimana denganmu?” tanyaku lagi.
Pak sohib tak menjawab pertanyaanku entah apa yang ada di otaknya, ia diam bak kegelapan malam yang sunyi tanpa bintang.
“kau baik-baik saja kan?” tanyaku lagi.
Ia hanya menatap ke langit-langit, lalu ia mengulurkan tangannya sembari mengambil kembali kertas yang aku pegang.
“kehidupan harus tetap berjalan, percayalah setelah hujan badai akan ada cahaya yang menyinari” nasihatku sambil kutepuk pundaknya.
Ia diam saja aku pun pamit menjalankan kewajiban keliling kampung, malam kulalui dengan penuh pemikiran tentang pak sohib.
Siangnya kudatangi lagi rumah pak sohib seperti semalam kupanggil namun tak ada yang menjawab sampai putus asa niatku menemuinya. dengan hati hampa aku hendak pulang baru 15 langkah dari beranda rumah pak sohib, tiba-tiba ada seseorang memanggilku suaranya cempreng bak terompet perang.
“Pak…” suara cempreng seorang wanita.
Dengan sigap aku pun berhenti, sudah hampir langkah yang ke 17. Aku hampiri asal suara cempreng tadi, ternyata suara tetangga pak sohib.
“cari pak Sohib ya?” tanyanya.
“iya betul, kemana ya pak Sohibnya?” tanya ku dengan penuh selidik.
“Wah… bapak telat, tadi pagi buta sekitar jam 2 kurang saya dengar suara gaduh di rumah pak Sohib, saya lihat pak Sohib seedang beres-beres. Saya tanya mau kemana pak? Eh.. orangnya gak jawab tapi saya lihat dia bawa koper sama tas” jawabnya dengan tempo cepat.
“Lo… saya kemarin jaga kok nggak tau dia pergi ya?” tanyaku keheranan.
“ketiduran kali bapaknya makanya kalo jaga jangan tidur pak” celetuknya dengan nada ketus.
“ya sudah kalo begitu makasih ya buk!” pamitku pada ibu itu.
Aku tak menyangka pak sohib pergi secepat itu.
“Oh… gitu bang ceritanya” tandas pemuda di samping Ghani.
“udah ya ceritanya! ada perintah dari negara nih” kata Ghani sembari pergi pos kamling.
Lalu sesosok orang tua mendatangi pemuda yang sedari tadi menikmati kisah Ghani
“Tong… ente diceritain apaan sama Ghani tu?” tanya orang tua itu.
“Ooo.. cerita yang dulu tinggal di rumah kosong deket pertigaan itu kong!” jawab pemuda ke sesepuh kampung.
“mau aje lu tong diceritain orang kagak waras ntu!” celoteh sesepuh kampung.
“Dulu rumah ntu ditinggali sama Pak Sohib orangnye kaye saking kayenye rumah ntu dirampok 1 keluarga dibunuh, la… yang mergoki perampok tu Ghani, Ghani dipukul pake pentungan di kepalenye terus pingsan. Sadar-sadar Ghani tidur sama mayat 1 keluarga ntu, dia shock sampe kagak waras kayak gitu. Cerita kemana-mana kalo anak pak sohib mati kena penyakit, istrinya cerai, terus pak Sohib minggat karena nggak kuat hidup di mari, jangan percaye sama tu orang gila tong!” cerita ngkong sesepuh desa ke pemuda.
“biar bang Ghani seneng kong makanya, saya dengerin ceritanya” sanggah pemuda itu.
“bisa jadi gile juga lu tong! Udah pulang sono ati-ati kalo di pertigaan ntu!” perintah engkong sesepuh sambil menakut-nakuti.
“ya kong bentar, abisin kopi dulu kong!” jawab pemuda tersebut sambil meminum kopi yang sedari tadi dingin.
SEKIAN TERIMA KASIH TELAH MEMBACA
Beri Aku Serupiah Aja
Siang ini matahari terasa membakarku, bulir-bulir keringat terus saja meluncur di permukaan kulitku. Ah, aku mengeluhkan rahmat Tuhan lagi. Kupikir lebih baik mencari cara untuk mendinginkan tubuhku agar mulut dan hatiku berhenti mengeluh.
Kalau cuaca panas seperti ini memang cocok minum atau makan sesuatu yang dingin. Tapi, segala macam es seperti es jeruk, es kelapa muda, es campur dan minuman lain yang bertemakan es sama sekali tidak menarik minatku saat ini. Kulihat ponselku sambil termenung, terlintaslah ide untuk menghubungi teman sekelasku Novi. Mungkin dia mempunyai saran yang bagus. Kuharap.
“Nov, lg sibuk? Jln yuk” tak menunggu lama, sebuah balasan kuterima.
“Mau jln ke mna panas2 spt ini?”
“Terserah, mnrut kmu ccokny ke mna?” kubalas pertanyaannya dengan pertanyaan.
“ke Ice Cream 98 aj, gmna?” Balasan seperti ini yang ditunggu sedari tadi.
“Oke, aku jmpt skrang ya!”
Waktu dua puluh menit sudah cukup untuk menjemput Novi dan menuju lokasi yang kami tuju. Setelah mencari tempat duduk, kami pun sibuk menuliskan pesanan kami pada secarik kertas kecil lalu menyerahkannya pada pelayan. Kami berbincang-bincang sambil menunggu pesanan kami diantarkan. Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya yang pakaiannya terlihat kotor sambil menengadahkan tangan menghampiri meja kami. Aku diam sejenak, lalu menunduk. Sekilas kulihat Novi melakukan hal yang sama. Mungkin karena tidak ada tanda-tanda kami akan memberikan serupiah pun padanya, wanita itu pun memilih menjauh dan menghampiri meja yang dikelilingi beberapa anak laki-laki. Anak-anak tersebut menyerahkan lembaran uang rupiah, tak terlihat jelas nominalnya. Sesaat aku merasa hatiku ditusuk, aku merasa apa yang baru saja kulakukan adalah kesalahan.
Pesanan kami telah tersedia di atas meja kami. Namun, tak ada satu pun yang bersuara maupun bergerak barang memakan es krim yang telah kami pesan. Jengah dengan keheningan, aku pun membuka suara.
“Nov, menurutmu haruskah kita memberi wanita tadi uang? Ya, memang kita diajarkan untuk berbagi. Apalagi aku pernah mendengar kalau di dalam rezeki yang kita dapat tersimpan rezeki orang lain. Tapi, di zaman sekarang banyak orang yang salah memanfaatkan kedermawanan orang lain. Seperti banyaknya pengemis-pengemis yang jiwa dan raganya masih sehat, masih bisa berusaha mencari sedikit rezeki akan tetapi mereka lebih memilih mengemis. Karena hanya dengan bermodalkan pakaian compang camping, wajah memelas dan menengadahkan tangan saja mereka sudah bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah. Itu membuat aku takut kalau aku memberi mereka sedikit saja rasa syukurku, yang ada malah membuat mereka malas berusaha dan menyuburkan jumlah pengemis.” Ujarku jujur, aku menatap matanya lalu ia membalas tatapanku dengan serius.
“Ya, aku setuju. Maka dari itu, aku pilih-pilih dalam memberikan uang kepada pengemis. Jika ia terlihat masih sehat seperti wanita tadi, aku tidak akan memberinya. Kecuali pengemis itu sudah berusia lanjut atau memiliki ketidaksempurnaan fisik. Tapi, kebanyakan dari mereka masih tetap berusaha menghasilkan uang dari keringat mereka sendiri. Ah, sudahlah. Itu es krim milikmu sudah mencair.” Aku tersenyum mendengar jawabannya. Ternyata kami memiliki pemikiran yang sama.
Setelah itu, kami menikmati es krim sambil berbincang-bincang tentang banyak hal, tidak sedikitpun menyinggung tentang hal yang sempat membuat kami diam merenung. Meskipun begitu, hal itu terus saja mengusik pikiran dan hatiku. Aku berniat akan meminta pendapat guru agama di sekolah dan teman-teman yang lain nantinya.
Aku duduk termenung di kursi panjang yang terletak di depan kelas kami sambil menikmati udara yang masih segar. Tak ada satu pun batang hidung teman-teman sekelasku yang terlihat karena memang aku terlalu pagi berangkat ke sekolah hari ini. Biasanya aku akan merasa bosan karena tidak ada yang bisa diajak berbicara. Tapi, kejadian kemarin masih saja mengusik memoriku. Merayuku untuk segera menemukan pendapat yang menurutku cukup masuk akal.
Akhirnya kedua teman sekelasku datang setelah beberapa waktu aku termenung sendirian. Tanpa menunggu mereka melanjutkan langkah memasuki kelas, aku memanggil mereka untuk duduk di sampingku dan aku pun mulai menanyakan hal yang cukup mengusikku dari kemarin.
“Aku setuju denganmu. Aku juga pernah mendengar ceramah dari seorang Ustadz, beliau mengatakan bahwa kita dilarang memberikan uang kepada pengemis yang terlihat sehat jasmaninya karena akan menyebabkan pengemis tersebut semakin malas untuk bekerja.” Lagi, aku mendengar kalimat persetujuan dari temanku, Ahmad.
“Aku juga. Ya, kalau dipikir-pikir sekarang itu banyak sekali orang yang memanfaatkan hal tersebut dengan seenaknya. Bahkan ada yang mengemis padahal ia memiliki harta yang cukup untuk digunakan modal usaha.” Ujar Nurul
“Kalau menurutku, lebih baik beri saja walau serupiah. Toh, kalaupun kita memberi tidak ada kerugian pada diri kita, selama kita ikhlas. Daripada tidak memberi tapi membuat pengemis tersebut dendam atau marah kepada kita, yang rugi kita sendiri.” Ujar Nurul menambahkan.
“Semua tergantung individunya juga. Jika memang ada rezeki, beri saja. Lalu berdoa semoga uang tersebut menjadi berkah kepada si penerima dan tidak disalahartikan. Ya sudah, aku mau masuk ke kelas dulu.” Ujar Ahmad menutup pembicaraan di antara kami bertiga.
Bel pertanda jam pelajaran di sekolah telah usai berbunyi. Semua murid, termasuk aku berjalan ke luar pagar sekolah menuju rumah masing-masing. Hari ini, aku dan Novi memilih jalan memutar karena ingin mampir di pasar untuk membeli keperluan tugas sekolah. Aku berjalan pelan di samping Novi, masih memikirkan hal yang sama. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk memilih mengikuti saran dari Nurul dan Ahmad. Meski masih mengambang, kupikir alasan mereka cukup rasional.
Sesampai di pasar kami langsung mencari bahan untuk tugas biologi besok. Tiba-tiba pandanganku teralihkan pada seorang bapak yang duduk sambil menunduk di sudut pasar, pakaiannya kotor, tangannya mengangkat sebuah mangkuk kecil pada setiap orang yang lewat di depannya.
“Nov, aku ke sana sebentar, ya” Ucapku pada Novi yang sedang bebicara pada pedagang buah.
“Iya, jangan lama-lama.” Sahutnya
Kemudian aku mengambil selembar uang sepuluh ribu, lalu pelan-pelan mendekati bapak pengemis itu. Setelah jarak kami cukup tertelan oleh langkah-langkahku, terdengar suara pengemis itu.
“Beri aku serupiah saja” ia berucap entah kepada siapa karena kepalanya terus saja menunduk. Lalu aku memasukkan uang sepuluh ribu yang sudah kusiapkan tadi ke dalam mangkuk kecilnya.
“Terima kasih” Ucapnya lalu menangkat kepalanya ketika mengetahui nominal yang mungkin dia rasa cukup banyak itu. Tapi, akulah yang paling terkejut ketika mengenali wajah lelaki paruh baya ini. Terlihat ia juga sangat terkejut melihatku.
“A.. ayah?” Hanya kata itu yang keluar dari mulutku, sedang ia hanya dapat membisu.
Kalau cuaca panas seperti ini memang cocok minum atau makan sesuatu yang dingin. Tapi, segala macam es seperti es jeruk, es kelapa muda, es campur dan minuman lain yang bertemakan es sama sekali tidak menarik minatku saat ini. Kulihat ponselku sambil termenung, terlintaslah ide untuk menghubungi teman sekelasku Novi. Mungkin dia mempunyai saran yang bagus. Kuharap.
“Nov, lg sibuk? Jln yuk” tak menunggu lama, sebuah balasan kuterima.
“Mau jln ke mna panas2 spt ini?”
“Terserah, mnrut kmu ccokny ke mna?” kubalas pertanyaannya dengan pertanyaan.
“ke Ice Cream 98 aj, gmna?” Balasan seperti ini yang ditunggu sedari tadi.
“Oke, aku jmpt skrang ya!”
Waktu dua puluh menit sudah cukup untuk menjemput Novi dan menuju lokasi yang kami tuju. Setelah mencari tempat duduk, kami pun sibuk menuliskan pesanan kami pada secarik kertas kecil lalu menyerahkannya pada pelayan. Kami berbincang-bincang sambil menunggu pesanan kami diantarkan. Tiba-tiba, seorang wanita paruh baya yang pakaiannya terlihat kotor sambil menengadahkan tangan menghampiri meja kami. Aku diam sejenak, lalu menunduk. Sekilas kulihat Novi melakukan hal yang sama. Mungkin karena tidak ada tanda-tanda kami akan memberikan serupiah pun padanya, wanita itu pun memilih menjauh dan menghampiri meja yang dikelilingi beberapa anak laki-laki. Anak-anak tersebut menyerahkan lembaran uang rupiah, tak terlihat jelas nominalnya. Sesaat aku merasa hatiku ditusuk, aku merasa apa yang baru saja kulakukan adalah kesalahan.
Pesanan kami telah tersedia di atas meja kami. Namun, tak ada satu pun yang bersuara maupun bergerak barang memakan es krim yang telah kami pesan. Jengah dengan keheningan, aku pun membuka suara.
“Nov, menurutmu haruskah kita memberi wanita tadi uang? Ya, memang kita diajarkan untuk berbagi. Apalagi aku pernah mendengar kalau di dalam rezeki yang kita dapat tersimpan rezeki orang lain. Tapi, di zaman sekarang banyak orang yang salah memanfaatkan kedermawanan orang lain. Seperti banyaknya pengemis-pengemis yang jiwa dan raganya masih sehat, masih bisa berusaha mencari sedikit rezeki akan tetapi mereka lebih memilih mengemis. Karena hanya dengan bermodalkan pakaian compang camping, wajah memelas dan menengadahkan tangan saja mereka sudah bisa mendapatkan pundi-pundi rupiah. Itu membuat aku takut kalau aku memberi mereka sedikit saja rasa syukurku, yang ada malah membuat mereka malas berusaha dan menyuburkan jumlah pengemis.” Ujarku jujur, aku menatap matanya lalu ia membalas tatapanku dengan serius.
“Ya, aku setuju. Maka dari itu, aku pilih-pilih dalam memberikan uang kepada pengemis. Jika ia terlihat masih sehat seperti wanita tadi, aku tidak akan memberinya. Kecuali pengemis itu sudah berusia lanjut atau memiliki ketidaksempurnaan fisik. Tapi, kebanyakan dari mereka masih tetap berusaha menghasilkan uang dari keringat mereka sendiri. Ah, sudahlah. Itu es krim milikmu sudah mencair.” Aku tersenyum mendengar jawabannya. Ternyata kami memiliki pemikiran yang sama.
Setelah itu, kami menikmati es krim sambil berbincang-bincang tentang banyak hal, tidak sedikitpun menyinggung tentang hal yang sempat membuat kami diam merenung. Meskipun begitu, hal itu terus saja mengusik pikiran dan hatiku. Aku berniat akan meminta pendapat guru agama di sekolah dan teman-teman yang lain nantinya.
Aku duduk termenung di kursi panjang yang terletak di depan kelas kami sambil menikmati udara yang masih segar. Tak ada satu pun batang hidung teman-teman sekelasku yang terlihat karena memang aku terlalu pagi berangkat ke sekolah hari ini. Biasanya aku akan merasa bosan karena tidak ada yang bisa diajak berbicara. Tapi, kejadian kemarin masih saja mengusik memoriku. Merayuku untuk segera menemukan pendapat yang menurutku cukup masuk akal.
Akhirnya kedua teman sekelasku datang setelah beberapa waktu aku termenung sendirian. Tanpa menunggu mereka melanjutkan langkah memasuki kelas, aku memanggil mereka untuk duduk di sampingku dan aku pun mulai menanyakan hal yang cukup mengusikku dari kemarin.
“Aku setuju denganmu. Aku juga pernah mendengar ceramah dari seorang Ustadz, beliau mengatakan bahwa kita dilarang memberikan uang kepada pengemis yang terlihat sehat jasmaninya karena akan menyebabkan pengemis tersebut semakin malas untuk bekerja.” Lagi, aku mendengar kalimat persetujuan dari temanku, Ahmad.
“Aku juga. Ya, kalau dipikir-pikir sekarang itu banyak sekali orang yang memanfaatkan hal tersebut dengan seenaknya. Bahkan ada yang mengemis padahal ia memiliki harta yang cukup untuk digunakan modal usaha.” Ujar Nurul
“Kalau menurutku, lebih baik beri saja walau serupiah. Toh, kalaupun kita memberi tidak ada kerugian pada diri kita, selama kita ikhlas. Daripada tidak memberi tapi membuat pengemis tersebut dendam atau marah kepada kita, yang rugi kita sendiri.” Ujar Nurul menambahkan.
“Semua tergantung individunya juga. Jika memang ada rezeki, beri saja. Lalu berdoa semoga uang tersebut menjadi berkah kepada si penerima dan tidak disalahartikan. Ya sudah, aku mau masuk ke kelas dulu.” Ujar Ahmad menutup pembicaraan di antara kami bertiga.
Bel pertanda jam pelajaran di sekolah telah usai berbunyi. Semua murid, termasuk aku berjalan ke luar pagar sekolah menuju rumah masing-masing. Hari ini, aku dan Novi memilih jalan memutar karena ingin mampir di pasar untuk membeli keperluan tugas sekolah. Aku berjalan pelan di samping Novi, masih memikirkan hal yang sama. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk memilih mengikuti saran dari Nurul dan Ahmad. Meski masih mengambang, kupikir alasan mereka cukup rasional.
Sesampai di pasar kami langsung mencari bahan untuk tugas biologi besok. Tiba-tiba pandanganku teralihkan pada seorang bapak yang duduk sambil menunduk di sudut pasar, pakaiannya kotor, tangannya mengangkat sebuah mangkuk kecil pada setiap orang yang lewat di depannya.
“Nov, aku ke sana sebentar, ya” Ucapku pada Novi yang sedang bebicara pada pedagang buah.
“Iya, jangan lama-lama.” Sahutnya
Kemudian aku mengambil selembar uang sepuluh ribu, lalu pelan-pelan mendekati bapak pengemis itu. Setelah jarak kami cukup tertelan oleh langkah-langkahku, terdengar suara pengemis itu.
“Beri aku serupiah saja” ia berucap entah kepada siapa karena kepalanya terus saja menunduk. Lalu aku memasukkan uang sepuluh ribu yang sudah kusiapkan tadi ke dalam mangkuk kecilnya.
“Terima kasih” Ucapnya lalu menangkat kepalanya ketika mengetahui nominal yang mungkin dia rasa cukup banyak itu. Tapi, akulah yang paling terkejut ketika mengenali wajah lelaki paruh baya ini. Terlihat ia juga sangat terkejut melihatku.
“A.. ayah?” Hanya kata itu yang keluar dari mulutku, sedang ia hanya dapat membisu.
Langganan:
Postingan (Atom)